Siapa Bikin Agama?

Tak sedikit orang berpikir bahwa Yesus mendirikan agama Kristen. Ini sesat paham yang bisa bikin orang ngawur membaca teks kitab suci. Teks Injil yang dibacakan hari ini adalah penjelasan Yesus atas perumpamaan ladang gandum yang juga ditumbuhi gulma (Mat 13,24-30 ITB). Sederhana saja: orang menabur benih di ladang dan pada saat ia tidur, musuh datang menaburkan benih lalang. Hambanya terheran-heran, yang ditabur benih baik, tapi kok muncul lalang. Apa mesti dicabuti lalang itu? Orang itu bilang,”Jangan, nanti yang baik malah ikut tercabut juga. Nanti saja pada masa panen akan terlihat jelas.” Yesus memberi klarifikasi bahwa orang yang menabur benih baik itu adalah dirinya, ladang ialah dunia ini, benih baik adalah anak-anak Kerajaan dan lalang anak-anak si jahat, musuh ialah iblis, waktu panen ialah akhir zaman dan hamba tuan itu para malaikat. Pesannya jelas: bahkan malaikat pun tidak diminta tuannya untuk melakukan panen sebelum waktunya. Kenapa? Karena bisa jadi malah salah. Penghakiman terakhir ya biar nanti saja (ini pertanyaan untuk hukuman mati).

Penjelasan ini, oleh orang beragama, apalagi yang fanatik dan fundamentalis, akan diasosiasikan dengan agama (Katolik/Kristen Ltd). Mereka lupa bahwa Yesus tidak mendirikan agama Kristen sehingga bunyinya jadi: Yesus menaburkan agama Kristen dan agama lain menjadi musuh. Wooooaaaah, dari mana asosiasi seperti itu ya?

Perumpamaan itu menunjukkan hal yang juga dimengerti oleh ilmu kejiwaan modern: bahwa dalam hidup ini ada unsur gelap yang tak bisa dijelaskan, bahkan dipahami oleh manusia. Allah menaburkan benih kebaikan, tetapi ada hukum gelap yang masuk. Kapan? Pada saat yang tak terelakkan: saat orang-orang tidur. Lha njuk apa ya orang gak boleh tidur biar yang jahat itu tak berkembang? Tidak dikatakan dalam teks mengenai hal itu.

Jadi, sudahlah, terima saja bahwa memang ada kekuatan gelap yang mengiringi benih baik dalam hidup kita. Tugas kita adalah mengembangkan benih baik itu. Fokus hidup kita letakkan pada benih baik itu. Nanti pada saatnya, akan ketahuan kok mana yang sungguh baik. Memang, biasanya orang tak sabar dengan situasi seperti itu. Maunya yang jahat itu ditumpas saja, seperti di film-film; dan sayangnya, hidup kita ini lebih dari sekadar film. Jalannya cerita kita bangun dari saat ke saat dan diperlukan kesabaran dan kedamaian hati saat fokus pada benih baik itu direcoki oleh lalang kehidupan. Tanpa itu, kekuatan jahat perlahan-lahan menancapkan dominasinya bahkan melalui hal-hal yang sepele: ah, cuma begini aja, gak papa. Ini juga terjadi kalau orang melulu berpikir dalam frame agama dan bukannya dalam kerangka relasi pribadi, relasi batiniah dengan Tuhan (yang memang sih terungkap dalam agama). Yesus, dengan aneka perumpamaannya tentang Kerajaan Allah, justru mengundang orang untuk berpikir dari dalam ke luar: dari iman mendalam yang maujud dalam kata dan tindakan. Bukan sebaliknya: dari agama yang kemudian dirasionalisasi sedemikian rupa untuk membenarkan diri. Ini bertentangan dengan perumpamaan yang dijelaskan hari ini. Juga dalam agama, pasti ada unsur gelapnya, tak perlu orang dibutakan oleh ambisi untuk membela agama mana pun.

Tuhan, berilah aku kekuatan untuk tetap memelihara fokus pada benih baik-Mu di tengah upaya laten si jahat menegakkan kerajaannya. Amin.


HARI SELASA BIASA XVII B/1
28 Juli 2015

Kel 33,7-11;34,5-9.28
Mat 13,36-43

2 replies

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s