Untuk Apa Ritual?

Tak ada orang yang bisa jadi guru untuk dirinya sendiri. Dalam kérata basa (bentuk akronim Bahasa Jawa yang memberi pemaknaan kata tertentu), guru berarti digugu (dipercaya) lan ditiru (dan diteladan). Apa jadinya kalau orang menggugu dan meniru dirinya sendiri?
Seorang ahli Taurat yang mendengar orang-orang Farisi dan Saduki mencobai Yesus ikut nimbrung juga, tetapi bisa jadi motifnya sederhana dan tidak didominasi oleh keinginan untuk menjatuhkan Yesus (meskipun dalam kalimat terakhir dikatakan bahwa orang-orang tak berani lagi mengajukan pertanyaan kepada Yesus). Seorang ahli Taurat tentu saja mengenal hukum dengan sangat baik sampai detil-detilnya. Wajarlah ia bertanya kepada diri sendiri mengenai esensi sesuatu yang digumuli seseorang. Bahkan tak perlu jadi ahli hukum untuk tiba pada pertanyaan: apa sih maksud tetek bengek aturan ini semua? Apalagi jika aturan-aturan itu mengekang orang yang bertanya itu: kenapa mesti begini, kenapa mesti begitu!

Kalau begitu, ahli Taurat ini justru menunjukkan kesederhanaannya. Ia cari second opinion dan tidak nggugu karèpé dhéwé (melulu menuruti keinginannya sendiri). Dari ratusan pasal hukum Taurat ini sebetulnya mana sih yang paling utama?

Yesus memilih kutipan dari Kitab Ulangan (6,4-5) dan Yosua (22,5) sebagai hukum pertama dan kutipan dari Kitab Imamat (19,18) sebagai hukum kedua, yang diberi keterangan “jauh lebih utama dari pada semua korban bakaran dan korban sembelihan.” (Mrk 12,33) Artinya, ritual-ritual doa yang sekarang ini terangkum dalam kata Liturgi, meskipun itu merupakan tindak penyembahan kepada Allah yang Maha Esa, perlu diletakkan dalam kerangka cinta kepada sesama dan cinta kepada sesama itu hanya bermakna jika diletakkan dalam lingkup cinta kepada Allah sendiri. Ahli Taurat itu berpikir dalam-dalam dan menegaskan jawaban Yesus. Yesus meneguhkannya: kamu gak jauh dari Kerajaan Surga. Artinya, secara intelektual ia sudah menangkap hukum terutama itu.

Dalam praktiknya, orang menjauh dari Kerajaan Surga ketika membalik prioritas yang disodorkan Yesus: ritual dulu yang bagus (karena ini demi Tuhan! Ah, nyang bener), lalu baru pikir soal cinta kepada sesama, dan terakhir cinta kepada Tuhan. Sosok Romero yang ditembak mati pada saat konsekrasi pun oleh sebagian orang bisa ditafsirkan sebagai bukti bahwa ritual itu jauh lebih penting dari tetek bengek pergumulan hidup manusia.

Penafsir seperti itu lupa bahwa hidup rohani dan sakramental Uskup Romero dijalankannya dalam konteks penegakan keadilan, bukan demi ritualnya sendiri, bukan demi penyucian narsistiknya.

Tuhan, semoga kami semakin jernih melihat tempat Engkau dapat dijumpai. Amin.


KAMIS MASA BIASA IX B/1
4 Juni 2015

Tb 6,10-11;7,1.6.8-13;8,1.5-9a
Mrk 12,28b-34

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s