MOS nan Tak Berguna

Ini bukan opini tentang MOS dan sejenisnya, melainkan soal ironi hidup yang hadir pada aneka hal lain, ketika orang gagal menemukan benang merah, relasi antara substansi dan forma, antara isi dan kulit. Kita tahu sendirilah, ada saja kegiatan MOS yang mensyaratkan tugas macam-macam, dan akhirnya yang mengerjakan tugas itu malah orang tua siswa; ada saja MOS yang alih-alih merangsang minat belajar siswa, malah menyulut dendam yang dipendam selama setahun. Ironi seperti ini juga hadir pada cara orang memaknai iman dan agamanya.

Kalau saja peristiwa Yesus mampir di tempat Marta dan Maria bisa dianalogikan sebagai MOS untuk pengenalan Tuhan, bisa dikatakan Marta gagal mencapai tujuan MOS. Startnya bagus, ia menerima Yesus di rumahnya, tetapi ia luput mengkaji alasan mengapa ia menerima Yesus di rumahnya. Ah, Romo sotoy… (ya kadang modal romo itu sok tahu aja sih…) Dari mana menilai seperti itu?

Terjemahan Indonesia memang bisa bikin rancu. Di situ dikatakan bahwa Marta ‘sibuk sekali melayani’. Lha, apa salahnya dengan ‘sibuk sekali melayani’? Justru malah bagus dong orang sibuk sekali melayani, apalagi secara cuma-cuma! Oalah, jebulnya frase ‘sibuk sekali melayani’ itu adalah terjemahan dari περιεσπᾶτο (perispato). Wahaha, itu tulisan apa, Romo? Lha saya juga gak tahu tulisan apa, cuma copy paste dari Bibleworks; dan kalau saya tidak luput, kata itu mengandung makna orang terdistraksi, terganggu, dijauhkan dari sesuatu yang semestinya ia kejar.

Kalau begitu, problemnya tidak terletak pada kesibukan Marta untuk mengerjakan ini itu. Artinya, orang tak perlu merasa bersalah untuk sibuk bekerja (justru sebaliknya, orang perlu bekerja untuk ‘memaparkan’ jati dirinya)! Poin pokoknya ialah orang perlu waspada supaya kesibukan kerjanya tidak menjauhkan dia dari tujuan yang semestinya dia kejar dengan kerja itu. Bayangkan, betapa menyedihkan orang tua yang dengan alasan cintanya pada anak lantas bekerja membanting-banting tulang sampai-sampai tatap muka dengan anaknya hanya 1 SKS. Tak cukup dengan itu, supaya makin gayeng, si bapak menggandeng banyak perempuan dan akhirnya beranak banyak. Tak selesai di situ, ia malah cawe-cawe dengan gerombolan si berat untuk meraup harta dengan cara haram. Setelah tua, anak-anaknya semua sibuk bekerja, dan pertemuan dengan si bapak ini ya tetap masih 1 SKS. Lah, bukannya dulu itu banting tulang demi cinta kepada anak ya? Atau demi apa?

Jadi, Yesus pasti tidak menentang kesibukan Marta, tetapi menunjukkan bahaya yang mengintainya: ia luput dari motif kerja yang benar, terdistraksi oleh kekhawatiran dan ambisinya. Ia bahkan meminta Yesus supaya menyuruh Maria membantunya. Lha, menerima Yesus tadi tujuannya apa toh? Bikin performance Marta sukses dan dipuji Yesus? Lah, kok malah narsis?

Kita lirik motif yang direpresentasikan oleh tindakan Maria: Maria ini duduk dekat kaki Yesus dan terus mendengarkan perkataannya. Ini mengingatkan kita pada pertobatan dan kemuridan (bdk. Luk 8,35 misalnya). Relasi cinta tak diukur oleh benda, tetapi oleh kata kerja: mendengarkan Sabda Allah sendiri. Relasi yang diukur oleh benda biasanya korup, demikian pula agama yang hendak membakukan segalanya, ia menjauh dari orientasi. Kalau begitu, terkutuklah orang yang besar kepala hanya karena sudah dibaptis, sudah masuk agama tertentu, sudah ikut kebaktian tertentu, dan lain sebagainya.

Tuhan, bantulah aku supaya aneka pilihan tindakan kerjaku senantiasa muncul semata dari hasrat untuk mencintai-Mu secara tulus. Amin.


PESTA WAJIB ST. MARTA
(Rabu Biasa XVII B/1)
29 Juli 2015

Kel 34,29-35
Luk 10,38-42

Posting Tahun Lalu: Rempong versus Bengong…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s