Jangan Jadi Garam Dunia!

Kata-kata janda Sarfat menarik perhatian: sekarang aku sedang mengumpulkan dua tiga potong kayu api, kemudian aku mau pulang dan mengolahnya bagiku dan bagi anakku, dan setelah kami memakannya, maka kami akan mati. Ini adalah pernyataan yang menunjukkan betapa janda itu ada dalam kemiskinan yang memuncak di tengah situasi kekeringan dan kelaparan di wilayah itu. Elia diminta Allah untuk menjumpai janda Sarfat itu dan ternyatalah Allah menunjukkan kemuliaan-Nya bahkan melalui kaum lemah dan mungkin hal-hal yang dipandang bodoh oleh dunia. Orang lemah ini justru menunjukkan martabatnya, harga dirinya sebagai medium untuk melangsungkan penyelenggaraan ilahi.

Begitu pula, bacaan Injil bicara soal martabat pengikut Kristus: kamu adalah garam dan terang dunia! Yesus tidak mengatakan supaya para muridnya menjadi garam dan terang dunia (seolah-olah mereka dalam proses ke arah sana), tidak! Mereka adalah garam dan terang dunia! Itulah identitas pengikut Kristus, itulah martabat mereka, itulah harga diri mereka! Dengan kata lain, Yesus mengingatkan para muridnya bahwa mereka itu garam dan terang dunia, maka jangan sampai garam itu menjadi tawar dan terang itu tertutup tempurung yang akhirnya malah mematikannya. Identitas dan harga diri macam ini tidak mengerucut dan sibuk ke dalam diri sendiri, melainkan meluas keluar memberikan lingkaran pengaruh. Tembok yang mengungkung martabat diri itu perlu dihancurkan.

Maka, ini jelas bukan soal proselitisme, bukan soal menambah jumlah anggota jemaat, apalagi memaksa orang masuk dalam kelompok jemaat tertentu. Ini adalah soal memberi kesaksian bahwa kemuliaan Allah tampak dalam aneka ragam cara, bahkan melalui hal yang tampak bodoh sekalipun! Yang penting, sasarannya jelas: supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga! Ini sama sekali bukan pencitraan demi diri sendiri, juga bukan aktualisasi diri untuk mendapat pujian atau prestasi. Untuk kesekian kalinya, ini adalah gerakan roh dari pusat hati keluar diri, itulah spiritualitas!

Bagaimana itu bisa terjadi? Janda dari Sarfat mengindikasikan prinsipnya: mendahulukan janji dan kehendak Allah di atas keinginan atau kepentingannya sendiri.


SELASA BIASA X
10 Juni 2014

1Raj 17,7-16
Mat 5,13-16

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s