The Way Of The Wisdom

SELASA DALAM PEKAN SUCI

Yes 49,1-6
Yoh 13,21-33.36-38

Dalam Kristus terpenuhi nubuat Yesaya mengenai Hamba Yahwe yang harus menderita. Menariknya, Dia pun mengetahui saat-Nya sudah ada di ambang dan tampaknya Yesus juga galau: ia tahu bahwa plot kisah sengsaranya akan segera dimulai. Ia memang mampu menyelami hati manusia lebih baik daripada yang lain (bdk. nubuat nabi Elisa pada 2Raj 8,12). Post factum: Yesus memberikan peringatan kepada Yudas akan niat yang hendak dijalankannya dan ndelalahnya yang diisyaratkannya akan berkhianat memang Yudas (Ia tidak mewartakan siapa pengkhianatnya, Ia hanya memberi isyarat… apa Yesus gak berani terus terang ya? Haha…tentu Sang Kebijaksanaan tidak mengambil langkah itu karena alasan lainnya: lha wong di situ ada Petrus yang meletup-letup membelanya; apa gak ya nanti malah Yudas dihabisi… batal dong misi penyelamatan Hamba Yahwe!).

Para murid membaca kegalauan guru mereka tetapi mereka belum bisa menebak arah pembicaraan guru mereka. Bahkan ketika Yesus memberikan roti kepada Yudas, mereka belum ngeh bahwa Yudas akan berkhianat. Tindakan Yesus seolah mau menyatakan ungkapan supaya orang tidak membenci musuh, tetapi bahkan memberi makan kepada musuh yang lapar. Tindakan ini tidak membuat Yudas terbangun atas niat buruknya, tetapi justru membuatnya kesetanan. Ia pergi untuk menjalankan plotnya, sementara para murid mengira Yudas mau membeli kebutuhan mereka. Maklum, Yudas adalah bendahara kelompok rasul Kristus itu.

Dalam kegalauan rohaninya, Yesus memberi peneguhan kepada para rasul: Ia tidak akan lama lagi bersama mereka di dunia ini dan jalan untuk mengikutinya akan sangat-sangat-sangat sulit sekali banget!

Petrus yang selalu berapi-api itu menyatakan tekadnya, tetapi untuk kali kedua Yesus menubuatkan inkonsistensi Petrus: ia akan menyangkal Kristus tiga kali sebelum ayam berkokok. Betapa sulitnya memahami jalan Sang Kebijaksanaan, apalagi mengikuti-Nya di dunia ini: bukan apa-apa, karena jalan Sang Kebijaksanaan ini menuntut penderitaan sebagaimana sudah dinubuatkan oleh Nabi Yesaya mengenai Hamba Yahwe yang menderita tadi. Seberapa serius orang mau memilih jalan susah dan penderitaan untuk konsisten pada panggilan ilahinya? Sebagian orang bahkan malah memakai penderitaan dan kejahatan untuk menyangkal dirinya sebagai manusia tercipta dan meniadakan Allah penciptanya.

1 reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s