Solidaritas vs Arogansi Terselubung

SENIN PRAPASKA II

Dan 9,4b-10
Ah Tuhan, Allah yang maha besar dan dahsyat…kami telah berbuat dosa dan salah, kami telah berlaku fasik dan telah memberontak, kami telah menyimpang dari perintah dan hukum-Mu… Ya Tuhan, padamu ada kebenaran dan patutlah kami malu

Luk 6,36-38
Hendaklah kamu murah hati seperti Bapamu murah hati…. Janganlah kamu menghakimi, maka kamu pun tak akan dihakimi… ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu.


Ketika mendoakan para pendosa sebagai wujud pengampunan total, orang cenderung menempatkan diri di pihak yang benar; orang tergoda untuk menghakimi secara negatif para pendosa itu, dengan demikian tergoda untuk membuat diskriminasi atau pengecualian diri dari kedosaan orang lain (mereka koruptor laknat, aku bukan). Teks Injil Lukas ini menjadi penjelasan bagi sabda Kristus “Jadilah sempurna seperti Bapamu sempurna” yang dibacakan kemarin lusa. Mereka yang murah hati seperti Bapa yang murah hati, juga terhadap orang jahat dan yang tak tahu bersyukur (kafir), adalah mereka yang sempurna seperti Bapa yang sempurna

Kemurahan hati seperti itu tidak berangkat dari arogansi; maka, solidaritas Kristus pun tidak dilandasi oleh arogansi bahwa Dia manusia tak berdosa yang punya privilese dibanding manusia lain. Kristus tetap dijadikan dosa, dalam arti, Dia pun hidup di tengah-tengah keberdosaan manusia, ikut menanggung akibat situasi keberdosaan itu. Solidaritas dan bela rasa-Nya muncul karena fokus pada proyek keselamatan Allah bagi umat manusia.

Bacaan pertama menyodorkan sikap pertobatan yang inklusif. Meskipun yang bikin kacau itu para pemimpin dan raja-raja yang gila harta, hormat dan kuasa, rakyat tetap menyadari bahwa mereka bagian dari situasi keberdosaan. Maka, hanya Allah yang benar dan mereka semua sebagai umat Allah digerakkan untuk bertobat, yaitu bersama-sama membangun solidaritas untuk mewujudkan proyek kebersamaan Allah.

Jadi, koruptor memang njelehi, politikus busuk itu nggilani, tapi aku juga toh njelehi dan nggilani seberapapun kadarnya. Maka dari itu, daripada fokus ke aneka cacat kekurangan itu, ayo tobat wae… bukan pertama-tama untuk mengurangi dosanya, melainkan untuk membangun dunia yang nyaman dihuni semua makhluk.

2 replies

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s