Working evil

Celakalah orang-orang yang merancang kedurjanaan dan yang merencanakan kejahatan di tempat tidurnya… (Mi 2,1)

Kalau orang merancang kejahatan bahkan saat ia tidur, kejahatannya sudah merasuk sampai alam bawah sadarnya. Ia tidak lagi sadar bahwa yang direncanakan dan diperbuatnya adalah jahat. Ia menciptakan dunianya sendiri mengenai kebaikan dan kejahatan, dan pada gilirannya ia menganggap kebaikan justru adalah kelemahan. Ia bersemangat sekali mendapatkan apa yang bukan miliknya (seperti Raja Ahab menginginkan kebun anggur Nabot) dengan aneka konspirasi atau persekongkolan.

Gerombolan si jahat ini merencanakan bagaimana mereka bisa melaksanakan kejahatan secara efektif tanpa risiko ketahuan. Inilah working evil. Wujud atau manifestasi working evil ini adalah kekuatan penolakan atau manipulasi terhadap transparansi. Mereka tak akan mau diaudit atau dikontrol. Mereka menyodorkan hasil akhir dan tidak mampu menjelaskan secara komprehensif dari mana hasil itu diperoleh. Pokoknya, yang penting propaganda dengan suara sekencang-kencangnya dan bahkan dengan landasan Kitab Suci!

Persekongkolan seperti inilah yang mengintai sepak terjang Yesus. Menarik, Yesus menghadapi persekongkolan itu secara sederhana: ia menarik diri dari konfrontasi yang frontal. Ia tetap mengupayakan kebaikan, tetapi tidak dalam ranah publik yang satu panggung dengan para ahli Kitab Suci yang sudah silap membangun konsep kebaikannya sendiri. Yesus fokus pada sasarannya untuk mewartakan Kerajaan Allah, bukan untuk memerangi orang-orang Farisi atau ahli Taurat. Maka, ia tidak akan berbantah dan tidak akan berteriak dan orang tidak akan mendengar suara-Nya di jalan-jalan (Mat 12,19).

stop kekerasan
Oleh karena itu, jelas kan, melawan working evil saat ini juga sebaiknya orang waras tidak turun ke jalan pada masa pengumuman pemenang pilpres 2014 (meskipun sudah jelas siapa pemenangnya) melalui quick count maupun kontrol penghitungan suara independen. Menanggalkan atribut pemenang tidak identik dengan ketakutan tetapi merupakan wujud kerendahan hati dan justru akan mengurangi risiko konflik yang tak perlu. Salam lima jari, stop kekerasan!


SABTU BIASA XV
19 Juli 2014

Mi 2,1-5
Mat 12,14-21

1 reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s