Kerendahan Hati (1)

Analog dengan tiga golongan orang, Ignasius menyodorkan tiga macam kerendahan hati yang juga merupakan tiga tingkatan mencinta sebagai manusia. Kata “human” dalam bahasa Inggris berakar pada kata Latin humus yang berarti tanah, dan dengan demikian kerendahan hati (humility) juga memiliki akar yang sama dengan kata manusia atau manusiawi.

Orang yang manusiawi adalah orang yang rendah hati sebagai ciptaan, yang berasal dari ‘tanah’ dan kelak kembali ke ‘tanah’ juga. