Salah Fokus

Think you’re important because you have money? Think again, Pope says.

Di Bait Allah, seorang janda memasukkan dua koin lepta, koin terkecil dan paling tak berharga yang beredar di Palestina, sepadan dengan 1/128 dinar, atau 6 menit upah harian. Mana yang lebih bernilai: koin sepadan dengan 6 menit upah harian (taruhlah Rp125,00) dari janda miskin atau ribuan dollar dari orang-orang kaya? Jelas yang ribuan dollar, bukan? Tak usah ribuan, satu dollar saja sudah berkali-kali lipat besarnya daripada koin janda tadi. Betul, dan para murid Yesus kiranya berpikir demikian: uang banyak dari orang kaya itu lebih berharga dan berguna daripada koin janda miskin itu.

Yesus mencoba menunjukkan fokus yang berbeda. Para murid bisa jadi berpikir bahwa problem masyarakat ini bisa ditangani dengan uang banyak. Asal ada uang banyak, penyakit atau problem masyarakat bisa diatasi (belakangan ini jelas, ‘asal banyak uang’ itu jadi sumber masalah). Lihat misalnya reaksi murid ketika orang banyak kekurangan makan,”Gimana mungkin membeli roti dengan dua ratus dinar untuk sekian ribu orang?” (Bdk Mrk 6,37). Yang dua ratus dinar saja tak berguna banyak, apalagi yang cuma 125 rupiah tadi! Yesus punya kriteria berbeda mengenai nilai uang persembahan. Ia menarik perhatian para murid dan mengajar mereka bagaimana dan di mana mencari perwujudan kehendak Allah.

Praktik derma atau zakat memang sangat penting bagi bangsa Yahudi. Sedekah dianggap sebagai pekerjaan baik seturut Kitab Ulangan 15,11 misalnya (Haruslah engkau membuka tangan lebar-lebar bagi saudaramu, yang tertindas dan yang miskin di negerimu). Sedekah yang diberikan di Bait Allah, entah untuk dana sosial maupun untuk kepentingan maintenance gedung dan ritual, dimaknai sebagai wujud syukur kepada Allah.

Memberi sedekah saat itu menjadi suatu cara untuk mengakui bahwa semua barang ini berasal dari Allah sendiri dan umat beriman ‘hanyalah’ operator barang-barang itu supaya semua bisa menikmati hidup berkecukupan. Praktik solidaritas ini juga diteruskan oleh jemaat Kristen:  Sebab tidak ada seorangpun yang berkekurangan di antara mereka; karena semua orang yang mempunyai tanah atau rumah, menjual kepunyaannya itu, dan hasil penjualan itu mereka bawa dan mereka letakkan di depan kaki rasul-rasul (Kis 4,34-35). Dan semua orang yang telah menjadi percaya tetap bersatu, dan segala kepunyaan mereka adalah kepunyaan bersama, dan selalu ada dari mereka yang menjual harta miliknya, lalu membagi-bagikannya kepada semua orang sesuai dengan keperluan masing-masing. (Kis 2,44-45)

Fokus pada jumlah uang bisa menjadi hambatan bagi solidaritas. Ini berlaku untuk orang kaya maupun orang miskin. Yang kaya menggampangkan segala sesuatu dengan uang. Ia sendiri tak berbuat apa-apa dari dirinya. Yang miskin mempersulit segala sesuatu juga dengan uang: menuntut fasilitas dulu, dan tidak berbuat apa-apa sebelum ada fasilitas. Janda miskin hari ini memberi kesaksian yang berbeda: kamu bisa berbagi sesuatu bahkan dari kekurangan.


SABTU MASA BIASA IX B/1
5 Juni 2015

Tb 12,1.5-15.20
Mrk 12,38-44

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s