Kecil-kecil Cabe Rawit…

Sampai sekarang saya belum mengakukan dosa saya yang satu ini karena saya sendiri tidak yakin bahwa ini memang dosa. Sewaktu berkotbah di depan anak-anak, saya bertanya kalau-kalau mereka pernah melihat biji sesawi. Tentu saja tidak ada (saya sendiri belum pernah melihatnya). Ketika saya tanya mereka siapa yang mau melihat biji sesawi, berbondong-bondonglah mereka begitu antusiasnya mengerumuni tangan saya dan ketika telapak tangan saya buka, hampir semua dari mereka berkomentar,”Wah, kecil sekali. Hampir tidak kelihatan.” Memang poin itulah yang ingin saya tunjukkan: bahwa biji sesawi itu begitu kecil. Mereka sendiri sampai saat itu belum melihat biji sesawi karena yang mereka lihat pada telapak tangan saya hanyalah setitik noda hitam di sela garis tangan saya, yang saya buat dengan bolpoin sebelum misa dimulai.

Ada sekelompok orang yang hobi membuat berita besar, sensasional dan provokatif. Peristiwa sederhana menjadi sedemikian njelimet di tangan kepentingan orang-orang itu. Ada kelompok lain yang begitu berkobar-kobar dengan ideologi religiusnya untuk mendongkrak jumlah pemeluk agama; seolah-olah dengan semakin banyak pemeluk agama itu, dunia ini menjadi semakin baik. Memang, kualitas berkorelasi dengan kuantitas, tetapi sejauh kuantitas itu merupakan perbesaran kualitas yang dimaksud. Ini ditunjukkan Yesus dengan perumpamaannya mengenai Kerajaan Allah: awalnya kecil, tapi akhirnya begitu besar dan sampai orang tak mengira bahwa yang begitu besar itu awalnya sederhana dan kecil.

Tentu tidak semua yang awalnya kecil dan akhirnya besar begitu saja adalah Kerajaan Allah. Kisah bangsa Israel yang ditinggal Musa untuk ke gunung menjumpai Tuhan berujung dosa besar: mereka membuat idol patung lembu yang terbuat dari kumpulan emas yang mereka punya. Problemnya tidak terletak pada kuantitas, tetapi pada kualitas yang dijunjung untuk membimbing hidup mereka. Memang emas lebih stabil nilainya, tetapi apa mau dikata, ia tak pernah bisa menggantikan makna kehidupan.

Generasi ini mungkin tak begitu percaya pada hal-hal sepele karena matanya terpukau oleh hal-hal besar. Orang dalam kelompok ini begitu mengagung-agungkan etika kepribadian tetapi tidak mengerti bahwa karakter, man behind the gun, adalah jauh lebih penting, dan sayangnya, karakter tak terbangun oleh tukang sulap, karbit, melainkan dari kebiasaan sederhana: jujur, terbuka, berani mengakui kesalahan. Karakter macam ini asalnya bukan dari ambisi besar untuk menaklukkan dunia, melainkan dari keterbukaan orang pada Sabda Allah yang juga berbicara melalui sesama.

Tuhan, berilah aku kebesaran hati untuk setia pada hal-hal sederhana yang muncul karena Sabda-Mu. Amin.


HARI SENIN BIASA XVII B/1
27 Juli 2015

Kel 32,15-24.30-34
Mat 13,31-35

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s