This is Called Spirituality

Video yang komplet bisa dilihat dari link ini atau sumbernya, yang sayangnya tak punya subtitle bahasa Indonesia.

Dalam hitungan beberapa hari tayangan video Sr. Cristina ini mendapat jutaan klik. Saya kira reaksi heboh ini bisa dimaklumi. Ini indikasi bahwa kebanyakan orang memiliki gambaran yang keliru mengenai kerohanian dan kesucian (sehingga begitu melihat kenyataan sebenarnya, orang kaget). Orang pikir yang suci itu adalah yang saleh dan kesalehan itu dilekatkan pada kesucian narcisistik: upaya menyelamatkan diri sendiri dengan aneka bungkus kesucian yang diukur dengan aneka aturan agama, entah itu bentuknya rumusan atau tata cara ibadat.

Sesat paham itu menggiring orang kepada dua ekstrem.

  • Pertama, orang mengira bahwa semakin lama orang berdoa dan beribadat, semakin sucilah ia. Maka, yang suci adalah mereka yang kebanyakan waktunya dihabiskan di seputar altar, gereja, masjid, tempat bertapa dan berdoa.
  • Kedua, (karena ekstrem pertama itu tak terbukti, artinya banyak orang yang ibadatnya lama tapi malah tambah keji terhadap sesama), orang menjadi antipati terhadap aturan yang disodorkan agama. Menurut esktrem ini, daripada waktu habis untuk urusan doa-ibadat, jauh lebih baik bekerja keras untuk membantu orang lain membangun dunia yang baik dan yang penting punya moral yang baik, tak perlu agama dan lain sejenisnya.

Jika mempertimbangkan insight dari cerpen Robohnya Surau Kami, dua ekstrem itu disimbolkan oleh Kakek/Haji Saleh dan Ajo Sidi. Barangkali Ajo Sidi tidak sampai ekstrem, tetapi sekurang-kurangnya bisa ditunjukkan bahwa mereka berat sebelah. Yang satu jauh lebih berat pada doa-ibadat, yang lain jauh lebih mementingkan kerja. Ini dimungkinkan karena orang menganggap doa dan kerja sebagai dua hal yang bisa dipertentangkan. Anggapan ini paling banter membuat juxtaposition. Artinya, ruang-waktu doa dan ruang-waktu kerja diletakkan berhadap-hadapan atau berdampingan satu sama lain.

Konkretnya, jika orang menentukan dalam sehari tidur-makan-minum-mandi-sport-rekreasi 12 jam, perjalanan 4 jam, kerja 8 jam, tentu tak ada lagi waktu doa. Sebaliknya, kalau urusan makan dll tetap 12 jam, perjalanan 4 jam, tetapi orang mau menjalankan ibadat 2 jam, tentulah waktu kerjanya mesti dipotong 2 jam. Itulah yang dilakukan agama: menentukan berapa kali orang beribadat entah dalam sehari atau setahun, berapa kali ke gereja, mengaku dosa, salat, ziarah, dan lain sebagainya. Yang bisa dibuat agama memang ‘hanya’ menyodorkan juxtaposition antara ritual dan aktivitas lainnya.

Sayangnya, juxtaposition itu tak menjamin adanya relasi antara doa dan kerja. Itu seperti halnya dua keluarga yang tinggal bersebelahan. Dua keluarga penghuni dua rumah yang bersebelahan bisa jadi tak saling mengenal. Orang bisa berdoa setiap hari 2 jam, dan bekerja 8 jam, tetapi tidak menemukan hubungan di antara keduanya. Pokoknya, ibadat ya ibadat, kerja ya kerja; tak peduli ada hubungan atau tidak. Orang suci adalah mereka yang menemukan dan menghidupi relasi dalam juxtaposition doa dan kerja. Artinya, mereka sadar betul bahwa dua hal itu tak perlu dihadap-hadapkan.

Agama memang menyodorkan aneka kewajiban tetapi kewajiban itu tak perlu disingkiri atau dihidupi dalam ketakutan yang justru meruntuhkan maksud kewajiban itu sendiri. Perintah agama, yang sebetulnya baik, bisa dinodai oleh penganutnya sendiri, yang menjalankan aturan main agama tanpa kebebasan. Kelompok seperti ini bisa menjadi sedemikian puritan, fanatik, dan absolutis… akhirnya jadi monster bagi orang lain.

Lha kalau tidak dihadapkan pada dua ekstrem itu, njuk gimana dong?

Ya cara berpikirnya perlu diubah, bukan lagi linear. Kalau linear kan mikirnya urut, habis A lalu B, setelah doa lalu makan, lalu kerja, dst… Kalau nonlinear, bisa jadi A dan B dilakukan secara simultan. Loh mana mungkin? Masak orang berdoa sambil kerja atau kerja sambil doa?

Nah, justru itulah spiritualitas. Orang beriman semestinya punya spiritualitas. Untuk memahaminya, mungkin bisa dibayangkan bumi yang di lapisan terdalamnya ada api pijar yang membara.

Earth layersSeperti struktur bumi, setiap orang memiliki pijar api energi dalam dirinya. Itulah yang oleh Gerald G. May disebut sebagai desire. Api ini terus menerus mencari perwujudannya dan bergantung bagaimana orang menyalurkannya, akan terlihat spiritualitas seseorang. Spiritualitas adalah penyaluran api dalam diri orang itu.

Jika doa dan kerja adalah saluran nyala api, orang tak perlu lagi dipusingkan dengan berapa jam ia harus berdoa dan berapa jam ia harus bekerja. Spiritualitas yang baik memberi keseimbangan dan ukuran keseimbangan itu tidak lagi ditentukan oleh juxtaposition tadi, melainkan seberapa jauh orang terkoneksi dengan sumber apinya. Jadi, tak ada gunanya 24 jam sehari berdoa hanya karena terpaksa memberi kesan suci. Tak ada faedahnya pula 24 jam kerja banting-banting tulang jika hati dikuasai kekhawatiran dan ketakutan.

Hubungan doa dan kerja justru terletak pada bagaimana orang connect dengan sumber nyala api energi dalam dirinya. Maka dari itu, doa orang suci tidaklah mengurangi waktu kerja normalnya, melainkan memberi kualitas pada kerjanya. Sebaliknya, kerja orang suci tidak meniadakan doanya, tetapi justru menyempurnakan, mengutuhkan, mewujudkan doanya.

Bagaimana caranya?

Dengan kesadaran: bahwa seluruh kerja di dunia ini semata untuk kemuliaan Tuhan di dunia. Karena itu, kerja pun semaksimal mungkin dilakukan dengan aneka perhitungan manusiawi tetapi dalam sikap rendah hati bahwa Allah juga bekerja… Kesadaran yang dipelihara dari doa persembahan harian pagi mungkin menjadi bantuan yang baik bagi setiap orang untuk membuat sinkronisasi antara doa dan kerja.

Nyala api desire Suster Cristina tertangkap oleh orang lain. Ini indikasi bahwa rohnya sungguh hidup (energia pazzesca, energi yang ‘gila’). Bergantung bagaimana ia punya keseimbangan dengan hidup doanya, barangkali ia juga memiliki kerohanian yang sehat. Ini jauh lebih besar daripada pikiran naif bahwa kesucian dan kerohanian adalah pertama-tama soal berapa kali ke gereja, berapa lama berdoa, berapa banyak adorasi, dan semacamnya.

Maka, jika orang bereaksi negatif terhadap apa yang dibuat Suster Cristina ini sebagai penodaan kesucian, ia perlu memeriksa diri jangan-jangan ia memiliki pikiran naif mengenai spiritualitas. Ada sekelompok orang yang kesan spontannya terkait dengan Sister Act sewaktu melihat Sr. Cristin. Tapi ini jelas bukan film. Jauh hari sebelum menonton suster berpakaian seragam kesusteran menyanyi pop ini, saya pernah bermain sepak bola dengan suster-suster yang berpakaian seragam kesusteran juga. Dan mereka bukan hanya sekadar lari sana-sini, mereka tahu teknik dan taktik. Tetapi yang penting bagi saya, dengan olah raga itu mereka menunjukkan gairah hidup yang luar biasa; tidak hanya dalam sport, tapi juga dalam aktivitas mereka bermain musik dan berdoa. What a spirituality!

13 replies

  1. Pingback: A Pathway to God

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s