Doa Aja Ribut… Gak Capek, Brow?

Di manakah orang Jakarta bisa menemukan kedamaian, ketenangan hati? Di puncak? Cisarua? Cipanas? Cikanyere? Lembang? Sukabumi? Biara? Gereja? Kapel adorasi? Masjid? Pura? Pangandaran? Anyer? Di situ, orang menemukan ketenangan tempat, yang gak selalu sinkron dengan kedamaian dan ketenangan hati.

Lha ya jelas: namanya ketenangan hati, ya adanya di hati dong. Biarpun orang ada di tempat paling sunyi, jika hatinya galau, ya takkan ada ketenangan dan kedamaian hati. Tidak hanya itu, bahkan meskipun secara fisik orang sehat walafiat, ia bisa juga mengalami keletihan atau kelelahan yang hebat. Barangkali betul bahwa keletihan/kelelahan itu pertama-tama adalah suatu kenyataan rohani lebih daripada kenyataan fisik.

Maka dari itu, ajakan “Datanglah kepada-Ku semua yang letih lesu dan berbeban berat!” pastilah bukan ajakan terutama kepada para buruh pelabuhan atau kuli angkut yang pekerjaannya melelahkan! Ini adalah soal hidup mereka yang dicengkam dan ribut karena aneka aturan dan hukum dalam hidup rohani atau hidup batin mereka. Ini adalah panggilan untuk mereka yang hidupnya digondheli atau dibebani oleh ketakutan akan masa depan dan aneka kelekatan hidup yang gak realistis lagi alias lebay; bagi orang-orang muda yang energinya mbleret, redup, loyo, disorientasi dan sejenisnya.

Ajakan ini juga berlaku bagi orang tua yang penghayatan imannya masih belum beranjak dari sikap legalistik. Orang seperti ini akan ketat dan teliti pada aneka macam praktik hidup rohani, bukan karena relasi pribadinya dengan Allah, melainkan karena mengedepankan kesempurnaan pelaksanaan hukum, seolah-olah hukum itu berlaku mutlak lintas ruang waktu. Ini juga bisa menular kepada orang mudanya yang ribut dengan aneka macam cara doa (a.k.a. agama) tapi tak pernah sungguh-sungguh mau menekuni satu cara doa (alias agama) dengan peluang dan tantangannya sendiri, maunya instant, sekali jadi. Haiya melelahkan, Brow!

Yesus tidak mencela hukum Musa, tetapi dia mengerti bahwa banyak orang lelah karena hukum Musa menjadi beban. Kenapa hukum Musa (sebagaimana hukum lainnya) jadi beban? Karena basic attitude orang terhadap hukum itu tadi: legalistik. Hanya jika orang berangkat dari cinta yang mengalir dari Allah, aneka macam hukum takkan membebani hidupnya. Ia seperti rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; ia berlari dan tidak menjadi lesu, ia berjalan dan tidak menjadi lelah…


RABU ADVEN II
10 Desember 2014

Yes 40,25-31
Mat 11,28-30

2 replies

    • Halo mas Iqbal, saya sudah beberapa kali visit tapi mungkin karena platformnya beda ya saya tidak bisa follow sebagai reader… adanya path, twitter dll… Kiranya kalau platformnya wordpress saya bisa follow.
      Terima kasih

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s