Animus cujusque is est quisque

Kamis sesudah Rabu Abu

Ul 30,15-20
Lihatlah, aku menghadapkan kepada kalian hari ini kehidupan dan kebaikan serta kematian dan kejahatan karena aku meminta kalian supaya mengasihi Tuhan, Allah kalian, dengan hidup menurut jalan yang ditunjukkan-Nya… supaya kalian hidup….

Luk 9, 22-25
Setiap orang yang mau ikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya. Karena siapa yang mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku dan karena Injil, ia akan menyelamatkannya.


Meskipun menyodorkan dua pilihan (hidup-mati atau baik-buruk), jelaslah Musa menunjukkan bahwa yang didambakan umat Israel adalah kehidupan dan kebaikan. Cara yang direkomendasikannya juga jelas: mengikuti jalan yang ditunjukkan Tuhan.

Sayangnya, jalan yang ditunjukkan Tuhan itu memuat paradoks yang menuntut orang memandang hidup secara berbeda dari kebanyakan orang. Paradoks itu ditunjukkan Yesus: kamu mesti membiasakan diri menyangkal diri, memanggul salib demi Warta Gembira; hanya dengan cara itulah jiwamu selamat. Apa toh yang mesti disangkal?

Conditioning

Apa-apa saja dari bagian diriku (kultur, konsep, proyek, idola, tubuh, dlsj) yang membebani AKU sehingga tidak los untuk menunjukkan diri sebagai anak Allah, pengikut Kristus! Ini mestinya bukan mainstream, menentang kenyamanan konsumtif dan materialisme.

Dengan itu Yesus menunjukkan bahwa keselamatan bukan pertama-tama soal kelancaran usaha, kesehatan yang prima, kekayaan yang berlimpah, melainkan soal sehatnya jiwa. Jari boleh prothol (putus satu per satu), tapi jiwa jangan. Usaha bisnis boleh ancur, tapi jiwa gak perlu berantakan. Kaki boleh mati rasa, tapi jiwa tetaplah hidup. Ini cocok dengan azas dan dasar toh? Kehidupan jiwa inilah yang juga ditunjukkan Musa supaya disasar oleh umat Israel.

Lalu apa hubungannya dengan judul posting ini ya (animus kuyuske is est kwiske)? Ungkapan Latin ini bolehlah diartikan baik buruknya diri kita itu ya sejauh baik buruknya jiwa kita. Memang, mens sana in corpore sano, sehingga baiklah orang mengupayakan kebugaran tubuhnya, tetapi kalau memang jatuh sakit karena tugas mulia, mengapa mesti menambahinya dengan stress?

1 reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s