Dalam Untung Rugi

Suatu hari Nasruddin meminjam periuk besar dari tetangganya. Seminggu kemudian ia mengembalikan periuk itu sekaligus dua periuk kecil dalam periuk besar itu. Heran tentu saja, tetangga Nasruddin ini, kok pinjam hanya satu periuk besar dan mengembalikannya satu periuk besar dengan dua periuk kecil.
“Periukmu itu sedang hamil sewaktu kupinjam. Dua hari lalu dia melahirkan bayi kembar,” begitu penjelasan Nasruddin
“Oh, aneh sekali ya periuk itu bisa melahirkan bayi kembar. Tapi, baiklah, aku percaya. Kapan saja kau perlu periuk itu, datanglah! Jangan segan-segan.”
Benarlah. Nasruddin datang lagi dan meminjam periuk itu.
Seminggu tak kembali. Dua minggu juga belum kembali. Setelah tiga minggu periuk itu belum dikembalikan, si pemilik menjadi gusar dan ia mendatangi Nasruddin.
Nasruddin sambil terisak-isak berkata,”Oh, terimalah musibah ini dengan ikhlas, Kawanku. Periukmu itu meninggal dunia sehari setelah kubawa dari rumahmu. Tadinya aku mau beritahu kamu, tapi aku takut membuatmu susah.”
Mendengar penjelasan itu tentu saja si pemilik ini menjadi marah besar. “Kau ini beralasan saja! Kembalikan periukku,” katanya, “Kau jangan berlagak bodoh, Nasruddin! Mana ada periuk meninggal dunia?! Kau pikir aku percaya begitu saja?”
Saat tetangganya marah itu, Nasruddin tetap kalem,”Kawanku, aku heran. Kalau kamu percaya periuk bisa melahirkan bayi kembar, kenapa kau tak percaya bahwa periuk juga bisa meninggal dunia?” (Abdul Hadi W.M., Humof Sufi, ulasan ada pada buku ini).

Cinta sejati mengatasi untung rugi, kaya miskin, sehat sakit. Maka suami istri perlu menjaga hati, supaya cinta macam itu tak ikut terkorupsi. Kristus memberi tolok ukur cinta sejati itu: hendaklah kalian saling mengasihi seperti aku mengasihi kalian. Artinya, cinta itu komuniter sifatnya dan dalam kesalingan itu elemen pentingnya ialah sikap kerelaan hati sedemikian rupa sehingga bahkan jika perlu, orang bisa menyerahkan dirinya sampai mati. Itulah yang dibuat Kristus.

Kondisi fisik memang bisa memengaruhi, tetapi orang yang penuh kasih takkan dikendalikan oleh situasi eksternal itu. Sebaliknya, ia mengendalikan keadaan karena dalam dirinya sungguh ada suka cita lantaran kasih itu. Dalam doa, Roh Kudus mampu mengubah hati orang. Kelelahan mungkin tetap terasa, tetapi kegembiraan hati meringankannya untuk berdialog dengan orang-orang yang dikasihinya. Dialog kasih ini bukan untuk kenyamanan diri sendiri, melainkan untuk kepentingan yang lebih luas, seperti tampak pada implementasi dari diskresi yang dibuat dalam Sidang Yerusalem pada bacaan pertama.


JUMAT PASKA V
8 Mei 2015

Kis 15,22-31
Yoh 15,12-17

Posting Tahun Lalu: Receive in Giving

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s