Keras ke Dalam, Lembut ke Luar

Ada suatu kekerasan negatif, yang brutal, bawaan dalam hati manusia. Kekerasan inilah yang merenggut nyawa Yohanes Pembaptis dan para nabi lainnya, yang menyertai rasa cemburu dan arogansi seseorang, yang mewarnai berita-berita kriminal di media. Kekerasan ini juga yang mewarnai aneka peristiwa ‘sepele’ lainnya: klakson berkali-kali lantaran tak sabar atau caci maki terhadap orang lain yang bikin macet, entah lewat mulut atau lewat Path dan medsos lainnya. Hal-hal kecil ini bahkan mungkin tak dianggap orang sebagai kekerasan, dan tak perlu bertobat karenanya.

Akan tetapi, ada juga kekerasan positif yang pantas dipupuk secara wajar dalam diri orang, yaitu kekerasan terhadap diri sendiri: terhadap kemalasan mental, terhadap penolakan untuk bertobat, dan terhadap kelemahan atau kerapuhan sendiri. Manusia adalah makhluk in the making, yang tidak otomatis berkembang sejalan dengan perkembangan waktu. Mesti ada ketegasan, kekerasan terhadap kerapuhan yang menghambat perkembangan itu. So, kekerasan yang wajar diperlukan demi perkembangan diri sendiri.

Gym barangkali bisa jadi metafora yang baik bagi kehidupan. Hidup ini laksana gym. Mungkin ada yang datang ke gym untuk merancang kekerasan terhadap orang lain, tetapi ia salah alamat. Kalau tujuannya begitu, mestinya ia pergi ke sasana tinju. Gym pertama-tama menerapkan kekerasan terhadap diri sendiri, bukan untuk merusak, melainkan untuk membangun hidup seseorang. Ada disiplin yang perlu diterapkan dan disiplin ini pun adalah bentuk kekerasan, bukan untuk orang lain, melainkan bagi diri sendiri.

Keras ke dalam dan lembut ke luar ini jika digeser ke wilayah penghayatan agama juga akan sangat elegan. Umat beriman seperti ini akan radikal tanpa jatuh ke fanatisme sempit agama. Orang beragama seperti ini akan sangat toleran tanpa kehilangan prinsip imannya. Pribadi seperti ini takkan pernah memaksakan keyakinannya kepada orang lain. Kalaupun ada ‘misi’ atau ‘dakwah’ dalam dirinya, hal itu akan ditunjukkan dalam pilihan-pilihan dan tindakan-tindakannya…bukan omdo’.

Sebaliknya, orang fanatik atau fundamentalis adalah mereka yang menghidupi semangat lunak ke dalam dan keras ke luar. Ia sudah merasa nyaman dengan kebenarannya sendiri, tak mau bersusah-susah mengasahnya, dan memaksakan kebenarannya itu kepada orang-orang di sekelilingnya. Ini seperti orang pergi ke gym supaya ditakuti orang, yang tak lain adalah proyeksi ketakutannya sendiri terhadap hidup.

Semoga semakin banyak umat beragama (beriman!) yang dibebaskan dari aneka ketakutan, termasuk ketakutan untuk masuk neraka!


KAMIS ADVEN II
11 Desember 2014

Yes 41,13-20
Mat 11,11-15

2 replies

    • haiya jelas boleh dong… malah kudu! Justru karena tindakan kita itu punya konsekuensi sosial, kekerasan thd diri sendiri jadi testimoni bagi yg lainnya; bukan malah keras terhadap orang lain… yg kuat justru tidak boleh menindas yg lemah (repotnya, byk org dapet kekuatan karena org lain lemah thd diri sendiri, hahaha… contohnya, orang konsumtif jadi mainan empuk pencipta trend)

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s