Cerpen: Robohnya Surau Kami

Yang saya maksud, tokoh Kakek oleh kebanyakan orang yang menganalisis cerpen ini digambarkan sebagai seorang kepala keluarga yang melalaikan hidup keluarganya (istri dan anak-anaknya). Satu tulisan menyatakan bahwa apa yang diceritakan Ajo Sidi, tepat dengan keseharian Kakek, di mana setiap harinya Sang kakek hanya berada di Surau, beribadah, mengaji, tidak memperhatikan kebutuhan anak dan isterinya, sehingga anak isterinya tidak terurus. Tulisan lain mengatakan bahwa ia memiliki keluarga tapi lebih mementingkan Tuhan. Masih ada beberapa tulisan lain yang nadanya mirip seperti itu yang terjadi karena kurang teliti dalam melakukan close reading atau malah mungkin ada bias subjektif yang kuat (bahwa tidak mungkin orang Islam hidup tanpa menikah).

Berulang kali saya mencoba memahami kalimat yang dilekatkan pada mulut Kakek yang berbunyi “Sedari mudaku aku di sini, bukan? Tak kuingat punya istri, punya anak, punya keluarga seperti orang-orang lain, tahu? Tak kupikirkan hidupku sendiri”. Menurut saya, kalimat itu sudah sangat gamblang menyatakan bahwa si Kakek, sang garin itu, memang tidak memiliki istri, anak, keluarga seperti orang-orang lain pada umumnya. Ini cocok dengan pengamatan kontemporer bahwa jika laki-laki anggota kaum belum menikah, biasanya tidur di surau. Surau biasanya dibangun tidak jauh dari komplek rumah gadang…, selain berfungsi sebagai tempat ibadah, juga berfungsi sebagai tempat tinggal lelaki dewasa namun belum menikah. Sharing keprihatinan seorang anggota Forum Lingkar Pena Sumbar dalam paparan Dilema Garin Surau kiranya juga bisa menjadi pertimbangan.

Jika karakter Kakek adalah sosok laki-laki yang hidup wadat, selibat, tak menikah, tafsiran yang tepat kiranya berbunyi selama hidupnya, kakek itu hanya menyembah dan memuji Tuhan, sampai-sampai tidak memiliki istri serta anak cucu. Saya merasa analisis ini lebih objektif, dan tidak mengherankan karena penulisnya memang sosok terpelajar. Ia juga menangkap tema cerpen: dari sinopsis di atas kita telah dapat menangkap secara jelas tema cerita dari “Robohnya Surau Kami” ini. Tema dari cerita ini adalah hidup yang dikehendaki Tuhan. Pemahaman tema seperti ini tentu cocok dengan common sense, tanpa perlu ribet dengan aneka pendekatan.

Surau bagonjong

Perkenankanlah saya menyampaikan suatu analisis struktural terhadap cerpen Robohnya Surau Kami yang saya rasakan besar manfaatnya untuk hidup kerohanian saya. Semakin lama saya semakin percaya bahwa dialog agama bukanlah soal politik belaka (demi kerukunan, toleransi, bla bla bla… yang menurut saya malah bisa jadi kata-kata kosong), melainkan soal mendalami kerohanian sendiri dengan cara melakukan suatu detour, perjalanan merambah tradisi lain sebagai bentuk pengambilan jarak (sebentar) terhadap tradisi sendiri.

Tak terlintas dalam benak saya suatu pretensi bahwa saya bisa mendalami tradisi agama lain (karena ada hal yang incommensurate), apalagi meminta orang dari tradisi lain untuk mendalami tradisi saya. Saya tidak begitu suka dengan kata ‘toleransi’, yang bagi saya tidak jelas maksudnya selain agamamu ya agamamu, agamaku ya agamaku… mind your own business! Pokoknya asal tidak saling mengganggu, titik. Itu baik, tapi tidak cukup.

Mengapa tidak kita menimba kekayaan tradisi lain justru supaya kita juga memahami perbedaan dan semakin mendalami tradisi kita sendiri? Ini lebih promising daripada sekadar elu elu, gue gue

Analisis Struktural Robohnya Surau Kami

6 replies

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s