Pembedaan Roh

“God turns you from one feeling to another and teaches by means of opposites so that you will have two wings to fly, not one” (The Essential Rumi)

PersimpanganDiscernment of spirits atau pembedaan roh merupakan sebuah tafsir terhadap sesuatu yang disebut oleh St. Ignatius Loyola sebagai gerakan-gerakan jiwa, yang memuat pikiran, imajinasi, emosi, kecenderungan, hasrat, perasaan, ketertarikan atau keengganan. Pembedaan roh melibatkan kepekaan orang terhadap gerakan-gerakan itu, merefleksikannya, memahami dari mana datangnya dan menuntun orang ke mana.

Oleh karena itu, roh yang dimaksud di sini jelas bukan roh-roh sebagaimana kita dengar dari para ‘mistikus’ atau mereka yang konon memiliki indera keenam untuk melihat roh-roh yang gentayangan. Roh dalam discernment di sini adalah aneka gerakan jiwa atau gerakan afektif yang disebutkan tadi. Maka dari itu, pembedaan roh ini juga bisa menjadi kerangka untuk memahami bagaimana Yesus misalnya, dituntun Roh untuk dicobai di padang gurun yang kisahnya dibacakan pada hari Minggu Prapaska I kemarin.

Pada kenyataannya, apa yang dialami Yesus tersebut terjadi juga dalam diri orang-orang lain. Gerakan jiwa bisa menimbulkan pertentangan dalam diri seseorang, yang berakibat pada kebimbangan hati, keraguan, kegalauan, kekhawatiran, ketakutan atau bahkan kehilangan gairah hidup, atau sebaliknya, gairah hidup yang menyala-nyala dan cinta yang meluap-luap. Oleh karena itu, gampangnya, ada dua roh yang perlu dibedakan orang: roh yang menuntun orang pada hilangnya gairah hidup (roh jahat) dan roh yang menuntun orang pada cinta yang berkobar-kobar (roh baik).

Akan tetapi, pergumulan dalam diri seseorang tentu tidak bisa direduksi semata-mata sebagai pergumulan antara roh baik dan roh jahat begitu saja, seolah-olah diri kita itu cuma jadi medan pertempuran atau lapangan sepak bola yang ditempati tim sepak bola jahat melawan tim sepak bola baik. Keadaan diri kita pun (watak, kebiasaan, karakter) ikut berperan dalam pergumulan itu, entah sebagai makanan empuk roh jahat, entah sebagai senjata ampuh untuk roh baik.

Jadi, ada tiga kekuatan dasar yang mempengaruhi pergumulan orang: roh baik, roh jahat, dan karakter orang itu. Meskipun roh jahat itu lihai setengah mati, kalau karakter kita misalnya sabar dan tekun, tentulah roh baik lebih terbantu. Kalau kita kurang kepercayaan diri, minder, misalnya, kita akan lebih cenderung memihak roh jahat yang berupaya membuat hidup kita stagnan, tidak berkembang sebagai pribadi.

Ignatius menyodorkan dua kata kunci yang sungguh harus dipahami kalau orang ingin membedakan roh itu: konsolasi dan desolasi. Kata kunci teknis itu berguna untuk mengukur apakah orang sedang mengambil pilihan yang benar atau tepat, atau tidak.

Selain itu, Ignatius juga mengelompokkan pedoman pembedaan rohnya dalam dua tahap. Tahap pertama adalah tahap yang lebih sederhana daripada tahap kedua, tetapi toh membutuhkan ketelitian dan latihan juga. Di samping itu, Ignatius juga menyampaikan refleksinya mengenai sifat-sifat godaan dan pegangan untuk membuat suatu pilihan yang berguna bagi hidup seseorang.

14 replies

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s