A Faith that Never Dies

Saya ingat betul sewaktu kecil saya mengalami rasa takut ketika teman-teman saya berkomentar bahwa orang kristen kelak matinya disalib. Aneh juga, salib saja saya gak ngerti, kok bisa-bisanya saya merasa takut. Tentu saja, rasa takut itu tidak muncul dari pengetahuan saya mengenai salib, tetapi dari mimik dan isyarat yang dibuat teman-teman sedemikian rupa sehingga gambaran salib itu memang jadi menakutkan. Belakangan, kesan mengerikan itu juga muncul dalam berita bergambar mengenai kelompok ekstrem yang menyalibkan para penentangnya (termasuk bahkan kelompok Sunni dan Syiah yang dianggap terlalu moderat dalam menghayati iman mereka). Salib memang menakutkan.

Pada umumnya umat beriman secara spontan memandang salib bukan sebagai sesuatu yang positif. Ungkapan-ungkapan spontan mengenai penderitaan salib memberi kesan getir atau berat. “Doakan saya ya, salib yang saya terima ini sepertinya terlalu besar.” “Betapa menyedihkan salib yang mesti saya tanggung.” Ungkapan-ungkapan seperti itu tidak menyiratkan kegembiraan atau kenyamanan, apalagi kepuasan. Pada kenyataannya, kebanyakan ibadat Jalan Salib justru mengingatkan umat pada pergumulan, penderitaan, pengorbanan, beban, sakit, luka dan akhirnya berujung pada kematian.

Pokoknya, orang bisa membayangkan apa saja mengenai salib tapi bukan sebagai pohon yang menghasilkan buah (seperti pohon yang buahnya dimakan oleh Adam dan Hawa). Buah pada umumnya adalah sesuatu yang memberikan kegembiraan, sesuatu yang layak dicoba, menyegarkan. Pokoknya, sesuatu yang memberi hidup, bukan sengsara atau kematian.

Akan tetapi, karena misteri kehendak Allah, pohon salib itu memang memberikan buah kehidupan dan bukan sembarang kehidupan. Ini adalah kehidupan yang bentangannya tak bisa dibatasi waktu. Buahnya sendiri gak enak dimakan: tak ada keindahan yang menarik kita kepadanya dan tak ada keindahan yang bisa kita nikmati. Seperti banyak orang akan tertegun melihat dia begitu buruk rupanya, bukan seperti manusia lagi, dan tampaknya bukan seperti anak manusia lagi (Yes 52,14). Tuhan berkehendak meremukkan dia dengan kesakitan. Apabila ia menyerahkan dirinya sebagai korban penebus salah, ia akan melihat keturuannya, umurnya akan lanjut dan kehendak Allah akan terlaksana olehnya (Yes 53,10). Itulah buah salib.

Hidup kita ini direciki aneka salib dengan segala bahan dan ukuran maupun modifikasi plus komplet dengan kolom tanggal kadaluwarsa (yang rupanya bisa diisi sendiri). Tak ada yang identik. Semuanya berat, tak ada yang lebih ringan: tua maupun muda, anak-anak maupun orang tua, laki perempuan, tak ada yang dieksklusikan. Sebagaimana iman senantiasa inklusif, begitu pula salib menyentuh semua orang, cepat atau lambat. Gak ada orang yang dengan gampangnya mengabaikan salib itu: masa bodoh, gak peduli, gak penting, gak menginginkannya juga.

Memang, orang juga tak perlu mencari salib. Salib itu yang menghampirinya sebelum orang sadar. Begitu ia sadar, salib itu sudah mengambil wujud badannya atau kehidupannya sendiri: pertikaian, perang, kemiskinan, korupsi, eksploitasi, kebohongan, kekerasan, pemerkosaan, penyalahgunaan kekuasaan.

Jalan salib, sejak Jumat nan agung itu, pasti takkan pernah lenyap dari muka bumi, tetapi juga tak pernah bisa menjadi kata akhir terhadap kemanusiaan. Kenapa? Karena salib tak pernah mandul. Karena tak ada penderitaan yang hanya menyengsarakan. Karena tak ada pengurbanan yang hanya merugikan. Karena tak ada air mata yang hanya menyakitkan. Salib memurnikan, menguatkan, menghasilkan buah…. sejauh pengalaman iman senantiasa menjadi pijakannya. Iman dari salib begini ini, gak bakal mati, melainkan semakin membuahkan hasil: kehidupan baru…


HARI JUMAT SUCI
3 April 2015

Yes 52,13 – 53,12
Ibr 4,14-16; 5,7-9
Yoh 18,1-19,42

Posting Tahun Lalu: The Turning Point