Faith: Always Inclusive

Kalau dipikir-pikir, Yesus itu sableng juga ya. Di tengah-tengah suasana serius mencekam, dia masih bisa saja melontarkan pernyataan yang gimana gitu. Saat perjamuan terakhir, dia bilang bahwa seorang di antara mereka akan berkhianat, menyerahkan Yesus. Nah, itu suasananya kan malam, tetapi para muridnya seperti disambar petir di siang hari, plonga-plongo sedih: siapa sih tega mengkhianati Yesus? Mereka mawas diri dalam ketidakmengertian akan orang yang dimaksudkan Yesus. Yesus memberi clue dan justru clue itulah yang mengesankan kesablengan Yesus. Dia bilang: dia yang bersama-sama dengan aku mencelupkan tangannya ke dalam pinggan ini… Kok sableng?

Pada masa itu orang biasa mengadakan perjamuan makan dengan posisi setengah berbaring menyamping, bukan seperti diekspresikan Leonardo da Vinci dalam masterpiece L’Ultima Cena-nya. Mereka makan daging domba panggang dengan roti tak beragi dan sayuran pahit (untuk mengenangkan pahitnya hidup pendahulu mereka dulu di Mesir kali ya). Anggur bercampur air juga dipakai, sebagai semacam saus begitu. Nah, mereka kurang lebih berposisi setengah berbaring mengelilingi meja dan setiap orang tentu memasukkan tangan ke dalam pinggan berisi dressing tadi. Lha… kalau tiga belas orang itu makan bersama, bagaimana mungkin mereka antri satu per satu mencelupkan roti-sayur-daging ke dalam saus tadi? Pastilah dua tiga tangan masuk bersama-sama ke dalam pinggan untuk memberi saus pada makanan mereka. Jadi, bisa siapa aja dari 12 murid itu. Gak ada informasi baru!

Memang Yesus tidak hendak memberikan informasi individu mana yang akan mengkhianatinya. Ia menegaskan bahwa yang berkhianat itu adalah orang yang dekat dengannya (lha wong kerap makan bareng), pribadi yang tak bakal diduga akan berkhianat; dan itu bisa siapa saja di antara orang-orang dekatnya! Tak ada yang dieksklusikan. Semua punya potensi menjadi pengkhianat, bagaimanapun kadarnya.

Apakah Yesus tahu siapa pribadi itu? Tahu! Trus kenapa tak mencegahnya atau memberitahu murid-murid lainnya bahwa Yudaslah pengkhianat itu (dan biarlah murid-murid lainnya itu yang menentukan langkah selanjutnya)? Jawaban pastinya sih silakan tanya sendiri nanti kalau ada kesempatan audiensi di pintu masuk surga. Yang jelas, begitulah kurang lebih pola kerja Allah: memberi ruang bagi manusia untuk membangun identitasnya melalui pilihan-pilihan yang dibuatnya. Kita ingat bapa yang baik hati mengundang anak sulungnya supaya masuk dalam pesta bagi adiknya dalam Injil Lukas. Apakah si sulung itu masuk atau tidak, gak diceritakan dalam kisah.

Yudas bukanlah pengkhianat, tetapi dalam ruang kebebasannya ia (memilih) berkhianat. Pilihan seperti itu bisa dibuat oleh siapapun. Demikian halnya, iman senantiasa bersifat inklusif: semua saja diundang untuk berelasi dengan Allah, untuk mengalami keselamatan dari Allah. Kenyataannya, ada saja orang yang “berani mati” hanya untuk jaminan keselamatan eksklusif yang datang dari manusia: uang, jabatan, popularitas, selera akan keseragaman, dan sebagainya. Sebagian orang jauh lebih ngotot dengan kemurnian agama seturut ide di kepalanya sendiri daripada menanggapi panggilan keselamatan yang inklusif. Seperti dalam perjamuan terakhir, eksklusivisme seperti itu pun bisa mengenai siapa saja, termasuk orang-orang yang dekat dengan Yesus sendiri.


HARI RABU DALAM PEKAN SUCI
1 April 2015

Yes 50,4-9
Mat 26,14-25

Posting Tahun Lalu: Betraying The Wisdom

1 reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s