Faith: Personal, Not Private

Konon, yang paling berpeluang menyakiti kita ialah justru orang-orang yang kepadanya kita menaruh kepercayaan, pihak-pihak yang kita andaikan paling memahami diri kita. Artinya, itu terjadi dalam kerangka relasi. Tak ada pengkhianatan tanpa relasi, tanpa komitmen. Berarti, komitmen dan relasi itu memuat potensi pengkhianatan. Pada kenyataannya, pengkhianatan Yudas dimulai pada saat mereka sedang mengadakan perjamuan terakhir. Mereka yang berkhianat, melakukannya dalam komunitas: keluarga, pertemanan, Gereja… Pengkhianat itu tak jauh dari diri kita, jika bukan diri kita sendiri! Dalam persekutuanlah ada peluang pengkhianatan. Bentuk lunak pengkhianatan ialah apa yang dilakukan Petrus: menyangkal persekutuan, relasi, komunitas, komitmen. Di luar itu, tak ada.

Bacaan Injil hari ini ada dalam lingkup diskursus Yesus yang memiliki perhatian luar biasa terhadap kelompok para rasul. Ia mengerti bahwa masa ajalnya kian mendekat. Perasaannya mungkin galau tingkat dewa (karena dia laki-laki) dan memuat kontradiksi: mati tak mau, tapi juga gak mau lari dari masalah. Dalam situasi itu, ia tetap mencurahkan perhatian pada pembangunan komunitas para rasulnya. Pesannya jelas bagi mereka: menjadi saksi dengan hidup saling mengasihi.

Eh, lha kok dalam situasi itu ndelalahnya iblis ya masih mak sliwer dan njawil Yudas. Penulis Yohanes menunjukkan suatu ironi: para murid lainnya berpikir bahwa Yudas pergi demi urusan komunitas. Para murid yang tak berkhianat itu memiliki titik acuan komunitas. Mereka percaya bahwa anggota kelompok kecil itu semua memiliki komitmen pada kepentingan komunitas seutuhnya. Jebulnya ya enggak! Nah, dari kelompok yang tak berkhianat pun masih ada yang menunjukkan tanda-tanda benih pengkhianatan terhadap pimpinan, kepemimpinan, bahkan persekutuan komuniternya.

Karakter manakah yang mengkhianati Yesus secara lebih ‘halus’ itu? Yaitu dia yang begitu aktif dengan kata-katanya (menulis blog misalnya, hiksss), dengan aneka doa dan puji-pujian, begitu hiperbol dengan niat sucinya, tetapi dorongannya muncul karena semangat kompetitif. Orang seperti ini mengira bahwa relasi iman bisa diklaim dengan kata-kata. Lebih dari itu, penyangkal Yesus sebagai pimpinan komunitas itu hendak menempatkan dirinya paling tinggi di antara yang lain. Artinya, ia ingin menempatkan diri di atas komunitas, alias di luar komunitas. Padahal, iman tak klop dengan kompetisi.

Sebagaimana nalar yang wajar sulit memahami mengapa orang yang melakukan semata kebaikan justru dicederai, mengapa Yudas ya tega-teganya menyerahkan Yesus, mengapa Petrus sampai hati menyangkal pribadi yang sungguh memperhatikan jiwa Petrus sendiri, begitulah hidup dalam iman: mesti masuk dalam persekutuan, dalam kebersamaan. Maka dari itu muncul agama. Akan tetapi, begitu masuk dalam kebersamaan itu, orang segera bisa merasakan kebingungan: tak jelas, bahkan meskipun sudah ada hirarki yang sangat strict seperti Gereja Katolik Roma.

Setiap orang bisa bertindak seturut wudelnya sendiri, seturut disposisi batin yang dimilikinya dan ini seolah membuatnya punya legitimasi untuk menghayati iman sebagai kegiatan wiraswasta: asal ada uang, bikin Gereja aja sendiri. Orang mengira bahwa iman adalah urusan pribadi (personal) dan celakanya pribadi diidentikkan dengan privat. Lihatlah reality show yang ada di ranah publik: mereka mengumbar urusan pribadi orang sedemikian rupa sehingga orang tidak lagi mengerti mana yang privat dan mana yang publik. Iman yang melandasi Petrus saat itu adalah iman reality show, mau menunjukkan dirinya sebagai sosok yang pantas diakui publik… padahal, relasi pribadinya dengan Yesus sendiri rapuh dan kerapuhannya itu terjadi karena ia hanya mengandalkan diri sendiri dan memandang sebelah mata pribadi-pribadi lain dalam komunitas yang sedang dibangun Yesus sendiri. Oalah, Petrusku sayang, Petrusku malang!

Santa Teresa de Lisieux bilang, Petrus ini mencari dukungan dari dirinya sendiri alih-alih mengandalkan kekuatan kebaikan Tuhan. Santa kecil ini yakin kalau saja Petrus secara rendah hati minta kepada Yesus, “Aku mohon, berilah aku keberanian untuk mengikutimu sampai mati” ia niscaya segera mendapatkan keberanian itu… sehingga takkan pernah menyangkal Yesus.


HARI SELASA DALAM PEKAN SUCI B/I
31 Maret 2015

Yes 49,1-6
Yoh 13,21-33.36-38

Posting Tahun Lalu: The Way Of The Wisdom

2 replies