Jangan lupa bernafas

Nasihat Injil hari ini tampak begitu berat: orang mesti berjaga-jaga dari waktu ke waktu justru karena tidak tahu kapan malaikat pencabut nyawa tiba. Orang mesti berbuat baik dari saat ke saat supaya sewaktu-waktu malaikat pencabut nyawa itu tiba, kita kedapatan sedang menaburkan kebaikan. Orang mesti hidup ‘kini dan di sini’ (hic et nunc).

Mengapa berbuat baik dipandang berat? Karena kebaikan dilihat sebagai kewajiban, sebagai perintah, sebagai syarat terhadap keselamatan. Orang sungguh membutuhkan cara pandang yang berbeda supaya hidup baiknya tidak dirasakan sebagai beban berat. Cara pandang yang demikian ini tak lain adalah cara pandang cinta.

Dalam cinta, tak ada tindakan yang dianggap sebagai beban. Tindakan itu mengalir dari dalam, bukan dari perintah dan aturan yang ditetapkan oleh orang lain. Maka dari itu, cinta bersyarat selalu menjerumuskan orang dan pasti menjadi beban: kalau kamu cinta aku, kamu harus mau tunduk pada keinginanku. Keinginan ini menjadi beban bagi orang lain. Orang lain jadi gak enak jika tidak bisa memenuhi keinginan orang yang dicintainya. Ironisnya, itu justru bukan cinta.

Loh, tapi kan Injil sendiri menunjukkan bahwa Yesus menyodorkan cinta bersyarat: kamulah sahabatku, jika kamu melakukan perintahku! Nah, itu cinta bersyarat, bukan?

Hmm…tampaknya iya, tapi coba lihat apa perintahnya: supaya kamu saling mengasihi!

Perintah Yesus bukan perintah narcisistik supaya orang mencintainya, melainkan supaya orang saling mencinta dan tidak ada orang terpaksa mencinta. Itu sebenarnya mirip dengan mengatakan bahwa Anda saya beri hidup asalkan Anda jangan lupa bernafas!

Tindakan yang lahir karena perintah dan aturan baru akan mendapatkan maknanya jika cinta terlibat di situ. Cintalah yang memberi kerangka makna. Bacaan pertama menegaskan kelegaan orang karena rahmat Tuhan sendiri, karena kebebasan yang diterima dari Allah yang membebaskannya dari diskriminasi. Orang yang mengalami kelegaaan seperti ini akan bertindak dari dalam, dari cintanya, dan tidak akan merasakan beratnya ‘berjaga-jaga’ sepanjang waktu.


RABU BIASA XXIX
22 Oktober 2014

Ef 3,2-12
Luk 12,39-48

4 replies

  1. “Bacaan pertama menegaskan kelegaan orang karena rahmat Tuhan sendiri, karena kebebasan yang diterima dari Allah yang membebaskannya dari ‘diskriminasi’.” Apa yang dimaksud dengan ‘diskriminasi’ di sini, Mo? udah dibaca bacaan pertamanya, nggak nemu indikasi diskriminasi… Suwun.

    Like

    • Ayat 5 Nge: dulu cuma orang Yahudi yang dianggap punya privilese, sekarang ini karena berita Injil, privilese itu diperluas, tadi lagi cuma utk bangsa Yahudi… Itu diskriminasi yang kumaksud… Nuwun komennya, jangan lupa bernafas…

      Like

  2. cinta bersyarat dan cinta tak bersyarat..sama-sama benar ketika ditempatkan pada porsi SARANA untuk sampai pada TUJUAN (Manusia diciptakan untuk memuji, menghormati, serta mengabdi Allah, Tuhan kita, dan dengan itu menyelamatkan jiwanya)

    Like

    • betul brow tetapi kita tidak berhenti pada detachment (melihatnya sama-sama sebagai sarana)… mesti ada pilihan magis: cinta tak bersyarat lebih kondusif untuk AMDG daripada yang bersyarat.

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s