Mari Rekayasa Chemistry

Anak-anak muda sekarang ini akrab dengan ungkapan semacam “Gak dapet chemistry-nya” untuk menggambarkan sebab keretakan relasi, misalnya. Memang, dari bagaimana jutaan sperma dalam sexual intercourse mencari-cari yang namanya ovum sampai bagaimana bau badan seseorang menarik orang lain bisa dijelaskan secara kimiawi. Akan tetapi, relasi antarmanusia tak bisa direduksi dalam persoalan chemistry belaka. Nyatanya ada kawin paksa yang bertahan sampai akhir (entah akhirnya bagaimana, heee….) dan ada juga yang semula chemistry-nya klop njuk runtuh setelah 5 tahun perkawinan. Artinya, ada unsur di luar chemistry yang menentukan langgeng tidaknya suatu relasi. Dengan kata lain, chemistry itu bisa direkayasa. [Apa yang bisa merekayasa chemistry ini?]

Orang-orang Saduki yang melihat bagaimana Yesus lolos dari jebakan kaum Farisi dan kelompok Herodian ikut nimbrung hendak mencobai Yesus. Mereka ini punya pengaruh besar atas struktur politik resmi saat itu. Mereka adalah kelompok mayoritas dari mahkamah Sanhedrin yang sangat menentukan dalam urusan religius. Mereka dikenal sangat kaku dalam hukum. Mereka tak percaya kepada kebangkitan, tetapi juga tak percaya pada adanya malaikat. Lucunya, mereka menjebak Yesus dengan pertanyaan mengenai pokok yang mereka sendiri tak punya kepercayaan, yaitu kebangkitan.

Pertanyaannya masuk akal karena rumusan hukum memang bisa menimbulkan persoalan jika orang percaya pada kebangkitan orang mati: kalau laki-laki mati sebelum memberikan keturunan, perempuannya dikawini lagi oleh adiknya laki-laki (demi menjaga kelangsungan hidup janda itu dan martabat laki-laki yang sudah meninggal itu, bdk. Ul 25,5-10), lalu nanti setelah kebangkitan perempuan itu jadi istri siapa dong?

Tentu saja orang Saduki itu tak bisa mengerti bahwa kebangkitan mengatasi chemistry. Yesus langsung menunjukkan kesesatan dan ketimpangan kepercayaan mereka: kalau sudah bangkit ya chemistry-nya berubah dan hidup seperti malaikat. Dalam tradisi Yahudi dikatakan bahwa malaikat tidak mati, juga tidak makan. Poinnya ialah bahwa Allah adalah Allah orang-orang hidup. Maka, ketika Ia memperkenalkan diri kepada Musa sebagai Allah Abraham, Ishak, dan Yakub, tentulah tiga orang itu sudah melampaui kematian chemistry mereka.

Dengan kata lain, tak perlulah umat beriman mempertuhankan chemistry dan menyerah padanya. Chemistry bisa diatur, bukan dengan pendekatan hukum yang kaku, melainkan dengan roh kehidupan. Bacaan pertama memberikan contohnya: Sara dan Tobit berdoa dan kesembuhan diberikan Allah.


RABU MASA BIASA IX B/1
Peringatan Wajib St. Carolus Lwanga
3 Juni 2015

Tb 3,1-11a.16-17a
Mrk 12,18-27

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s