Untung ada Prabowo…

Orang Jawa itu terkenal mudah bersyukur. Kecil kemungkinan orang Jawa tulen menjadi kafir (sejauh pengertiannya ialah pribadi yang tak tahu terima kasih dan syukur). Bahkan meskipun banyak dari mereka tak tahu bahasa Latin, orang Jawa pun menghayati apa yang diistilahkan dalam tradisi kristiani sebagai felix culpa (kesalahan/kejatuhan/dosa yang membahagiakan). Selain itu, kiranya tak banyak orang Jawa yang mempelajari pemikiran politikus Inggris John Milton, tetapi malah sungguh menghayati bagaimana orang tahu yang baik justru karena ada yang jahat.

Buktinya apa?
Lihatlah bagaimana orang Jawa bereaksi jika mereka mendapat celaka: untung cuma memar, untung cuma kesleo, untung dompetnya cuma berisi duit 300 ribu, untung baru 2 tahun menikah, untung belum terlanjur rugi milyaran, untung hanya motor yang rusak. Tentu masih ada banyak untung lainnya, termasuk yang relevan untuk skala nasional saat ini: untunglah ada Prabowo!

Seorang kontributor Kompasiana secara cerdas menulis satir untuk Prabowo (lihat di sini) yang kalau dijawakan kurang lebih berbunyi: untunglah ada Prabowo sehingga kubu-kubu Kurawa dan Pandawa dalam pewayangan itu jadi nyata dalam pertarungan politik di Indonesia!

Bagaimana analogi dua kubu capres dengan kubu Pandawa-Kurawa bisa dibenarkan? Indonesia jelas bukan kerajaan yang bisa dipadankan dengan negri Astina yang galau karena konflik kekuasaan antara Pandawa dan Kurawa. Prabowo bukan anak kandung SBY dari Ibu Negara dan Jokowi pun bukan anak kandung SBY dari selir.  Mosok iya cuma karena Pandawa jumlahnya lima dan Kurawa jumlahnya seratus lantas Prabowo dan kroninya diidentikkan dengan Kurawa dan Jokowi dkk dianggap sebagai Pandawa? Pastinya gak masuk akal.

Yang bikin masuk akal ialah nilai dominan yang ditampilkan secara autentik oleh kedua kubu. Tentu pada kubu Prabowo ada nilai baik yang diidealkan (meskipun ketulusannya masih bisa diperdebatkan), dan sebaliknya pada kubu Jokowi ada nilai negatif atau kemunafikan yang diusung oleh pendukungnya. Akan tetapi, sebagai suatu koalisi, kubu-kubu ini memiliki nilai dominan yang diperjuangkan yang punya konflik dengan nilai dominan kubu lainnya. Nilai dominan ini sayangnya tak bisa sembarang diklaim oleh masing-masing kubu.

Ada paradoks bahwa orang suci justru tak pernah merasa diri suci, apalagi mengklaim diri suci secara publik. Dengan kata lain, orang sungguh-sungguh suci sampai ia sadar bahwa dirinya suci. Artinya, begitu ia merasa dirinya suci (atau baik), runtuhlah kesuciannya. Pada saat orang mengklaim bahwa dirinya rendah hati, saat itulah kerendahan hatinya luluh.

Sebaliknya, ketika orang sombong mengakui dirinya sebagai orang sombong, di situlah ia justru menunjukkan kerendahan hatinya. Klaim jenis ini mengandaikan ketulusan tingkat tinggi. Orang bisa saja mengklaim dirinya memang sombong, tetapi klaim itu bisa jadi hanyalah taktik untuk menaikkan mutu, bukan wujud transformasi batin yang tulus. Maka, pengakuan dosa, pengakuan bahwa diri orang itu jahat hanya mungkin terjadi pada orang baik. Orang jahat, karena tidak tulus, tak bisa membuat pengakuan bahwa dirinya jahat. Begitu ia sadar diri sebagai orang jahat, ketulusan itu mentransformasi dirinya sebagai orang baik.

Ketulusan akhirnya toh mesti dilihat secara objektif, secara struktural, terlepas dari klaim masing-masing kubu. Sebagaimana dalam wayang kulit, tak mungkin kerendahan hati dan kebaikan digambarkan dengan wajah mendongak dan mata yang ‘meriah’. Kesederhanaan tak mungkin ditampilkan dengan aneka asesoris yang ‘wah’ dan mahal pada tubuh orang.

Meskipun demikian, dalam kondisi politik, rakyat biasa bisa jadi dibingungkan oleh klaim-klaim para petarung sebagaimana pertarungan roh baik dan roh jahat juga bisa membingungkan orang. Roh jahat bisa menyamar sebagai sosok baik, tetapi roh baik tidak akan menyamar sebagai sosok jahat.

Pasca pilpres ini, sejauh semua pihak dengan lapang dada menerima real count dan tidak mencoba memanipulasinya, topeng sebenarnya yang perlu dibongkar bukan lagi topeng Jokowi-JK atau Prabowo-Hatta. Klaim dua kubu ini bisa membingungkan dan memanipulasi orang yang kurang berpendidikan (sehingga termakan propaganda) atau yang hatinya naif.

Saya sepakat, bahwa proses politik Indonesia mutakhir menantang presiden sebagai kepala negara dan pimpinan tertinggi militer. Ini bukan lagi soal Jokowi vs Prabowo, ini soal apakah presiden sekarang ini memihak kepentingan bangsa atau hendak melanggengkan kuasanya. Kalau ia memihak kepentingan bangsa, ia pasti netral dan sudah semestinya mampu mengamankan hasil pilpres yang seturut quick count RRI saja sudah jelas siapa pemenangnya (kalau orang masih mau menyangkal quick count, itu pertanda ia tak terbuka pada ilmu pengetahuan alias picik, dan tidak ada kebenaran yang lahir dari kepicikan). Kalau ia hendak melanggengkan kuasanya, ia bisa memainkan citranya pasca 22 Juli dengan aneka skenario sesuai dengan konsultannya.

Untunglah ada Prabowo…
Ia memicu tingkat respon masyarakat dari segala lapisan. Ada yang memanfaatkan uang dari kubunya, ada yang justru menyumbangkan uang kepada kubu lainnya.

Lebih beruntung lagi kalau Prabowo menunjukkan sifat heroiknya, bukan dengan kuda tunggangannya atau orasinya yang meletup-letup atau sikap infantilnya yang menuntut pihak lain untuk membuat pernyataan seperti yang dibuatnya (dan dengan demikian malah menunjukkan ketidaktulusannya!); sifat heroiknya justru akan dihargai jika ditunjukkan dalam pertobatannya: ambisi kekuasaan bukanlah segala-galanya, uang memang penting tetapi tidak semuanya bisa dibeli dengan uang. Kenapa? Karena cinta bukan barang!

5 replies

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s