Awas Takhayul

Pernah mengangan-angankan hosti yang diangkat imam saat konsekrasi mengeluarkan sinar atau energi tertentu dan memberi kekuatan supranatural? Saya pernah seperti itu, sewaktu masih kecil (kira-kira satu meter)! Itu mengapa saya ikut menyembah-nyembah saat hosti dan piala diangkat imam saat konsekrasi. Hosti dan anggur itu pasti jadi punya kekuatan magic, jadi mesti hormat pada mereka. Akan tetapi, setelah tinggi saya mendekati satu koma tujuh meter, saya berubah cara pandang.

Sewaktu Yesus mengadakan perjamuan, pasti tak ada misdinar yang mendupai roti dan piala. Para murid kiranya tetap dalam posisi tidur miring (simbol kebebasan yang diadopsi oleh orang Yahudi saat itu) sewaktu Yesus mengucapkan ‘kata-kata institusi’-nya, bukan berlutut menyembah roti dan piala itu! Roti dan piala itu dihunjukkan Yesus bukan untuk disembah-sembah, melainkan untuk dibagikan dan dimakan, saat itu juga, bukan untuk persediaan esok hari.

Yesus tahu saat kematiannya sudah mendekat. Ini perpisahan dan Yesus menginginkan proyek Allah tetap berlangsung setelah ia ditangkap dan dibunuh. Ia mengambil roti, yang dalam kultur semitik jadi simbol atas apa yang diperlukan untuk bisa hidup secara penuh. Ia juga mengambil anggur, yang sebetulnya fakultatif karena roti tadi sudah cukup, tetapi dengan anggur lantas kepenuhan hidup orang disertai kegembiraan juga. Ini simbolik: orang tidak hanya lapar dan haus karena kurang roti dan anggur untuk perut, tetapi juga karena kurang cinta, perhatian, kesehatan, pemahaman, pengampunan, keadilan dan sebagainya.

Bagaimana kelaparan jenis itu bisa dipuaskan? Dengan roti dan anggur yang dibagi-bagikan. Gimana sih konkretnya? Yesus mengambil roti dan mengucap berkat. Nah, mengucap berkat inilah yang bisa disalahpahami. Orang bisa mengira ucapan berkat itu ditujukan kepada roti sehingga seakan-akan roti itu diisi berkat kekuatan Allah sendiri dan dengan itu orang bisa melakukan hal-hal ajaib. Yesus mengucap berkat bukan kepada rotinya, melainkan kepada Allah yang telah memberikan roti itu! Loh, kok malah memberkati Allah sih?

Memberkati Allah berarti mengakui bahwa apa saja yang dibutuhkan untuk hidup ini datangnya dari Allah. Manusia bukanlah bos besar semesta ini. Semua yang ada di semesta ini semata karunia Allah, dicipta Allah seturut proyek keselamatan-Nya. Roti dan anggur yang dipilih Yesus merepresentasikan energi kehidupan dan jerih payah manusia (untuk bikin roti dan anggur itu prosesnya melibatkan aneka macam sumber energi: tanah, udara, air, api, dll). Wajarlah ia mengingatkan kita bahwa semuanya ini berasal dari Allah dan kita manusia ini hanyalah instrumen dari proses penciptaan-Nya.

Apa yang dibuat Yesus dengan roti dan anggur itu? Ia membagi-bagikannya kepada para murid sambil berkata,”Inilah tubuhku” dan “Inilah darahku”. Apa maksudnya tubuh? Pasti Yesus yang bisa diberi atribut ‘orang gila‘ itu ngerti dan sadar bahwa yang dipegangnya adalah roti. Kenapa dia bilang itu tubuhnya (dasar wong sableng)?!

Sewaktu Yesus mengatakannya, ia menggunakan Bahasa Semitik. Dalam kultur semitik, tubuh tidak pertama-tama mengacu pada wujud fisik, materi tulang-daging-jantung-otak dll, melainkan seluruh kepribadian orang. Yesus berkata,”Inilah aku.” Roti yang dipegang Yesus itu ya roti. Lha kok malah bilang “Inilah aku”? Justru itulah: bukan roti itu berubah menjadi tubuh Yesus, melainkan seluruh hidup Yesus direpresentasikan dalam roti itu! Kita ingat, jika biji gandum tak mati, ia tak menghasilkan buah. Itulah Yesus yang mati. Kita ingat bagaimana Yesus membagi-bagikan roti juga kepada orang banyak. Roti itu memberi kehidupan dan itulah representasi Yesus yang memberi kehidupan. Maka, perintah “Terimalah dan makanlah” tidak bisa diartikan dengan tafsiran anak satu meter tadi: kita akan makan tubuh yang bisa bikin kebal, bikin sembuh, yang menyelesaikan segala persoalan hidupku tanpa repot-repot menghadapinya, dan sejenisnya.

