Maundy Thursday: Faith in The Dark

Mungkin agama Katolik adalah agama yang paling banyak simbolnya. Kenyataannya, Gereja Katolik memang menggunakan banyak simbol: tanda salib, ritus liturgi, hirarki, dan lain sebagainya. Berpikir simbolik sendiri jadi syarat kalau orang mau memahami Sakramen dalam Gereja Katolik. Tanpa disposisi reading between the lines dengan landasan iman terhadap Allah Tritunggal itu, orang tak bisa memahami simbol dalam Gereja Katolik. Maka, paradigma berpikir umat beriman Katolik pun niscaya akrab dengan imaji-imaji nan simbolik. Apa sih yang disimbolkan? Cinta, bro’ (1Yoh 4,8.16)! Tapi ini cinta beneran, bukan roman-romanan.

Masih ingat misteri inkarnasi untuk anak-anak? Ini dirayakan oleh seluruh Gereja dengan Hari Raya Natal: Allah yang super sekali itu mau masuk dalam dunia nan rapuh. Kapan resminya Dia masuk dalam semesta nan terbatas ini? Sewaktu bayi Yesus lahir. Kapankah itu? Suatu malam. Di mana? Di Betlehem. Hari ini, dirayakan kenangan akan Sang Cinta yang hendak menuntaskan visi dan misi pembebasan manusia. Kapankah itu? Suatu malam juga. Di mana? Di Yerusalem.

Sang Cinta yang bergerak mencari wujud daging mendapatkan realisasinya di Betlehem, pada suatu malam. Sang Cinta yang hendak menyerahkan daging itu pada kehancuran juga mencapai pemenuhannya, tetapi di Yerusalem, pada suatu malam juga. Barangkali, Cinta mendapat pemenuhannya selalu pada malam hari, hahaha… entah apa yang dipikirkan pasangan pengantin muda! Yang jelas, malam hari sebagai setting waktu pemenuhan cinta yang dirayakan hari ini menunjuk pada malam perjamuan terakhir Yesus dan murid-muridnya. Apa yang terjadi pada malam perjamuan terakhir itu?

Sebaiknya kita tidak memakai imaji Leonardo da Vinci yang sangat romantis dengan lukisan L’Ultima Cena ini:

last supperInjil memberikan gambaran yang berbeda dari pelukisan Leonardo da Vinci. Tentu saja, sebuah lukisan statis tak mungkin merekam dinamika gerak peristiwa seperti perjamuan malam terakhir. Injil Lukas mencatat momen ketegangan para murid dalam perjamuan itu untuk memastikan siapa yang terbesar di antara mereka. Bayangkan, saat Yesus bilang bahwa seorang dari mereka akan mengkhianatinya, mereka justru ribut soal siapa yang terbesar! Mereka tak sungguh-sungguh menangkap kegalauan guru mereka, malah asyik unjuk diri! Dalam Injil Matius dan Markus, dicatat kesedihan mereka, tetapi segera diikuti oleh sikap tak mau ikut bersalah,”I’m not that bad!” Yudas yang jelas mau menyerahkan Yesus pun (ikut) bertanya, “Bukan aku, kan, Rabbi?”

Injil Yohanes mengisahkan momen pembasuhan kaki di malam hari itu dan Petrus menolak. Tidak berhenti di situ, kelak dia dan teman-temannya absen dari keikutsertaan di jalan salib. Yesus sendirian, sejak perjamuan malam terakhir itu. Artinya, para muridnya belum sampai pada level yang diperlukan untuk menjadi sahabat Yesus, yang berani menyerahkan nyawa bagi sahabat-sahabatnya. Loh, bukankah Petrus berani mengorbankan nyawa untuk membela Yesus? Iya, itu sesumbarnya.

Lalu, imaji apa yang bisa dipakai untuk memahami nuansa perjamuan malam terakhir? Imaji Leonardo da Vinci sudah begitu mendunia (meskipun tak semua pemiliknya juga mengerti detil makna seni yang tersirat dalam karya Leonardo itu). Saya menyarankan film Of Gods and Men yang mendokumentasikan pengalaman gelap komunitas biarawan Trapist di Aljazair tahun 1990-an. Bisa jadi film ini membosankan dan tak memenuhi ekspektasi penikmat film, tetapi mendapat banyak penghargaan. Entah membosankan atau tidak, nuansa perjamuan malam para biarawan itu bisa memberi gambaran kegalauan sekaligus kekuatan iman mereka; sebagaimana Yesus mengalami diri di ambang hidup matinya tetap memohon dengan sangat supaya murid-muridnya itu hidup dengan kedalaman, dengan cinta yang senantiasa meluap-luap untuk diwujudkan dalam pelayanan kepada sesama.

Oleh karena itu, pembasuhan kaki dalam perayaan Kamis Putih senantiasa dipandang secara simbolik. Persoalannya bukan siapa membasuh siapa, melainkan bagaimana cinta tuhan yang sedemikian besar itu memberi dampak untuk saling mencintai. Kesalingan ini menyatakan bahwa cinta tidak memuat arogansi. Yesus mengasihi para murid bukan karena ia lebih superior, lebih punya, lebih sempurna, lebih matang (bahkan kalaupun kenyataannya begitu). Kasihnya itu berbunyi begini: kamu memang mengkhianatiku, gak ngerti-ngerti juga diriku, tetapi aku percaya suatu saat kamu memahaminya bahkan meskipun setelah aku mati. Keep in love. Yang begini kiranya membuat orang move on sebagaimana para biarawan Trapis di Aljazair itu akhirnya berani memberikan diri dan mati di tangan para teroris.

Di mana kunci cinta seperti itu? Ada pada trust yang memang rawan pengkhianatan, tetapi tidak menutup pintu bagi perkembangan cinta. Seorang ayah yang memandang anaknya tidak mampu melakukan sesuatu dan memberi conditioning begitu, akan membuat si anak benar-benar tak mampu melakukannya. Akan tetapi, seorang ayah yang memberi kepercayaan kepada anaknya mungkin justru membuat si anak sanggup membuat perbedaan!

Contoh. Seorang anak datang kepada ayahnya,”Pah, aku boleh ikut misa Kamis Putih gak?” (Apa ada anak bertanya begitu ya? Biasanya juga ortu yang maksa anaknya ikut misa!) Si ayah menjawab,”Ya boleh saja toh. Bagus. Tapi kamu perlu ingat, ini misa besar; mungkin lebih dari dua jam karena banyak nyanyian; mesti datang setengah jam sebelumnya biar dapat tempat duduk; trus ada pembasuhan kaki juga.”

Anak yang lain datang kepada ayahnya,”Pah, aku boleh ikut misa Kamis Putih gak?” Si ayah menjawab,”Ya boleh saja toh. Bagus. Kamu bisa dengar lagu-lagu yang jarang dinyanyikan dengan kor yang luar biasa dan ikut nyanyi bareng mereka; mungkin tahu-tahu nanti romonya ajak kamu ke depan altar dan kakimu dicuci romo; trus… besok kan libur, bisa bangun siang deh!”

Anak mana kiranya yang move on untuk ikut misa Kamis Putih? Yang kedua. Kenapa? Karena cinta itu percaya: percaya bahwa Allah lebih besar dari segala pikiran perfeksionis, lebih besar dari potensi akademik, lebih besar dari kerapuhan-kerapuhan manusiawi.


HARI KAMIS PUTIH
2 April 2015

Kel 12,1-8.11-14
1Kor 11,23-26
Yoh 13,1-15

Posting Tahun Lalu: Perayaan Cinta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s