Kudatuli: What Do You Seek in Life?

Hari ini, 18 tahun lalu, terjadi peristiwa berdarah di Jalan Diponegoro, Jakarta, yang dikenal dengan peristiwa Kudatuli (Kerusuhan Dua Puluh Tujuh Juli) atau peristiwa Sabtu Kelabu. Ini konflik internal partai PDI yang diintervensi oleh aparat dan berakhir dengan amuk massa. Peristiwa konflik berdarah seperti ini mengundang tanya: apa sih yang diinginkan dan dicari orang sebegitu ngotot-nya sampai-sampai mesti melanggar HAM?

pdip-desak-penuntasan-kasus-27-juli

Oleh seorang ahli kitab suci dikuaklah suatu makna dari perumpamaan mengenai daya tarik Kerajaan Allah yang sedemikian kuat sehingga yang tampaknya sudah memiliki segala-galanya pun masih bisa menginginkan dan berusaha mendapatkannya. Ini mengingatkan kita pada pertanyaan orang muda kaya yang ingin masuk surga dan telah dipenuhinya semua detil aturan hukum Taurat tetapi belum sepenuhnya yakin bahwa ia telah memperoleh hidup kekal itu. Masih ada hal lain yang perlu dilakukan, yang rupanya tak tertera dalam aturan hukum agama tetapi kebenarannya masuk dalam radar hatinya: menjual segala sesuatu demi orang miskin dan kemudian mengikuti Kristus. Dengan cara itulah orang menemukan Kerajaan Allah.

Tentu itu tidak otomatis berarti orang meloakkan semua harta miliknya dan memberikan hasil loakannya kepada orang miskin sampai ia sungguh bokek dan kemudian luntang-lantung gak jelas mengklaim sedang mengikuti Kristus. Pokoknya ialah dia mengejar ‘harta’ dalam Kristus seperti diindikasikan oleh bacaan pertama hari ini sebagai permohonan Salomo: Oleh karena engkau telah meminta hal yang demikian dan tidak meminta umur panjang atau kekayaan atau nyawa musuhmu, melainkan pengertian untuk memutuskan hukum, maka sesungguhnya Aku melakukan sesuai dengan permintaanmu itu, sesungguhnya Aku memberikan kepadamu hati yang penuh hikmat dan pengertian….(1Raj 3,11-12). 

Orang yang berpeluang memperoleh Kerajaan Allah itu tatapan pokoknya bukan umur panjang atau kekayaan atau malah membunuh yang dianggapnya musuh, melainkan kebijaksanaan untuk membedakan mana yang mesti diubah dan mana yang mesti diterima secara legowo (oalah wooo’ wo’, mbok ya eling). Dalam keterampilan untuk melakukan spiritual discernment inilah senyatanya Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah (Rm 8,28).

Karena itu, Kerajaan Surga bukan lagi objek tak tersentuh yang adanya di dunia lain nun jauh di sana, melainkan bagian kehidupan setiap orang. Mana yang diinginkannya, apa yang dipilihnya, itulah yang menentukan kualitas Kerajaan Surganya: langgeng atau tidak, memuaskan batin atau tidak, membahagiakan atau membutakan, menyehatkan atau bikin semakin tidak waras…


MINGGU BIASA BIASA XVII A/2
27 Juli 2014

1Raj 3,5.7-12
Rm 8,28-30

Mat 13,44-52

1 reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s