Umat beriman mesti menerima dan makan Tubuh Kristus itu dalam arti seperti proses asimilasi dalam tumbuhan: menyerap hidup Kristus (yang terepresentasikan dalam roti) dan membuahkan sesuatu seturut hidupnya sendiri. Dengan kata lain, menjadikan Kristus itu hadir dalam hidup konkret manusia. Ini juga berlaku pada anggur yang menyimbolkan darah (yang dalam kultur semitik juga berarti sumber kehidupan). Maka dari itu, menerima Tubuh dan Darah Kristus hanya bisa dibuat dalam iman bahwa hidup konkret manusia ini mesti diasimilasikan dengan hidup Kristus sendiri. Ini bukan soal magis-magisan bahwa roti dan anggur itu berubah menjadi daging dan darah Yesus! Jika kita masih menafsirkan kehadiran Kristus seperti itu, ada bahaya kita jatuh dalam praktik takhayul.

Loh, bukankah memang dalam konsekrasi itu ada proses transubstansiasi? Justru itu: umat beriman mengamini bahwa dalam konsekrasi itu ia tak bisa lagi memandang hosti sebagai roti gandum biasa. Inilah Yesus Kristus yang hadir dalam sejarah manusia dan kita ingin sejarah hidup kita dijiwai oleh Yesus Kristus itu. Apa ini bukan ideologi belaka? Bukan, sejauh umat beriman hidup dari Sabda Allah, yaitu Yesus Kristus sendiri. Menjadi ideologi belaka ketika orang datang dalam Ekaristi dan tidak mendengarkan Sabda Allah dan setelah Ekaristi pun tak peduli pada Sabda Allah. Pada diri orang seperti ini, Tubuh dan Darah Kristus jadi takhayul.


HARI RAYA TUBUH DAN DARAH KRISTUS B/1
7 Juni 2015

Kel 24,3-8
Ibr 9,11-15
Mrk 14,12-16.22-26

Posting Tahun Lalu: Tubuh Kristus kok Dimakan

6 replies

    • Sdri/Bu Iin yang baik, Allah bisa saja membuat peristiwa ekstraordinari untuk meneguhkan iman, tetapi umat beriman dewasa takkan menggantungkan imannya pada peristiwa ekstraordinari itu. Saya kesulitan menjelaskan perubahan hosti jadi daging, tetapi ini tak bertentangan dengan apa yang saya paparkan bahwa umat beriman tak bisa lagi memahami hosti itu sebagai roti gandum belaka. Substansi hosti yang dikonsakrir itu menjadi Tubuh Kristus sendiri, tetapi wujudnya tetaplah roti gandum (bayangkanlah H2O yang yang bisa berwujud air, uap, atau balok es. Tiga wujud itu secara teknis filosofis disebut aksidens: substansinya tetaplah H2O). Kalau wujud itu ikut berubah menjadi daging, kan malah memperteguh substansi Tubuh Kristus; kalau tidak, substansinya tetaplah Tubuh Kristus (bagi orang yang percaya tentu saja).
      Tetapi, pokoknya, sebagai umat beriman, kita tidak mengumbar mukjizat-mukjizat untuk kita sembah. Justru karena kita beriman, perubahan roti-anggur jadi Tubuh-Darah Kristus itu semakin nyata kalau kita sendiri hidup menurut Sabda Allah yang direpresentasikan dalam diri Yesus Kristus sendiri selama hidup di dunia ini. Semoga semakin meneguhkan iman Sdri/Ibu Iin. Salam,

      Like

  1. Pernahkah Anda mengangan-angankan dalam suatu perayaan Ekaristi, hosti yang diangkat imam itu mengeluarkan sinar atau energi tertentu dan memberi kekuatan supranatural kepada Anda?
    duh…jarang bgt mo.seringnya malah berangan-angan seandainya saya sendiri yg mengkonsekrasikan hosti dan anggurnya.pasti keren…*salah fokus* hihihihi

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s