Sabtu Sepi nan Galau

Dalam teknik naratif, suatu slow motion menunjuk pokok penting dalam kisah. Rentang waktu tiga dekade hidup seseorang bisa dikisahkan singkat dalam cerita, dan sebaliknya rentang waktu hidup tiga tahun tokoh itu dikisahkan jauh lebih panjang. Pekan Suci dalam tradisi Gereja Katolik merupakan sebuah slow motion terhadap kisah sengsara Yesus sejak ia mulai disambut di Yerusalem pada Minggu Palma. Dalam slow motion itu, hari Sabtu pagi sebelum Paska tak ada ekaristi, tak ada pesta perjamuan. Sepi. Kesepian itu tidak main-main: orang mesti menjawab pertanyaan mengenai azas dan dasar hidupnya sendiri. Ini adalah saat yang menohok terutama bagi orang-orang yang mengaku diri sebagai pengikut Yesus dari Nazareth itu.

Dalam sebuah kontemplasi penyaliban Yesus, gambaran hidup yang saya alami adalah sosok Petrus yang entah bagaimana spontan menggerakkan hati saya. Saya menggebu-gebu sebagai pribadi yang ingin mengikuti Yesus, begitu dominan, berapi-api dengan semangat yang sepertinya takkan padam. Sampai suatu malam, tak sampai hati saya memandang Yesus ketika saya tahu bahwa yang dikatakannya benar: saya takkan sanggup memberi kesaksian bahwa saya memang pengikutnya.

Bahkan setelah saya berlari-lari menuju Golgota, saya datang terlambat. Saya tiba di TKP setelah jenasah Yesus diturunkan dan ada dalam pangkuan Bunda Maria; itu pun saya lihat dari kejauhan. Dari kejauhan itu pula tiba-tiba sekian banyak pertanyaan muncul di kepala saya dan akhirnya buah doa kontemplatif saat itu sangat menggoncangkan saya dalam arti senegatif-negatifnya.

Rentetan pertanyaan itu diawali oleh reaksi saya saat melihat jenasah tak berdaya di bawah salib itu,”Oh, jadi gini doang nih akhir ceritanya?” Kalau sosok yang diikuti saja nasibnya seperti ini, gimana murid-muridnya? Dia memang luar biasa sebagai nabi; bisa bikin demo, atraksi, pertunjukan yang seru dan spektakuler, tetapi akhirnya ya gak beda dari semua orang: mati. Bahkan, matinya pun lebih mengerikan daripada sekadar mati karena kecelakaan!

Saya tak begitu peduli dengan jiwanya, de facto, tubuhnya memang hancur dan mengerikan; cocok dengan deskripsi Yesaya: Ia tidak tampan, semaraknyapun tidak ada sehingga kita tak tertarik memandangnya; dan rupapun tidak, sehingga kita tak menginginkannya (Yes 53,2). Apa sih yang jadi alasan untuk ikut orang seperti ini di luar sadomasokisme?! Semua orang pada akhirnya hancur bagaimanapun tingkat kehancurannya mau dijelaskan. Orang baik, orang hebat, orang suci, orang rajin, orang pandai, bisa mati dengan cara yang sangat mengenaskan, tak berperikemanusiaan. Sementara orang jahat, culas, berandal, garong, imbisil pun paling banter mati mengenaskan ya seperti Yesus ini. Tak ada cara lain yang lebih mengenaskan, pun gambaran film G 30 S/PKI sebagai indoktrinasi Orde Baru tidak memberikan gambaran yang lebih sadis daripada penyaliban Yesus ini. Masih ada banyak orang rakus, koruptor, jahat, berandal yang mati baik-baik.

Kalau begitu, kalau orang baik dan orang jahat bisa mati dengan cara yang mengenaskan, ngapain juga orang mesti berpikir soal moral, soal iman, soal agama, soal pendidikan dan aneka macam hal yang digembar-gemborkan para penjaga moralitas masyarakat?
Ngapain orang mesti sekolah (gak sekolah pun bisa dapat duit)? Kenapa mesti pinter (bego’ pun masih bisa populer)? Kenapa mesti cari nafkah secara halal (nafkah gak halal pun tak apa-apa)? Mengapa mesti membela orang-orang tertindas (wong kalau mereka punya posisi pun akan menindas orang lainnya)? Ngapain beragama (wong gak beragama juga orang masih bisa hidup bermoral)? Ngapain juga mesti bermoral kalau tak bermoral pun orang masih bisa foya-foya dan hepi-hepi?

Terhadap pertanyaan-pertanyaan seperti itu, orang beragama menyodorkan klaim hidup setelah mati, yang adalah omong kosong. Terhadap pertanyaan itu, kelompok orang lainnya memberi afirmasi: ya memang tak perlu susah-susah. Hidup ya hidup aja, mengalir gitu loh, gak usah dipikir susah. Semua orang bisa mati kapan saja, dengan cara apa saja, di mana saja. Jadi, terserah lu mau apa!

Pertanyaan itu, pada masanya, membawa saya pada frustrasi tingkat tinggi karena saya tak bisa menjawab kepada diri saya sendiri mengapa saya mesti membuat komitmen untuk hidup miskin, murni, dan taat dalam ‘gerombolan’ yang isinya orang-orang yang sama juga dengan saya: rapuh, pendosa. Frustrasi ini justru muncul setelah doa kontemplasi atas penyaliban Yesus. Saya merasa tak punya alasan kuat untuk mengikutinya. Semua ini omong kosong. Setiap orang bebas menentukan hidupnya sendiri dan tidak mesti mengikuti siapapun, termasuk ‘orang gila’ dari Nazareth itu!

Pada masa sepi itu, saya hampir menarik diri dari kehidupan ini…

Posting Tahun Lalu: Living our own deaths

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s