A Theory of Love

Buku ini adalah penerbitan kembali dari Seks Gadis? Memahami Seks, Membuktikan Cinta (diterbitkan Galang Press pada tahun 2003) dengan revisi di sana-sini sekadar untuk sedikit memperingkas, tetapi ditambahi prolog yang mencuplik ulasan Newsweek mengenai sex-addiction. Aneka problem seksual pada umumnya tidak tertambat pada masalah seks, melainkan masalah relasi: orang yang punya defisit relasi lebih rentan terhadap kecanduan seks.

Latar belakang penulisan buku ini adalah pengalaman pribadi. Sebagai seorang calon pastor Katolik Roma, yang aturan selibatnya belakangan ini digugat oleh puluhan perempuan yang jatuh cinta pada pastornya (dan sebelumnya juga ada gerakan para imam di tempat lain yang mempertanyakan aturan selibat imam), saya menggugat balik pemahaman orang mengenai cinta. Kegalauan saya pada saat itu adalah pertanyaan apakah ada cinta yang membebaskan; dan setelah penulisan buku itu justru saya mengafirmasi bahwa yang namanya cinta pastilah membebaskan.

Sebagai calon imam Katolik itu, saya merasa dibatasi oleh pandangan umat dan saya seringkali protes dalam hati: yang menghayati hidup sebagai calon imam itu ya saya, kok malah yang menentukan kriteria baik-buruknya malah awam? Apa saya mesti menghidupi idealisme awam? Mungkin terkesan arogan, tetapi saya berpikir realistis: kalau dari waktu ke waktu saya berusaha memahami makna selibat, makna kemiskinan, makna ketaatan, apa iya saya mesti tunduk pada pemaknaan awam mengenai selibat, hidup miskin, dan hidup taat (padahal awam tidak mempelajari dan menghayati hidup sebagai kaum selibater dan calon imam)?

Ini bukan persoalan imam-awam saja, melainkan persoalan bagaimana orang memahami misteri cinta itu, yang berlaku juga bagi imam. Saya kira ada pendamping calon imam yang berpikir bahwa kalau calon imam jatuh cinta, apalagi punya pacar, itu indikasi bahwa ia tidak terpanggil menjadi imam! Tahu kenapa? Karena ia tidak mau atau tidak bisa mendampingi calon imam itu dengan perspektif cinta! Saya sendiri tidak punya problem dengan jatuh cinta, tetapi saya memiliki obsesi intelektual untuk memahami cinta yang sungguh-sungguh meluas dan terbuka bagi semua orang.

Buku ini menawarkan pemahaman yang bisa menjadi dasar bagi orang untuk mendeteksi ketulusan cinta: cinta yang dihayatinya sendiri maupun cinta orang lain. Secara spesifik juga disodorkan rambu-rambu penilaian terhadap hubungan antarpribadi: apakah pantas diperhitungkan untuk dilanjutkan sampai jenjang pernikahan, apakah sudah bisa membuat komitmen, apakah masih diperlukan waktu penjajagan. Kerapkali orang terburu-buru menentukan bahwa ia dan pasangannya sungguh saling mencintai dan cinta itu otomatis adalah perkawinan, dan alhasil dalam hitungan beberapa tahun atau bahkan hitungan bulan, perkawinan itu kandas dan melukai bukan hanya dua orang itu, melainkan juga pihak-pihak terkait.

Tanpa pemahaman yang tepat mengenai cinta, orang tersesat di jalan karena mengira bahwa cinta itu semata aliran rasa…dan orang sangat mungkin tertipu oleh indera, termasuk rasa.

6 replies

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s