Life is Beautiful

Everything has beauty but not everyone sees it. Begitu kira-kira kata Confucius. Saya cenderung mengganti klausa terakhir dengan ‘not everyone wants to see it’. Kata beauty ini segera mengingatkan saya pada delapan sabda bahagia yang dibacakan hari ini dan pada adegan dari film La vita è bella yang terwakili dengan capture berikut ini:la vita e bellaGuido, tokoh utama film ini tertangkap tentara Nazi dan dalam todongan senjata itu ia berlagak seolah sedang latihan berbaris. Ia tahu persis bahwa akhir hidupnya mendekat, tetapi sebelum ditembak mati, ia menunjukkan adegan ini kepada Joshua yang bersembunyi di balik kotak pos dan Joshua pun tertawa melihat pemandangan ini. Joshua belum mengenal tragedi, dan Guido memberinya gambaran bahwa biar bagaimanapun pahitnya hidup ini, life is beautiful.

Kepada orang-orang seperti Guido inilah Sabda Bahagia Yesus mengena. Sabda Bahagia tidak ditujukan pertama-tama kepada para biarawan/wati yang menghayati roh kemiskinan, atau kepada pemilik Lamborghini yang tetap happy, tak merasa perlu stress karena mobilnya kena tilang, atau kepada orang-orang lain yang memiliki keutamaan rohani sedemikian rupa sehingga hidupnya tak dikacaukan oleh hiruk pikuk kehidupan duniawi ini.

Sabda Bahagia benar-benar tertuju kepada mereka yang secara objektif mengalami tragedi kehidupan (siapa sih yang terbebas dari tragedi hidup?): kedukaan, kemiskinan, penganiayaan, perang. Ujung tragedi ini adalah kematian dan tak seorang pun sanggup melawan hal ini, tetapi Sabda Bahagia memberi harapan bahwa dalam tragedi itu orang bahkan masih bisa memberi makna yang juga bermanfaat bagi sesama.

Ya Tuhan, bantulah aku untuk melihat keindahan hidup dalam setiap tragedi kehidupanku. Semoga aku tidak terkungkung dalam cinta diri yang melemahkan aku untuk menerima kenyataan hidup. Yesus Kristus, berilah kejernihan budi dan kelembutan hati supaya aku dapat memaknai aneka kesusahan hidup sebagai bagian untuk memuji-Mu. Amin.


SENIN MASA BIASA X B/1
8 Juni 2015

2Kor 1,1-7
Mat 5,1-12

Posting Tahun Lalu: Ciri Orang Terberkati

2 replies

  1. Pingback: A Pathway to God

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s