Analisis Struktural Cerpen Robohnya Surau Kami

Cerpen Robohnya Surau Kami merupakan cerita berbingkai yang menyodorkan dua tokoh protagonis: Kakek dan Haji Saleh. Kakek adalah seorang garin, penjaga surau, yang disindir oleh Ajo Sidi dengan cerita mengenai Haji Saleh, yang gagal masuk surga karena dinilai egois. Dipicu oleh sindiran Ajo Sidi, Kakek bunuh diri dengan menggorok lehernya.

Oleh karena itu, segmentasi teks bisa dilakukan berdasarkan dua tokoh protagonis ini. Bagan struktural untuk kedua tokoh ini bisa digambarkan secara longgar (baca: tidak sangat teliti) begini:

Analisis Struktural KakekAnalisis Struktural Haji SalehBaik Kakek maupun Haji Saleh memiliki ‘kontrak’ dengan Tuhan yang menjanjikan keselamatan surgawi kalau mereka menjalankan apa yang diridai-Nya. Gerak teks menunjukkan arah negatif. Artinya, mereka gagal memperoleh rida Allah tersebut.

Nah, sesudah itu, sebetulnya perlu diteliti aneka oposisi biner dalam teks: rida Allah vs kutuk, saleh vs durhaka, ibadat vs kerja, wadat/selibat vs kawin, dan sebagainya. Oposisi-oposisi biner itu perlu diurutkan secara kualitatif mana yang dibawa oleh subjek dalam mengejar objeknya. Dalam kisah tampak jelas bahwa yang paling dominan adalah oposisi ibadat vs kerja, yang ditunjukkan dalam dialog antara gerombolan Haji Saleh dan Tuhan/Malaikat. Oposisi ini juga bisa dilihat dari kualitas yang disodorkan sosok yang bisa menjadi antisubjek bagi Kakek, yaitu Ajo Sidi. Cerpen menutup kisah dengan Ajo Sidi yang bekerja. Alih-alih melayat (yang menjadi bagian ibadat), Ajo Sidi pergi kerja.

Apakah oposisi ibadat vs kerja ini paling kuat? Tidak, karena oposisi itu ada dalam konteks yang lebih luas: saleh vs durhaka demi mendapat rida Allah atau menghindari kutuk. Logikanya begini. Ajo Sidi adalah antisubjek yang mengkritik Kakek dengan cerita Haji Saleh. Jika menilik kompetensi Ajo Sidi (yang membuat warga memanggil pemimpin mereka sebagai pemimpin katak karena ceritanya tentang katak), Kakek dalam teropong Ajo Sidi adalah (Haji) Saleh. Nilai itulah yang dibawa Kakek. Maka, dunia teks Robohnya Surau Kami bisa dirumuskan sebagai dunia kesalehan yang diridai Allah. Akan tetapi, karena gerak teks menunjukkan bahwa Kakek gagal mendapatkan rida Allah, dunia teksnya lebih tepat dirumuskan sebagai dunia kesalehan yang tidak diridai Allah.

Di sini dapat dipahami adanya perbedaan antara inti cerita dan dunia teks. Dunia teks lebih luas daripada isi cerita atau pesan moral yang buru-buru ditangkap orang. Inti ceritanya sederhana sekali: Kakek penjaga surau yang bunuh diri setelah disindir Ajo Sidi. Akan tetapi, dunia teksnya bukanlah soal baper-baperan antara Kakek dan Ajo Sidi. Dunia yang disodorkan Robohnya Surau Kami melampaui wacana moralistik macam begitu, bahkan mungkin tak terpikirkan oleh A.A. Navis sendiri. Dunia teks biasanya ditemukan pada pertemuan poros pencarian dengan poros komunikasi. Kesalehan adalah kualitas yang dibawa subjek (Kakek dan Haji Saleh) untuk mendapatkan rida Allah. Ternyata, kesalehan mereka tidak mendapat rida Allah! So, ini soal dunia kesalehan yang tak diridai Allah.

Mengapa tidak mendapat rida Allah? Pertanyaan ini bisa menjadi bantuan untuk menguraikan dunia teks lebih panjang sedikit (dengan mempertimbangkan poros kekuatan, yaitu faktor pendukung dan penghalang) dan merumuskan makna semantik dari cerpen A.A. Navis ini. Ini bukan lagi soal pesan moral cerpen (ampun deh…apa gak bosan sih orang dicekoki pesan moral melulu… ya kalau yang berpesan itu moralnya oke, kalau munafik? hehe….), ini adalah soal deep meaning.

Perumusannya bisa dibuat dengan melanjutkan pertanyaan terhadap dunia teks tadi: seperti apakah dunia kesalehan yang tak diridai Allah itu? Bagaimana, kapan, di mana, karena apa, dan sebagainya, bisa dilontarkan. Misalnya dijawab begini:

  1. Dunia kesalehan yang praktik ibadahnya disertai ketakutan (masuk neraka). Ini uraian dunia teks dengan melihat poros kekuatan.
  2. Dunia kesalehan yang sifatnya egosentrik, alih-alih altruistik atau sosial. Ini berdasarkan elemen receiver-nya persis plek dengan subjek pencari. Ini bisa disebut kesucian narcisistik.
  3. Dunia kesalehan yang mementingkan janji surga daripada kerja konkret bagi kemanusiaan yang tercabik-cabik. Ini berdasarkan dialog subjek (Saleh) dan sender.

Tentu masih bisa dirumuskan makna dalam lainnya, tetapi jika makna itu mau diklaim sebagai makna yang didapat dari teks Robohnya Surau Kami, ia tidak bisa terlepas dari dunia kesucian/kesalehan yang tidak diridai Allah itu.

Ini adalah jasa analisis struktural dalam suatu penafsiran atau hermeneutika: mengungkap dunia teks yang terkuak oleh karya sastra.

Meskipun begitu, dunia teks itu tentu masih perlu didalami lagi supaya narasi sungguh-sungguh berbicara dan menjadi bagian dunia pembacanya. Analisis struktural mesti dilengkapi dengan aneka pendekatan yang bisa diupayakan karena analisis struktural tidak bisa menyodorkan, misalnya, kaitan antara kesalehan/kesucian/doa dan kerja; analisis struktural juga tidak bisa menjawab pertanyaan mengapa gerak teks negatif juga untuk sang Kakek (padahal dengan masukan dari Ajo Sidi sebetulnya dia punya kesempatan untuk mengoreksi diri, tetapi malah bunuh diri…. memangnya koreksi diri sama dengan bunuh diri?)

8 replies

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s