Living Our Own Deaths

Setelah mengikuti jalan salib Yesus sampai kematiannya, dan tak ada cerita apa-apa setelah kematiannya, aneka pertanyaan bersliweran di kepala:

  • Kematiannya, terlepas dari soal cara matinya, gak ada istimewanya. Semua orang mati, bagaimanapun caranya. Tubuh si guru dari Nazareth gak punya keistimewaan lebih daripada orang-orang lain: nabi, orang biasa, raja, ahli Taurat, orang Farisi, imam kepala, orang buta, pemungut cukat, perempuan pelacur, orang kaya, Lazarus, dan sebagainya. Pokoknya, ia mati. Seluruh kehebatan semasa hidupnya berakhir di sini. Jadi, apa bedanya dia dari nabi-nabi lainnya yang sudah mati?

jesus-laid-in-tomb

  • Nubuat Yesaya boleh saja memandang penderitaan dan kematian Yesus itu sebagai peninggian atau pemuliaan Kristus. Tapi ini kan cuma akal-akalan, utak-atik-otak: berpikirlah positif! Fakta tak bisa menipu entah pikiran mau positif atau negatif: Yesus dihabisi dan mayatnya dibaringkan di makam. Itu juga bukan karena dia sendiri turun dari salib dan berjalan untuk tidur di makam Yusuf Arimatea, bukan? Karena belas kasih orang lain Yesus diperlakukan selayaknya sebagai manusia. Ia bahkan tidak mampu memperlakukan dirinya sendiri sebagai manusia karena dia benar-benar mati!
  • Kalau begitu, bukankah nilai-nilai yang diwartakannya juga ikut terkubur bersama dia? Artinya, warta yang dia sampaikan pun tidak bersifat kekal. Semuanya toh akan musnah, berujung pada kematian. Dunia ini memuat aneka ragam tragedi atas kebaikan: pengkhianatan, pembunuhan, ketidakpedulian, penyiksaan, kekejaman, dan sebagainya. Jadi, selama orang hidup di dunia ini, apa artinya nilai yang diwartakan Yesus itu? Semuanya menjadi relatif dan bahkan absurd wong ujung-ujungnya ya kematian!
  • Dengan demikian, jelaslah: mengikuti Yesus berarti menyongsong kematian, menantikan kesia-siaan atas apapun perbuatan heroik yang dilakukan orang. Jadi, mengapa mesti baptis? Mengapa mesti susah-susah ikut pelajaran baptis? Mengapa bahkan mesti menjadi Katolik yang sangat institusional itu? Mengapa juga mesti percaya pada sakramen perkawinan? Untuk apa orang mesti belajar susah-susah? Mengapa mesti setiap minggu ke gereja dan gak jelas juntrungannya: kotbahnya, nyanyiannya, prodiakonnya, soundsystemnya, bahasanya, perdebatan kelompok konservatif dan progresifnya? Semuanya toh gak ada harganya di hadapan kematian!

Upacara Jumat Agung kemarin menyodorkan kematian Yesus di salib. Umat mendengarkan, melihat, memahami peristiwa sengsara dan kematian Yesus. Akan tetapi, tontonan itu sebetulnya hanya untuk anak-anak, yang belum memiliki kemampuan untuk mengapropriasi, memahami, memberi pemaknaan terhadap kisah sengsara Kristus. Orang yang beriman matang akan memanfaatkan lamanya passio itu justru untuk menimbang-nimbang kematiannya sendiri: ketidakmampuan tingkat dewa yang melumpuhkan dirinya untuk mengontrol bahkan kehidupannya sendiri!

Jenasah Yesus di makam: sendirian, tanpa sapaan, bahkan tanpa ingatan orang akan kehebatannya, ia terabaikan dan the show must go on. Orang-orang masih bisa korupsi dengan tenang asal tidak lebih dari 100 juta, misalnya (karena tak akan diusut oleh KPK!), dan pengikut Yesus tak berdaya. Orang-orang partai masih bisa saling bersandiwara memperdaya rakyat, dan orang Kristen tak bisa berbuat apa-apa, atau berbuatlah apa-apa dan esok hari disingkirkan dari jabatan. Eksploitasi alam masih terus terjadi dan umat Kristen tak bisa berbuat banyak, atau berbuatlah banyak dan Gereja kehilangan sumber pemasukan uang. Orang-orang bisnis masih juga di sana sini bermain curang dan mencederai mereka yang berbisnis dengan jujur, dan orang jujur inilah yang kojur

Jenasah Yesus diam di hadapan itu semua, bahkan di hadapan pengikutnya: terserah kamu mau korupsi, mau memfitnah orang lain, mau mengkhianati rekan bisnismu, mau melakukan kekejaman, kekerasan seksual dan aneka tindak kebinatangan lainnya… itu pilihanmu! Juga kalau kamu mau ‘mati’ terhadap pilihan-pilihan seperti itu, pada akhirnya kamu juga akan mati!

Jangan omong soal kebangkitan dulu sebelum kamu memahami kematian… Sabtu sepi, Sabtu Suci ini jadi saat yang baik untuk memahami misteri kematian Yesus, kematian manusia sendiri…

3 replies

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s