Raja Jigong Wi

Narasi ini saya modifikasi dari tulisan Zhong Qin berjudul Everyday Chinese 60 Fables and Anecdotes. Terjemahannya ada pada buku A Theory of Love.

Alkisah, Raja Jing Gong, lebih enak dibaca Jigong dengan pelafalan Indonesia, dengan nama panjangnya Jigong Wi, begitu marah besar karena beberapa butir obat rahasianya sampai jatuh dari kotak penyimpanannya sewaktu Raja sedang blusukan ke desa di perbatasan kerajaan. Obat ini sangat berbahaya untuk orang lain  yang tidak tahu dosis pemakaian yang tepat. Raja Jigong ini memang suka blusukan dan sangat cinta rakyat, maka dia langsung mengganjar hukuman pancung pada Mei Zin, si pembuat obat yang ikut blusukan bersamanya. Mei Zin memang sedang apes. Karena menahan tubuh raja yang tergoncang, ia tak bisa memegangi kotak penyimpan obat rahasia itu sewaktu kereta bergoncang keras di jalanan menurun dan berbatu. Akibatnya, puluhan butir obat rahasia itu terlempar keluar, tersebar di antara bebatuan dan rerumputan. Tak semua obat bisa ditemukan.

Mendengar kabar mengejutkan itu si bijak Yanzi mendatangi Raja dan memberikan pertimbangannya sebelum Mei Zin dipancung di depan istana Raja. “Bagaimana pendapatmu, Yanzi, apakah Mei Zin layak dihukum pancung?”
Yanzi mendekat ke arah Mei Zin dan algojo dan berteriak kepada Raja sehingga seluruh rakyat di alun-alun itu pun bisa mendengar keterangan Yanzi.
“Yang Mulia, Raja Jing Gong [kok ngotot pake ‘ng’ sih?], menurut hamba, Mei Zin memang telah melakukan empat kejahatan yang membuat dia layak dihukum pancung!”

Raja Jigong lega bahwa ternyata orang bijak di kerajaannya ini mendukung keputusannya, bahkan ia tak berpikir kesalahan Mei Zin ada empat. Ia cuma melihat bahwa Mei Zin teledor sehingga obat rahasianya tercecer dan itu membahayakan jiwa rakyatnya.
“Kesalahan apa yang kau lihat, Yanzi?” tanya Raja Jigong.
Yanzi menghadap Mei Zin yang berlutut gemetaran, lalu berteriak keras, “Engkau, Mei Zin, bertanggung jawab atas jatuhnya obat rahasia Raja sehingga obat itu tidak lagi rahasia bagi mereka yang menemukannya. Itu kejahatanmu yang pertama.”

Yanzi melanjutkan seruannya,”Kejahatanmu yang kedua ialah engkau hanya punya dua tangan sehingga engkau tak bisa membantu raja sekaligus memegangi kotak obat rahasianya.” Raja Jigong mengernyitkan dahinya. “Ketiga, engkau menyebabkan Raja kita ini membunuh orang hanya karena kereta yang kautumpangi tidak memiliki suspensi handal yang bisa mengatasi goncangan hebat di jalan berbatu yang menurun.” Kernyitan Raja Jigong semakin bertambah, sementara Mei Zin semakin gemetar dan algojo sudah mulai menyiapkan pedangnya.

“Dan kejahatan terbesarmu, Mei Zin, ialah bahwa setelah kepalamu terlepas dari tubuhmu, kerajaan-kerajaan lain akan mengutuk dan menyalahkan Raja kita, menuduh Raja kita tidak mencintai rakyat, tetapi malah mencintai obat rahasianya supaya terlihat gagah perkasa dan pemberani! Engkau sungguh tercela, Mei Zin. Sekarang, paham kenapa engkau layak dihukum pancung?!” Mei Zin sangat ketakutan.

Melihat dan mendengar kata-kata Yanzi itu, Raja Jigong bangkit dari tahtanya dan berteriak, “Tidak, tidak! Mei Zin tidak jadi dihukum mati! Aku keliru!”

Begitulah Raja Jigong Wi, pikirannya terbuka dan malulah ia ternyata lebih mengedepankan image keberanian dan ketegasan di atas segala-galanya, termasuk nyawa manusia. Jigong Wi getu loh! Adanya cuma di cerita.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s