Gong Xi Fa Cai

Harapan dalam ungkapan gong xi fa cai, jika diterangi dengan bacaan hari ini kiranya jadi lebih joss: semoga sejahteramu semakin utuh. Apa gunanya orang memiliki seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya? Itu berarti gak utuh; kalau mau utuh ya dunia dapet, nyawanya juga dapet!

Gong xi fa cai tidak muncul dari dunia Barat tetapi bisa jadi ditafsirkan dengan kerangka etika protestantisme ala Max Weber: makin kaya modal makin nyatalah berkat Tuhan. Jika diseret ke situ, ungkapan gong xi fa cai malah menyangkal karakteristik kerohanian dunia Timur sendiri (kalau pembagian Timur-Barat masih relevan) yang lebih menekankan dunia batin, dunia (bukan desain) interior. Roh gong xi fa cai justru lebih tepat dimengerti dengan terang masa prapaska, masa pantang dan puasa.

Prapaska adalah perjalanan esensialitas, dunia interior, dunia batin seseorang (bdk. pengertian manusia sebagai makhluk rohani yang mengalami kejasmanian). Ini pasti bukan maksudnya supaya pada masa prapaska orang selalu bertobat dengan tidak makan coklat atau berpantang dengan hanya makan kentang! Esensinya jelas tidak terletak pada kentang dan coklat. Problemnya juga bukan bahwa orang tak boleh jadi kaya (what’s wrong with being rich?).

Perjalanan esensialitas berarti upaya penemuan kembali panggilan atau autentisitas hidup seseorang. Banyak orang ngerti bahwa dunia ini sifatnya sementara, tetapi de facto menghayatinya sebagai kekekalan: tanpa penyangkalan, tanpa distansiasi, tanpa jeda, tanpa refleksi, tanpa kritik diri.

Orang bisa menghabiskan waktu untuk berinvestasi dalam hal-hal yang dianggapnya penting: perasaan, keluarga, pekerjaan, gelar, jabatan, popularitas sedemikian rupa sampai ia lupa mengurus jiwanya. Alasannya pun bisa jadi sah: pekerjaan menumpuk, kota kebanjiran terus, proyek terbengkalai, dan sebagainya. Jauh di lubuk hati, ada yang benar-benar hilang darinya, yaitu jawaban atas pertanyaan eksistensial: Siapa aku? Untuk apa hidupku?

Masa Prapaska jadi masa untuk memilah-milah mana karakter gue banget yang sinkron dengan identitas batiniah, dan mana karakter gue banget yang ditunggangi lingkungan sekitar. Karakter gue banget yang klop dengan autentisitas hidup pasti membawa kemantapan dan ketenangan untuk melangkah, betapapun hidupnya mungkin tampaknya serba susah. Sedangkan karakter gue banget yang disetir oleh lingkungan membuat orang galau tiada henti dalam melangkah, bahkan meskipun hidupnya kelihatan mudah.

Pernah saya begitu lama mengambil keputusan karena saya tak mau kehilangan aspek-aspek positif dalam kemungkinan pilihan yang ada dan saya takut jika keputusan saya membuat pekerjaan yang saya tangani jadi terbengkalai. Pekerjaan itu begitu pentingnya bagi nama baik lembaga sehingga saya susah mengambil langkah, sampai saat superior saya menegaskan bahwa panggilan saya jauh lebih berharga daripada pekerjaan saya di lembaga itu. Tak ada gunanya saya sukses mengejar target jika saya sendiri tidak bahagia menjalankannya, alias jiwa saya tidak hidup dalam pekerjaan itu!

Gong xi fa cai, semoga sejahtera, semoga happy, semoga semakin luas hati dalam aneka situasi.


HARI KAMIS SESUDAH RABU ABU
19 Februari 2015

Ul 30,15-20
Luk 9,22-25

Posting Tahun Lalu: Animus cujusque is est quisque

2 replies

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s