Catatan untuk Seksi Liturgi (1)

Hampir semua perayaan Liturgi selama di Italia saya ikuti dengan gembira hati. Tentu kadang saya jumpai imam yang njelehi kotbahnya, tetapi itu tak mengurangi kegembiraan saya. Satu perayaan yang tak bisa saya nikmati ialah ketika saya menghadiri perayaan Sakramen Krisma di sebuah gereja dekat tempat peristirahatan Paus. Misa dipimpin uskup, yang untuk mengingat namanya pun saya tak berminat. Saya duduk di bangku belakang, tetapi di belakang saya masih ada banyak umat lain yang mengikuti perayaan dengan berdiri, karena tak ada bangku kosong.

Sejak awal misa, Uskup sudah memberi pesan supaya umat mengikuti perayaan dengan khidmat. Saya tak mengerti kenapa itu perlu disampaikan. Memang saya dengar orang-orang berkata-kata lirih, tetapi tidak gaduh, dan mereka tidak sedang menggosip. Rupanya pesan itu ditujukan juga kepada sebagian umat di bangku tengah gereja. Ada seorang ibu yang menyusui anaknya dan mendapat pesan supaya anaknya diam. Tidak hanya itu, anak-anak di situ juga dimintanya tenang. Itu masih bisa saya terima sebagai kebawelan Uskup. Tindakannya masuk akal, meskipun tak perlu sampai begitu (bisa menegurnya setelah perayaan selesai, atau dengan cara yang lebih elegan).

Akan tetapi, saya menjadi sangat tidak nyaman ketika pada saat Doa Syukur Agung ia menyisipkan perintah diam dengan “Ssssssst!” pada mikrofon setelah rumus konsekrasi (Terimalah dan minumlah, dst) selesai dan bahkan di sela-sela doksologi penutup Doa Syukur Agung. Rumusannya jadi: Dengan perantaraan Kristus (patena dan piala diangkat), ssssssssstttttt! (jeda beberapa detik) bersama Dia dan dalam Dia… dst.

Tindakan itu menjijikkan karena di tengah seruan doanya, beliau justru sibuk dengan idealismenya dan mau menunjukkan otoritasnya: kalian harus menuruti kata-kata saya! Eladalah, wong sedang berdoa kok malah ‘menindas’ orang lain. Saya jadi teringat perumpamaan tentang hamba yang jahat (Mat 18,23-35). Relasi dengan tuannya hanya jadi trik formal sehingga relasi dengan sesamanya pun tak berubah, tetap feodal sebagai penindas.

Untuk jadi formal dan feodal tentu tak perlu jadi uskup tanpa nama tadi. Seorang anak bisa berperilaku begitu terhadap orang tuanya (maunya orang tua mengerjakan apa saja yang ia inginkan karena menurutnya itu sudah jadi tanggung jawab orang tua untuk memenuhi keinginan anaknya). Orang tua murid membayar tinggi sekolah dan tak peduli dengan pembinaan karakter anaknya sendiri dan kelak menuntut sekolah jika kedapatan anaknya berperilaku menyimpang. Seorang aktivis lingkungan, seksi liturgi, bisa ngotot bersimbah ludah untuk memaksa pastornya mengikuti teks dari komisi liturgi keuskupan. Sebaliknya, seorang pastor paroki bisa sangat demonstratif menentang komisi liturgi keuskupan dengan melanggar apa saja yang ditentukan komisi itu.

Claudio Acquaviva, seorang jenderal besar ordo Serikat Yesus, pernah menulis ungkapan fortiter in re, suaviter in modo yang juga bisa diambil sebagai sikap dasar umat beriman terhadap pernik-pernik liturgi: tegas kukuh dalam hal pokoknya, lembut dalam cara (penyampaian hal pokok tadi). Apa hal pokoknya? Misteri kehadiran Kristus dalam perayaan. Liturgi hanyalah salah satu, bukan satu-satunya, cara untuk “mengakomodasi” kehadiran Kristus itu. Maka dari itu, sikap dasar orang yang dipercaya untuk menyiapkan liturgi itu ialah keterarahan pada kehadiran Kristus itu. Pertanyaan awalnya bukan apa yang boleh dilakukan dan tidak boleh, melainkan bagaimana kehadiran Kristus itu bisa dialami oleh semua yang terlibat dalam perayaan.

Kalau begitu, pedoman liturgi dari komisi liturgi, misalnya, tentu bisa dipakai tetapi sungguh-sungguh sebagai pedoman, dan bukannya malah dijadikan tolok ukur untuk menghakimi orang lain mana yang benar dan mana yang salah. Dalam kasus uskup tanpa nama tadi, tentu beliau meyakini bahwa liturgi perlu dilakukan secara khidmat. Akan tetapi, khidmat itu perlu dipahami secara elegan, tidak bisa semata-mata diartikan diam atau tidak berisik. Ha kalo gitu aja sih, hape di-silent dah cukup: bacaan, doa, kotbah apa sebodo’ amat, pokoknya rosario qwerty jalan terus!

Liturgi menjadi khidmat jika orang sungguh terlibat dalam misteri sabda maupun perjamuan suci. Ini bukan soal apakah ia berlutut atau berdiri, membungkuk atau menundukkan kepala, melainkan soal membuka kesadaran untuk menghubungkan sabda dengan hidupnya, untuk meneguhkan iman dan membangun niat tobatnya dari perjamuan Ekaristi. Kekhidmatan tak bisa dipaksakan dari luar. Pedoman liturgi hanya mengondisikan, tak pernah bisa mengungkung Roh yang buahnya adalah kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri (Gal 5,22).

Maka dari itu, kalau orang berisik saat misa, soalnya bukan bahwa ia melanggar pedoman liturgi, melainkan bahwa ia tidak memberi ruang pada Roh yang memberi kekuatan untuk jadi sabar (karena kotbahnya njelehi), menguasai diri (untuk tidak membentak misdinar yang keliru memukul gong), dan seterusnya.

2 replies

  1. protesku sola mboseni dan anjelehi itu berbuah “sapaan” kalo ga suka cara kita, pindah saja ke gereja sebelah….. dikirane olehku protes lantaran seneng sembahyang diiringi orkes lan keplok-keplok.

    Like