Keselamatan Tidak Otomatis

Salah satu kontroversi yang dibuat Patch Adams dalam upayanya untuk menjadi dokter ialah pernyataannya bahwa setiap orang bisa menjadi dokter bagi orang lain (yang artinya juga bagi mereka yang mendapat lisensi formal sebagai dokter). Yesus tak punya lisensi sebagai pengajar, tetapi banyak orang tertarik kepada pengajarannya. Terhadap orang seperti ini, sewajarnya mereka yang punya lisensi mengajar lantas waspada, kadangkala curious dalam arti negatif: kok bisa-bisanya tanpa lisensi njuk mengajar, wong untuk dapat lisensi saja begitu banyak energi dan biaya dikeluarkan (apalagi yang mengejar ijazah palsu)!

Hari-hari kemarin disodorkan cerita bagaimana Yesus dicobai dan ternyata ia lolos dari ujian itu, bahkan tampak ia memiliki kebijaksanaan yang lebih matang daripada orang Farisi, Saduki, dan ahli Taurat sekalipun. Orang-orang itu sudah ada dalam posisi menolak Yesus yang rupanya mulai digandrungi banyak orang dan sudah ada rumor bahwa Yesus ini Mesias. Sudah jadi keyakinan umum bahwa Mesias itu berasal dari keturunan Raja Daud. Orang Farisi pun setuju dengan keyakinan itu, tetapi, dalam kerangka film Patch Adams, mereka itu termasuk para dokter yang terperangah terhadap pernyataan Patch Adams bahwa bahkan setiap pasien pun bisa menjadi dokter bagi ‘dokter’-nya. Orang Farisi seakan tidak tahu bahwa Mesias yang berasal dari keturunan Daud itu adalah Tuhannya Daud juga.

Pertanyaan Yesus dalam teks singkat Injil hari ini mengulas persoalan itu: bagaimana mungkin Daud berdoa kepada Tuhan dan Tuhannya itu malah darah dagingnya sendiri?

Sebetulnya Yesus cuma mau mengatakan sifat manusiawi dan ilahi dari Mesias. Artinya, Mesias yang mereka nantikan itu jauh lebih besar daripada yang bisa mereka imajinasikan dengan acuan Raja Daud. Tentu saja, Mesias tidak datang dari sifat turun temurun raja monarki, melainkan dari Sabda Allah sendiri; dan Sabda Allah tak bisa dikungkung dalam aneka struktur duniawi. Itulah repotnya: manusia cenderung hendak membakukan apa saja yang dianggapnya sebagai pewahyuan Allah dan dari sana muncul penghakiman terhadap orang lain, seakan Allah itu tidak mewahyukan Diri-Nya kepada orang lain juga.

Keselamatan tak bisa didasarkan melulu pada unsur genetis, bergantung pada bagaimana unsur genetis itu mengakomodasi Sabda Allah.


Jumat Biasa IX 1/B
Peringatan Wajib St. Bonifasius
5 Juni 2015

Tb 11,5-17
Mrk 12,35-37

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s