Merdeka brow!

Hari ini disodorkan jebakan lain terhadap Yesus: boleh bayar pajak ke pemerintahan Romawi gak? Pertanyaan ini mesti dijawab di hadapan orang-orang Farisi yang menolak membayar pajak (dengan alasan teologis) dan di hadapan pendukung Herodes. Kedua kelompok ini sebetulnya sama-sama melawan penindasan kekaisaran Romawi, tetapi pendukung Herodes pro terhadap pembayaran pajak persis karena ingin pemerintahan yang lepas dari kekaisaran. Farisi anti pajak, pendukung Herodes pro pajak.

Yesus menanggapi jebakan ini lagi-lagi dengan mengesampingkan pendekatan juxtaposing terhadap agama dan pemerintahan. Memang, memperlawankan agama dan pemerintahan sipil bisa memunculkan dilema yang sebenarnya tak perlu dipupuk. Benarlah Surat Pertama Petrus menegaskan supaya kita tunduk kepada hukum sipil karena atau demi Allah! Sikap seperti ini pun bahkan perlu diterapkan terhadap agama sendiri: orang mesti taat pada hukum agama, bukan demi agamanya sendiri, melainkan demi relasinya dengan Allah! Hanya jika hukum sipil dan agama itu kontradiktif dengan relasi manusia dengan Tuhan, hukum itu perlu ditinjau lagi dan tak bisa dipaksakan.

Barangkali boleh dipakai analogi tubuh fisik manusia sendiri. Hidup ini adalah anugerah, tetapi juga sekaligus tugas; maka tak bolehlah orang lalai dengan tubuhnya sendiri. Tubuh punya hukum yang kepadanya kita mesti tunduk dan jika tidak, kita justru mengabaikan kewajiban pemeliharaan hidup sebagai tugas pewartaan kasih Allah. Makan, misalnya, di satu sisi ya orang menerimanya sebagai berkat, bisa makan; tetapi di lain sisi, makan itu pun juga tugas. Kalau orang tidak makan dan malah sakit, sakitnya ini menghambat tugas yang dipercayakan kepadanya, dan itu berarti tidak amanah dong

Repotnya, orang mesti tahu dalam batas mana makan itu sekaligus berkat dan tugas; tapi itu tidak berarti ada dilema, bukan? Orang tetap perlu tunduk pada hukum fisik, tetapi tak perlu lebay. Karena itu, orang perlu merdeka dari aneka niat jahat untuk menyalahgunakan hukum agama maupun sipil.

Semoga Tuhan memberkati bangsa ini, memerdekakan orang-orangnya supaya ketaatan kepada Allah sungguh-sungguh merasuk dalam tata kelola fisik negara juga. Maklum, barisan sakit hati bisa merusak tatanan yang dengan tulus disodorkan demi kepentingan bangsa! Amin.


MINGGU BIASA XX A
Hari Kemerdekaan Republik Indonesia
17 Agustus 2014

Sir 10,1-8
1Ptr 2,13-17
Mat 22,15-21

2 replies

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s