Urip Selo

Senin rujakan, Selasa lotisan, Rebo mules-mules, Kemis lara weteng, Jumat neng rumah sakit, Sabtu bali mulih, Minggu istirahat, Senin rujakan maneh, Selasa lotisan, Rebo mules-mules, Kemis lara weteng, Jumat neng rumah sakit, Sabtu bali mulih, Minggu istirahat, Urip kok selo… Lirik lagu ini tentu ekstrem, tetapi begitulah urip selo: ekstrem, seolah-olah hidup ini cuma mengalir seturut kesenangan inderawinya.

Ungkapan ‘hidup mengalir’ bisa bermakna (1) urip selo tanpa orientasi atau (2) hidup menurut gerakan Roh. Hidup menurut Roh, tak perlu dibahas di sini, hanya bermasalah bagi mereka yang keras hati atau yang ‘berkacamata kuda’. Urip selo alias hidup luang adalah indikator bahwa orang tak punya kesadaran akan tanggung jawab dalam hidupnya, baik bagi dirinya sendiri maupun bagi orang lain (apalagi bagi Tuhan). Ini persoalan yang tersirat dalam pernyataan yang disampaikan Yesus kepada murid-muridnya setelah wacana mengenai Sabda Bahagia kemarin. Tentu murid-muridnya saat itu belum memenuhi kriteria orang yang menghidupi Sabda Bahagia. Meskipun begitu, Yesus seolah mengatakan,”Aku gak punya siapa-siapa lagi selain kalian untuk mewartakan Kabar Gembira. Jadi, kalau perilaku kalian itu hambar tanpa nyawa, bagaimana orang mau percaya pada Kabar Gembira?”

Sudah sejak agak lama disadari bahwa di Eropa ditampilkan ironi kekristenan tanpa Kristus, agama tanpa iman, kultus-ritual tanpa perayaan, struktur tanpa relasi alias keseragaman tanpa roh (yang penting masing-masing orang menjalankan tugas atau perannya: persis seperti grup marching band atau pasukan baris berbaris). Konsili Vatikan II pun tampaknya tak sungguh-sungguh berhasil mengoreksi praktik formalisme dalam hidup beragama. Sudah begitu, muncul pula kelompok fundamentalis, juga di luar Eropa, yang hendak mengembalikan praktik hidup menggereja pada masa pra Konsili Vatikan II, memisahkan kerohanian dari pergumulan hidup konkret manusia. Lha kok urip selo banget bisa sibuk dengan aneka praktik ritual sementara pergumulan hidup konkret manusia justru membutuhkan terang dan garam?!

Tuhan, berilah aku rasa tanggung jawab sehingga hari-hari kuisi dengan aneka hal yang mencerminkan kemuliaan-Mu dalam setiap pergumulan hidupku.


SELASA MASA BIASA X B/1
9 Juni 2015

2Kor 1,18-22
Mat 5,13-16

Posting Tahun Lalu: Jangan Jadi Garam Dunia!

3 replies

    • Halo Pak Satrio, memang, uripe romo seti itu selo banget KALO dia ng(u)rusi [atau nrusuhi?] ritual Gereja, tapi sepertinya itu bukan tugas pokok yang dia terima. Anyway, saya duga pertanyaannya muncul dari kalimat ini ya “Lha kok urip selo banget bisa sibuk dengan aneka praktik ritual sementara pergumulan hidup konkret manusia justru membutuhkan terang dan garam?!”. Mohon Pak Satrio tidak fragmentaris dalam membaca atau mencuplik, nanti bisa jatuh dalam fundamentalisme. Kalimat itu mau mengatakan bahwa urusan ritual itu bisa membuat orang selo jika tak terhubung dengan perbumulan hidup konkret manusia. Piye jal kalau romonya ngedap-edapi ngurusi liturgi sampai2 main bentak sana-sini, ancam sana-sini sehingga misalnya umat malah takut untuk berdoa. Ini contoh kecil ritual yang tak sambung dengan pergumulan hidup konkret manusia. Salam.

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s