Kiblat Hidup Keluarga

Hidup macam apa yang menurut Anda dekat dengan kesucian? Saya yakin sebagian besar orang mengidentikkan kesucian itu dengan kerohanian dan kesalehan yang dilekatkan pada aneka ritual di tempat-tempat ibadat atau aneka doa pribadi. Haji A.A. Navis mensinyalir kesucian umat sebagai kesucian narcisistik, yang dikritiknya dengan personifikasi Haji Saleh dan Sang Kakek dalam cerpen Robohnya Surau Kami (klik di sini kalau berminat membaca komentar, klik di sini jika berminat pada analisisnya).

Pesta Keluarga Kudus yang dirayakan Gereja Katolik hari ini juga bisa ditempatkan sebagai kritik terhadap hal yang sama. Konsili Vatikan II menegaskan bahwa semua orang dipanggil kepada kesucian. Semua status hidup (pelajar, pebisnis, alim ulama, kaum selibat, keluarga dll) menjadi medan hidup manusia untuk bertumbuh dalam iman, harapan, dan cinta. Kesucian tak bisa dikiblatkan pada status hidup tertentu (klik di sini untuk melihat potensi pengiblatan itu). Kiblat kesucian ialah relasi manusia dan Tuhan sendiri, apa pun status hidupnya.

Tetangga saya yang ahli bahasa-bahasa kuno itu menilik dua penulisan nama kota Yerusalem yang bisa menjelaskan kiblat mengiblat itu. Hierosolyma ialah Yerusalem sebagai kota tempat kehadiran ilahi, yang disebut suci sejauh orang-orangnya menerima kehadiran ilahi dalam batin mereka yang mengenali-Nya. Ierousaleem ialah pusat ibadat keagamaan, yang malah tidak lagi menjadi tempat kehadiran ilahi secara jelas dan nyata.

Simeon dan Hana tinggal di pusat keagamaan itu (bdk. “surau kami”), yang sebagian besar warganya tidak lagi memiliki kepekaan terhadap kehadiran yang ilahi itu. Maria dan Yusuf membawa Yesus ke pusat keagamaan itu, tetapi oleh Lukas ditulis sebagai Hierosolyma dan karena itulah Simeon-Hana sampai juga ke Hierosolyma (meskipun pada kenyataannya mereka masih tinggal di Ierousaleem)!

Di tengah gencarnya gempuran sekularisasi, orang beriman tak perlu latah menolak institusi keagamaan, Ierousaleem (yang memang punya risiko menjauhkan orang dari kiblat sebenarnya). Darinya dituntut ketajaman batin untuk memilah-milah mana yang sungguh mengantar orang pada relasi pribadi dengan Allah dan mana yang hanya mengabdi religious vanity alias kemunafikan.

Kisah Abraham dan pembentukan keluarga Maria-Yusuf menuntut ketajaman batin seperti itu. Abraham yang frustrasi dengan masa tuanya tanpa anak akhirnya melihat kebesaran Allah: Dia setia dengan janji-Nya, bahkan pada situasi yang tampak mustahil. Yusuf-Maria yang dibayang-bayangi oleh kehancuran masa depan akhirnya membiarkan diri hidup seturut tuntunan malaikat Allah. Ini bukan pertama-tama soal menjalankan kaidah agama, melainkan soal berhubungan intim dengan Tuhan dan untuk itu dibutuhkan kepekaan batin untuk memilah-milah hati (kliknya tuh di sini).


PESTA KELUARGA KUDUS: YESUS, MARIA, YOSEF
(Hari Keempat dalam Oktaf Natal Tahun B)
Minggu, 28 Desember 2014

Kej 15,1-6;21,1-3
Ibr 11,8.11-12.17-19
Luk 2,22-40

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s