Seluruh Dunia Setuju Hukuman Mati

Sebagian orang tua Jawa memahami agama sebagai ageman (vokal e seperti pada kata ‘seperti’ yang diucapkan orang Jawa), yaitu pakaian. Ini kiranya gak gitu problematis soalnya memang dari sudut pandang luar, agama hanyalah bungkus identitas seseorang. Yang menentukan kedalaman hidup orang bukan agama, melainkan imannya (yang terungkap dalam agama tertentu). Tanpa iman kepada Allah yang terwujud dalam gerak-gerik hidupnya, agama itu seperti pakaian compang-camping yang lebih mengindikasikannya sebagai pengemis daripada peziarah.

Repotnya, ada juga yang beranggapan bahwa tiap orang boleh memilih pakaian, ageman, yang disukainya, seolah-olah agama itu soal selera. Ini cara pandang dari luar, dari pihak yang tak terlibat dengan agama yang dilihatnya atau diklaimnya: orang menilai buku dari covernya belaka atau puas dengan animasi program presentasi meskipun isinya abal-abal.

Injil hari ini bicara dengan cara pandang dari dalam. Kemarin sudah dibacakan teks “Bukan kamu yang memilih Aku, melainkan Aku yang memilih kamu” (Yoh 15,16). Teks itu bisa dikaitkan dengan ungkapan “Kamu berasal dari bawah, Aku dari atas; kamu dari dunia ini, Aku bukan dari dunia ini” (Yoh 8,23). Kombinasi dua teks itu bisa jadi modal untuk memahami teks hari ini “Aku telah memilih kamu dari dunia ini” sebagai tanggapan kritis terhadap anggapan bahwa orang bisa memilih agama seturut kesukaannya.

Kapasitas orang untuk memilih agama, memilih kebaikan bahkan sudah disusupi oleh kerja Roh sendiri. Artinya, geraknya dari dalam. Itu seperti seorang anak yang melonjak kegirangan melihat ayahnya yang sekian lama tak bertemu. Lonjakan itu tidak berasal dari wajah ayahnya, tetapi dari kerinduan dalam dirinya. Wajah ayahnya hanyalah pemicu kerinduan tadi. Orang yang dipilih Kristus ini (artinya pasti lebih luas dari orang yang beragama ini atau itu) meskipun hidup di dunia, tidak dicabut begitu saja dari dunia ini, tetapi dipertahankan supaya tak termakan kejahatan (Yoh 17,15-16). Orang pilihan ini bisa diberi label ‘dari Allah’ meskipun jelas-jelas hidup sebagai orang duniawi.

Pilihan-pilihan orang ‘dari Allah’ ini dengan sendirinya bertentangan dengan opsi duniawi yang targetnya keuntungan atau cinta diri. Tak mengherankan, dunia membenci pilihan-pilihan orang ‘dari Allah’ ini: mereka berasal dari dunia; sebab itu mereka berbicara tentang hal-hal duniawi dan dunia mendengarkan mereka. Kita berasal dari Allah: barangsiapa mengenal Allah, ia mendengarkan kita; barangsiapa tidak berasal dari Allah, ia tidak mendengarkan kita (bdk 1Yoh 4,5-6). Itu kenapa dunia membenci murid Kristus sebagaimana sebelumnya membenci Kristus terlebih dahulu.

Kontroversi hukuman mati menunjukkan konflik dan demarkasi semacam ini. Mereka yang mengenal Allah menyodorkan alasan fundamental bahwa hidup mati manusia menjadi hak Allah sendiri. Ini adalah alasan yang muncul karena gerak iman, dari dalam ke luar, dari kerinduan akan Allah yang hidup, yang memberi kehidupan. Yang tidak mengenal Allah (meskipun punya label agama) lebih mendengarkan aneka argumentasi yang ujung-ujungnya ialah pembelaan kepentingan dan cinta diri. Cinta diri bagaimana, wong jelas peduli pada korban yang jutaan jumlahnya kok?! Kedengarannya mulia: peduli pada korban, tetapi ironisnya malah kepedulian itu menambah korban (minimal yang dihukum mati itu). Di balik alasan yang terdengar mulia itu, dunia tak mau repot mencari solusi yang lebih manusiawi, yang pantas diberi label ‘dari Allah’. Hukuman mati lebih gampang dan ringkas, maka dunia lebih menyukainya.


SABTU PASKA V
9 Mei 2015

Kis 16,1-10
Yoh 15,18-21

Posting Tahun Lalu: Spiritual Being Having Human Experience

1 reply