Puasa nan Romantis

Menurut Injil, puasa orang Kristen itu ada bau-bau romantisnya. Kok bisa? Lha menjadi pertanda kenangan terhadap “mempelai” yang dah gak ada lagi seperti dulu: sebagai panggilan untuk reconnect dengan Kristus yang pernah hidup dalam sejarah manusia. Trus, kalau memang puasa Kristen itu romantis, kok malah Gereja Katolik tidak menganjurkan perkawinan pada masa puasa sih? Mantenan kan romantis juga loh! Hmm… saya kira sih problemnya bukan pada perkawinannya sendiri, melainkan pada pesta hore-horenya. Kalau mau menikah dan pestanya sangat sederhana dengan mempertimbangkan masa puasa, mengapa tidak why not?

Puasa orang Kristen memang seenteng-entengnya orang puasa deh: wong cuma mengurangi sekali makan minum (dari tiga kali; kalau sudah biasa sehari makan minum dua kali ya cukup geser sedikit waktu makan kedua) dan menggeser sedikit waktu makan (untuk memenuhi ukuran 1×24 jam). Enak kan? Tapi yang enak pun belum tentu orang bisa dan mau melakukannya loh! Mungkin karena merasa dirinya sudah sedemikian connect dengan Kristus.

Akan tetapi, terlepas dari soal makan memakan itu, pantang pun tidak semata-mata difokuskan pada pengurangan atau peniadaan kebiasaan tertentu. Pengurangan dan peniadaan atau penyangkalan itu hanyalah suatu bentuk, suatu forma dari disiplin rohani tertentu. Lha, orang Kristen justru mesti ngerti apa disiplin rohani itu: apa yang pokok, yang substansial, yaitu relasi pribadi dengan Kristus sendiri. Bentuk pantang dan puasa akan mengalir dari relasi pribadi itu, tak terbatas pada soal jenis atau bahan makanan dan minuman.

Meskipun demikian, antara yang substansial dan formal itu ada relasi dua arah. Tak mungkinlah orang tiba-tiba mengerti yang substansial tanpa melalui yang formal dan tak autentiklah orang yang menjalankan yang formal tanpa modal yang substansial tadi. So, kalau orang terus menerus sibuk dengan aneka macam aturan pantang dan puasa, bisa jadi dia malah tak pernah berpuasa dengan romantika Kristen: bahwa mengikuti Kristus itu memang mau tak mau menuntut orang melepaskan agenda pribadi, melepas genggaman ambisi pribadi, dan merealisasikan apa yang sungguh-sungguh dikehendaki Kristus sendiri.

Berpantang dan berpuasa dalam romantika Kristen justru membuat orang semakin produktif, semakin merekahkan fajar, memperbanyak roti dan lain-lain sebagaimana tersirat dalam bacaan pertama hari ini.


HARI JUMAT SESUDAH RABU ABU
20 Februari 2015

Yes 58,1-9a
Mat 9,14-15

Posting Tahun Lalu: How do you fast?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s