Kembali ke fitrah…

Memang menjadi bagian dari identitas besar itu menimbulkan sensasi yang gimanaaa gitu. Andaikanlah orang berada dalam sebuah tim yang memenangi piala dunia dan bersama beberapa supporter menyanyikan lagu kebangsaan mereka, ia merasakan betapa megah dan besar hidup yang tengah dijalaninya. Sensasi itu yang barangkali juga dialami para penganut agama kristen setelah agama itu menjadi agama resmi negara kekaisaran Romawi. Akan tetapi, bukan sensasi macam itu yang diharapkan oleh Isa Almasih.

Pagi ini seorang teman masa kecil menaruh update status yang berbunyi:
Harta paling berharga adalah sabar…
Ibadah paling indah adalah ikhlas…
Identitas paling tinggi adalah iman…
Pekerjaan paling berat adalah memaafkan…
Selamat Hari Raya Idul Fitri..
Mohon maaf lahir & bathin…

Di situ diungkapkan bahwa identitas tertinggi adalah iman, bukan agama. Karena itu, meletakkan pokok identitas pada agama tertentu atau bangga (apalagi sombong) karena agama tertentu, tampaknya tidak sesuai dengan pewartaan Yesus dengan perumpamaannya mengenai Kerajaan Allah. “Kualitas” agama seseorang tidak dilihat dari banyak sedikitnya pengikut, melainkan seberapa jauh agama itu mengantar pemeluknya untuk menjadi alat bagi Allah sendiri untuk menjadi Tuhan di muka bumi ini. Jika tidak demikian, agama itu tak berguna.

Pesan seperti itu disampaikan dalam bacaan pertama sebagai sabuk Yeremia yang lapuk terkena air sungai, yang tidak memiliki daya pengikat lagi. Umat yang tak punya relasi pribadi dengan Tuhan adalah bak ikat pinggang yang lapuk itu: agamanya tidak lagi mengikat manusia dengan fitrahnya, melainkan mencantolkannya pada kemegahan, pada kejayaan ala megaloman, pada hal-hal yang serba grandeur.

Allah memang maha besar, sedemikian besarnya sehingga orang justru jarang menangkapnya dalam kekuatan-kekuatan kecil yang merupakan ragi bagi perubahan, merupakan biji sesawi yang mengayomi banyak makhluk hidup di sekelilingnya. Dalam bahasa Latin kita kenal ungkapan non multa sed multum… katanya berarti tiada gading yang tak retak, tapi itu pasti katanya orang yang tak tahu bahasa Latin, heee…


SENIN BIASA XVII A/2
Hari Raya Idul Fitri 1435H
28 Juli 2014

Yer 13,1-11
Mat 13,31-35

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s