Dari manakah omdo’ – NATO?

Memang orang belajar omong dari pendengaran. Gak mengherankan bahwa orang yang bisu kebanyakan juga tuli. Akan tetapi, dari mana datangnya orang yang hanya bisa omdo’ (omong doang) alias No Action Talk Only? Terlalu banyak mendengarkah? Sebaliknya, justru karena tidak mau mendengar, alias gak mau melihat, yang dalam bahasa Kitab Suci berarti gak mau memahami.

Simon dari Kirene, memang gak kepikiran untuk membawakan tonggak salib Yesus. Sebagai orang Yahudi mestinya ia tahu kalo terlibat dalam perkara kriminal seperti yang dijumpainya ini, ia akan jadi najis dan gak bisa ikut perayaan Paska tahunan itu. Artinya, sia-sialah perjalanan panjang dan jauhnya yang penuh risiko itu untuk merayakan Paska! Dipaksa oleh tentara Romawi yang mungkin kesal dan marah, Simon juga barangkali takut. Ia membawakan bilah salib Yesus, dan itu bukan hanya merendahkan dirinya, melainkan juga memperkosa tabu etis agamanya!

Meskipun tindakannya tidak murni dari kemurahan hati, toh hasilnya menarik. Kelak ia menjadi sosok yang banyak membantu Santo Paulus dan anaknya sendiri, Aleksander dan Rufus, menjadi tokoh jemaat perdana juga. Kekuatan tindakan perendahan, penghinaan dirinya malah mengubah jalan hidupnya; dari kenyamanan tembok agama ia berjumpa dengan sosok manusia yang rapuh, yang begitu menderitanya sehingga sulit dikenali wajahnya. Perjumpaan dengan penderitaan itu tidak membuatnya bebal dan naif,”Syukur Tuhan aku tidak mengalami seperti yang dialami orang ini!” tetapi juga tidak menghancurkan imannya. Ia ditransformasi oleh perjumpaan dengan penderitaan itu.

diogo_morgado_stars_as_jesus,_idrissa_sisco_as_simon_of_cyrenePerjumpaan pastilah lebih dari sekadar melihat dengan mata kepala, melainkan melihat dengan mata hati; dari situ muncullah empati dan darinya omongan maujud dalam keputusan dan tindakan, tidak jadi omongan doang.

Blusukan orang seperti ini bukan blusukan politis yang senantiasa menantikan kesudahannya setelah sekian lama menghitung hari menahan kesusahan alias ngampet atau menekan perasaan! Ini adalah blusukan Allah sendiri untuk menyelami kerapuhan manusia sampai tuntas dan dengan itu menyelamatkannya; ungkapan Yesus di salib itu mungkin bisa aja diterjemahkan “Akhirnya selesai juga!” (Yoh 19,30) bukan dengan nada pasif ngampet, melainkan dengan nada seorang anak antusias mengerjakan tugas ujiannya sampai tuntas.

3 replies

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s