Pasukan Nasi Bungkus

Masih ingat di abad ini, di Indonesia, masih ada orang yang terkena sakit busung lapar? Pernah merasa gregetan karena pembangunan di Indonesia ini tak merata? Pernah mencoba merasakan bagaimana korban lumpur Lapindo mengalami kesusahan akibat ulah kelompok oportunis?
Tak sedikit tanah di negeri kaya raya ini yang jadi mandul, bahkan membahayakan ekosistem karena eksploitasi atau pemanfaatan lahan yang gila-gilaan oleh kelompok orang tertentu.

Bacaan Injil hari ini cenderung dipahami pembacanya sebagai narasi mukjizat penggandaan roti dan ikan, padahal tak ada keterangan bahwa Yesus menggandakan roti dan ikan. Sulit diimajinasikan lima roti dan dua ikan mencukupi kebutuhan makan lima ribu orang, dan orang yang imannya naif senantiasa memakai perisai: Yesus kan Tuhan, jadi bisa melakukan apa pun! Ya wis, mati saja sama Yesus, selesai.

Penulis Injil Yohanes kiranya tak hendak menyajikan peristiwa mukjizat, yang pasti menarik perhatian orang yang sedang cupet, galau, stress, frustrasi. Sebaliknya, ia terkesan mengajak pembacanya untuk memahami apa yang hendak terjadi pada Yesus. Ini bisa dilihat dari konteks waktu peristiwa yang disodorkan Yohanes: menjelang hari Paska Yahudi. Kita ingat, Paska Yahudi mengacu pada keselamatan bangsa Israel dari perbudakan di Mesir, dan perginya Yesus ke seberang danau juga bisa diasosiasikan sebagai gerakan dari situasi di sini ini ke situasi di sana yang digambarkan dengan peristiwa ribuan orang yang bisa makan kenyang dengan modal lima roti dua ikan.

Situasi macam apakah itu?
Peristiwanya sederhana. Lima ribuan orang mengikuti Yesus dan hari sudah mulai gelap, padahal mereka semua kelaparan. Ini bukan soal kelaparan rohani lagi, jadi tak perlu dispiritual-spiritualkan! Mereka sungguh-sungguh kelaparan. Dalam situasi ini, beberapa pemecahan disodorkan tetapi semuanya menemui jalan buntu. Yesus memancing dengan pertanyaan,”Di mana ya membeli makan untuk orang sebanyak ini?” Membeli, hmmm…. barter, jual beli. Ini perkara dari sudut pandang ekonomi. Wajarlah sekarang ini, orang perlu membayar atau menukar sesuatu dengan uang atau barang lain. Tapi untuk orang sebanyak ini? Hukum ekonomi tak jalan. De facto, tatanan ekonomi yang sudah dipikir masak-masak oleh para ahli sampai saat ini pun belum berhasil menghapus ketidakadilan sosial, kemiskinan yang senantiasa hadir di mana-mana.

Andreas melihat kemungkinan lain: ada anak yang punya lima roti dan dua ikan. Ini kiranya relasi dari Andreas dan murid lain yang mendapat bingkisan tanda terima kasih dari orang-orang yang pernah mereka kunjungi. Tapi, ya berapa sih jumlah relasi Andreas dan murid lainnya? Tetap tak memadai untuk lima ribu orang.

Yesus meminta orang banyak itu ‘rebahan’. Entah terjemahan persisnya apa, tetapi tampaknya bukan duduk bersila di padang rumput itu. Barangkali lebih tepat dikatakan mereka bersantai, dalam posisi makan untuk pesta, reclining. Ini mengantisipasi perjamuan Paska yang akan dijalani Yesus dan para muridnya. Tak mengherankan, bingkisan lima roti dan dua ikan itu diambil Yesus dan ia mengucap syukur atasnya; dan setelah itu, ia memberikan makanan itu kepada mereka.

Bagaimana mereka semua bisa makan kenyang dan masih sisa, bahkan? Bukan lima roti dan dua ikannya yang mengenyangkan mereka tentu saja, melainkan transformasi yang dibuat Yesus: modal kecil yang disyukuri itu memungkinkan mereka semua makan. Konkretnya bagaimana? Entahlah! Bisa jadi pasukan nasi bungkus datang dari desa-desa yang berdekatan, tetapi bisa juga di antara mereka sendiri ada cukup makanan sangu, bisa juga dua-duanya, dilengkapi dengan mukjizat Yesus seperti pernah dilakukan nabi Elia terhadap janda di Sarfat.

Bumi ini memiliki sumber daya yang lebih dari cukup bagi apa yang dibutuhkan manusia. Tata ekonomi tidak menjamin bahwa semua orang mendapatkan apa yang dibutuhkannya. Secara teoretis bisa, tetapi fakta berbicara lain. Sedekah pun sama saja, tidak memecahkan persoalan ketidakadilan sosial. Yesus menggarisbawahi pentingnya orang bersyukur atas apa yang dimilikinya dan membagikannya kepada mereka yang memang membutuhkan, termasuk dirinya sendiri. Tentu diperlukan tatanan supaya mekanisme berbagi itu bisa menjamin pemenuhan kebutuhan semua, tetapi pada dasar tatanan itu mesti ada hati yang transformatif, yang titik tolak pikirannya bukan apa yang dia sendiri butuhkan, melainkan apa yang sungguh dibutuhkan semua orang. Orang pikir mengenai dunia yang lebih luas, berangkat dari kepentingan universal, bukan dari kepentingan egoistik.

Tuhan, berilah aku keluasan pikiran, supaya aku pun mampu menggunakan apa yang kupunya untuk kepentingan semakin banyak orang. Amin.


HARI MINGGU BIASA XVII B/1
26 Juli 2015

2Raj 4,42-44
Ef 4,1-6
Yoh 6,1-15

Hari Minggu Biasa XVII A/2 Tahun 2014

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s