Pernah jatuh cinta gak sih?

Injil hari ini menuturkan seorang pemuda kaya yang tampaknya ingin mencapai kesempurnaan dan memperoleh hidup kekal. Akan tetapi, kesempurnaan dan hidup kekal itu dipahaminya sebagai hasil atau akibat dari pemenuhan syarat-syarat legal atau aturan atau hukum tertentu. Pada kenyataannya, ia sudah memenuhi seluruh aturan yang disodorkan kepadanya, tetapi toh ia belum yakin dengan kesempurnaan dan hidup abadi yang diidam-idamkannya.

Yesus menyodorkan sudut pandang yang menuntut kualitas berbeda dari apa yang dipahami oleh pemuda kaya itu. Jikalau engkau hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku. Apa reaksi pemuda itu? Ketika orang muda itu mendengar perkataan itu, pergilah ia dengan sedih, sebab banyak hartanya.

Syarat itu tampak begitu berat baginya karena hartanya sudah se’abrek! Untuk orang seperti ini tidak mungkinlah orang yang bergelimangan harta begitu saja pergi menjadi pertapa atau menjadi biarawan! Ia sendiri tak punya ide mengenai hal itu. Kenapa? Persis karena ia melihat kemiskinan sebagai syarat kesempurnaan atau hidup kekal itu: ia harus menghilangkan semua kepemilikannya!

Bagaimana kalau kita ubah sudut pandang terhadap kemiskinan itu: bukan syarat, melainkan akibat! Akibat apa? Akibat cinta kepada Allah. Tampaknya, jika sudut pandang ini yang dipegang, syarat itu tak lagi menjadi mission impossible! Pemuda kaya itu berat meninggalkan segala-galanya karena ia tak punya cinta kepada Allah, cinta kepada Kristus. Ah, terlalu suci, Romo! Tampaknya begitu, tetapi masih bisa kita dapati pegawai pemerintahan yang bahkan tidak mengambil gajinya untuk dirinya sendiri. Ini adalah aplikasi sederhana dari orang yang sungguh punya kecintaan kepada Allah.

Cinta kepada Allah pun bisa dianalogikan dengan cinta kepada orang lain: segala perbuatan susah dan berat menjadi ringan dan membahagiakan karena cinta. Segala gerutu dan berat hati dalam penghayatan kerohanian berasal dari kurangnya cinta kepada Allah.

Tuhan, asal segala cinta, aku mencintai Engkau lebih dari segala sesuatu dan dengan segenap hati, sebab Engkau mahabaik dan pantas dicintai. Karena cintaku pada-Mu maka aku pun mencintai sesamaku, seperti aku mencintai diriku sendiri. Tuhan, kobarkanlah selalu cintaku.


SENIN BIASA XX A/2
18 Agustus 2014

Yeh 24,15-24
Mat 19,16-22

4 replies

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s