Just Do Your Job…

Tetapi Engkau, Penguasa yang kuat, mengadili dengan belas kasihan, dan dengan sangat hati-hati memperlakukan kami. Sebab kalau mau Engkau dapat juga.
Keb 12,18

Sebetulnya kontradiktif juga mengatakan pengadilan dengan belas kasihan. Keadilan punya alat ukur dan parameter yang dipakai tentunya menjadi kesepakatan antara orang-orang yang bersangkutan. Misalnya, jika pembeli membayar sesuai dengan kesepakatan dengan pembeli, entah dengan tawar menawar atau tidak, pembeli ini telah menerapkan keadilan personal; jika suatu bangsa mampu menata negaranya sehingga semua warganya secara struktural memperoleh kesempatan yang relatif sama untuk menafkahi hidup mereka, bangsa itu telah menerapkan keadilan sosial.

Belas kasih dalam arti tertentu melanggar kaidah-kaidah tersebut. Bayangkanlah seorang ayah yang sedemikian marah terhadap anaknya yang nakal setengah mati sedang mengejar anak itu dan akhirnya berhasil mencengkeram tangan anaknya. Sang anak sudah sedemikian takut pada kemarahan ayahnya, tetapi saat itu justru sang ayah memeluknya. Ia tidak jadi memukul atau menjewer anaknya. Padahal, sudah lumrah dipahami suatu mekanisme reward dan punishment: anak yang berbuat baik diberi penghargaan dan yang nakal atau salah diberi hukuman. Ini supaya anak punya orientasi  yang baik. Sang ayah tadi melanggar kaidah keadilan seperti ini, dan seperti itulah mengadili dengan belas kasihan!

Dengan demikian, belas kasih Allah memang mengatasi parameter keadilan manusia karena apa yang adil bagi manusia belum tentu adil bagi Allah. Survival of the fittest tampak jelas bukan desain Allah. Dia justru senantiasa mengukuhkan orang yang jatuh: Roh membantu kita dalam kelemahan kita (Rom 8,26). Tak mengherankan, Yesus mengumpamakan Kerajaan Surga sebagai benih yang baik, sebagai biji sesawi, dan sebagai ragi. Benih yang baik itu memang bisa disusupi lalang perusak yang ditaburkan oleh si jahat (justru karena itulah ‘tugas’ si jahat).

Akan tetapi, di sini poin perumpamaannya, Allah tidak ingin orang menghapus akar kejahatan dengan caranya sendiri. Orang cenderung berpikir si vis pacem para bellum (kalau mau damai, ya bersiap-siaplah perang!). Allah tidak menginginkan kejahatan, tetapi Ia menginginkan manusia lebih mewujudkan benih Kerajaan Surga seperti biji sesawi atau juga ragi: meski tak kelihatan karena kecil atau sedikit, ia punya pengaruh yang besar, lebih besar daripada kejahatan, kecurangan, keculasan, keserakahan, dan sebagainya. Tak perlu memusnahkan yang dianggap jahat dengan bom, dengan kerusuhan massal, dengan kekerasan.

harvest
Tugas umat beriman hanyalah mengaktualkan benih baik, menumbuhkan biji sesawi supaya semakin besar, dan menampakkan pengaruh ragi kepada lingkungan sekelilingnya. Soal ada kekuatan lain yang jahat, yang merusak potensi baik Kerajaan Surga itu, malah baik disadari bagaimana kinerjanya (bdk. pembedaan roh). Tetapi bagaimana melenyapkan kekuatan roh jahat, itu nantilah, bukan urusan orang: itu jatahnya Tuhan kelak. 

Sekarang ini, manusia beriman cukup mencicipi bagaimana belas kasihan Allah dapat diwujudkan lewat tobat dan pengampunan, misalnya.


MINGGU BIASA XVI A
20 Juli 2014

Keb 12,13.16-19
Rm 8,26-27

Mat 13,24-43

1 reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s