Kere Munggah Bale

Di sebuah televisi lokal Jerman pernah ditayangkan suatu simulasi “menjadi tua”. Seorang anak muda yang segar bugar sehat walafiat gagah perkasa secara bertahap diberi peranti yang mengurangi kapasitas fungsi inderawi mereka. Kelihatan sekali bagaimana anak itu penglihatannya jadi blawur dan salah pilih saat membeli minuman dan membayar pada kasir. Terdengar juga bagaimana dia harus berteriak keras lantaran pendengarannya juga berkurang. Kesan berat melangkahkan kaki dan tangan begitu terlihat karena gerakan tremornya.

Simeon kira-kira juga dalam kondisi seperti itu ketika dia akhirnya berjumpa dengan bayi yang dinanti-nantikannya. Bayangkanlah bagaimana dia begitu enerjik dalam menjalankan ritual di Bait Allah dan bagaimana sekarang untuk menaiki tangga pun dia sudah kelihatan sangat payah. Maklum, sudah sangat sangat tua… Padahal, perjumpaan dengan bayi yang dinantikannya itu mungkin hanya terjadi beberapa menit. Setelah penantian sangat panjang itu, ia berserah diri pada Tuhan: sekarang, Tuhan, perkenankanlah hamba-Mu berpulang…

Simeon memang bukan sosok besar dalam Kitab Suci, tetapi tidak bisa dipungkiri bahwa kesabaran, ketekunan, kesetiaannya dalam penantian itu sungguh pantas diapresiasi. Ia tidak berhenti pada status hidup atau aneka puja-puji yang diperolehnya, ia senantiasa jeli dan atentif terhadap datangnya Allah yang mahahadir itu, juga melalui sosok bayi yang dipersembahkan di Bait Allah itu.

Dalam bahasa Jawa ada ungkapan kere munggah bale (dengan semua vokal e seperti pada “do re mi”), yang biasanya dilekatkan pada perilaku orang kaya baru. Akan tetapi, itu tidak lebih berbahaya daripada arogansi batin, kesombongan rohani dan perilaku orang yang meletakkan harga dirinya pada status hidup tertentu. Begitu lulus sebagai dokter, ia merasa bisa semau-maunya memakai status itu untuk mencari nafkah. Begitu diakui sebagai doktor, seorang bergelar PhD tak pernah lagi membaca atau mencari sumber pengetahuan karena merasa diri sebagai sumbernya. Orang sudah berpuas diri dengan status agama KTP tanpa upaya pendalaman imannya. Atas nama egalitarianisme, orang muda buta bahwa pengalaman dan kekayaan pengalaman itu tak bisa disamaratakan.

Ungkapan kere munggah bale itu saya dengar dalam konteks hidup sebagai pastor. Dulu kebanyakan pastor berasal dari pelosok desa dan setelah jadi pastor, masuklah mereka dalam kultur kota, dan statusnya itu malah membuat mereka jadi gila harta, gila gadget, gila (update) status, dan gila-gila lainnya sehingga mereka malah gagal fokus pada pelayanan iman sendiri! Ironis memang, tapi begitulah kere munggah bale. Orang macam ini mungkin tak memahami on going conversion (dan kliknya tuh di sini, atau di sini).


HARI KELIMA OKTAF NATAL B
Senin, 29 Desember 2014

1Yoh 2,3-11
Luk 2,22-35

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s