Kenapa sih para petinggi agama Yahudi itu sampai sedemikian getolnya ingin melenyapkan Yesus dari muka bumi ini? Mosok orang bisa nyembuhin orang sakit malah mau dibunuh? Mosok iya orang yang bisa membebaskan orang dari kerasukan setan malah dihukum mati? Mosok orang cuma ngaku sebagai anak Allah lantas mau dirajam, padahal menganggap dia gila atau stress berat pun sudah cukup, bukan? Apa mereka kira pengikut-pengikut Yesus itu dhonk alias ngerti apa yang diajarkan ‘orang gila’ itu? Sama sekali tidak!
Orang banyak belum tentu memahami ‘orang gila’ itu meskipun terima hasilnya: kenyang, sembuh, sehat. Para murid yang dekat dengan Yesus pun bahkan kocar-kacir ketika tekanan datang. Artinya, sebenarnya mereka gak sepakat-sepakat amat dengan yang diajarkan dan diajakkan oleh Yesus itu. Apa bahayanya sih sampai para petinggi agama Yahudi mesti bertindak barbar dengan hukuman mati?
Jawabannya mesti terkait dengan dua kata kunci ini: kebebasan dan otoritas. Ini dua hal yang bisa saling merongrong. ‘Orang gila’ itu adalah representasi kebebasan dan petinggi agama adalah representasi otoritas. Ia tidak ada di bawah otoritas manusia mana pun: imam, ahli taurat, farisi. Ia hanya taat pada otoritas yang muncul dari hati terdalamnya, otoritas yang senantiasa bicara mengenai kemanusiaan, otonomi, dan hidup nan sejati. Manusia yang bebas hanya ada di bawah kuasa Allah.
Kebebasan itu berbunyi: “Aku bukan punyamu: kamu tak punya kuasa apa-apa atas diriku.” Kebebasan itu mengatakan,”Kamu bukan punyaku: aku tak punya kuasa apa-apa terhadap dirimu.” Tak mengherankan, hal paling membahayakan bagi otoritas adalah kebebasan: orang yang bebas tidak lagi bisa Anda kontrol. Orang takut tidak bisa mengendalikan apa saja yang ada di luar dirinya. Orang tak bisa mengandalkan komitmen dan tak percaya pada yang disebut trust. Andaikan remote control tidak lagi berfungsi atau berfungsi tapi kacau, bisa jadi orang jengkel setengah mati. Begitu pula seorang anak yang membangkang, kiranya menjengkelkan orang tuanya yang meminta ini itu dan yang dibuat anak malah itu ini.
Cinta itu (ya’elah, cinta lagi cinta lagi) senantiasa membebaskan, bukan malah memperbudak. Orang yang paling dibenci di segala zaman ialah mereka yang membawa warta kebebasan, karena warta itu merongrong otoritas atau kuasa. Orang bisa merasa diserobot kekuasaannya, dilangkahi, tidak dihargai, tidak dianggap, dan sebagainya. Dalam sejarah dapat dilihat bagaimana banyak orang dibiarkan bodoh oleh penguasa semata-mata supaya tetap bisa dikontrol, diperbudak, diperalat, dijajah. Penguasa agama pun bisa melakukan hal yang sama, tetapi ini bukan soal posisi atau jabatan.
Setiap orang bisa menampilkan diri sebagai penguasa bahkan meskipun dalam hirarki ada di bawah. Seorang bawahan bisa jadi memiliki harga diri sedemikian tinggi sehingga ia senantiasa bisa bebas melawan atasannya. Tentu usianya takkan lanjut dalam struktur lembaga yang dihidupinya: ia bisa dipecat. Akan tetapi, dengan itu dinyatakan bahwa kebebasan menyerang otoritas setiap orang terlepas dari posisi yang dipegangnya dalam masyarakat. Otoritas yang lebih tinggi menguasai otoritas yang lebih rendah.
Problemnya tidak terletak pada otoritas dan kebebasan, tetapi pada tolok ukur yang dijadikan batas otoritas dan kebebasan itu. Tanpa ada pengakuan bahwa di hadapan Allah seluruh pribadi manusia berharga, otoritas dan kebebasan manusia bisa menjadi arbitrer dan anarkis karena orang merasa memiliki hak untuk melawan dan membunuh sesamanya. Ini terjadi pada masa gelap dalam Sejarah Gereja Katolik: yang di atas bermain-main dengan dimensi politik kekuasaan, yang di bawah tidak cukup punya modal untuk menafsirkan cinta Allah dalam Kitab Suci dan merasa cukup dengan pendekatan kekerasan.
Belakangan, saya semakin mengerti mengapa Gereja Katolik sangat tidak merekomendasikan hukuman mati. Karena itulah yang akhirnya dihayati oleh Hukum Gereja sendiri: hukum yang mengikat hati nurani orang. Gereja tidak membekali diri dengan aparat penegak hukum: meskipun orang tahu bahwa ada kewajiban untuk mengikuti Ekaristi mingguan, tak seorang satpam pun yang berhak menarik anak muda katolik dan menggeretnya ke Gereja pada hari Minggu! Satpam boleh menceramahinya, tapi tak pernah punya hak untuk merenggut otonomi si anak dengan pendekatan (kekerasan) fisik.
Warta macam begini segera menimbulkan kekhawatiran: bagaimana nanti kalau banyak yang tidak ke gereja lagi? Bagaimana nanti banyak yang tak punya pengetahuan iman lagi? Bagaimana nanti kalau banyak yang pindah Gereja atau agama?
Dengan begitu mulailah orang menggeser perhatiannya: bukan pada relasi iman pribadi kepada Allah, melainkan pada problem sosiologis agama, pada kekuasaan. Ini tak beda jauh dengan hukuman mati, yang mereduksi manusia sebagai objek bergerak sasaran tembak. Pada zaman barbar, belum ada alat tembak, tapi prinsipnya sama: homo homini lupus.
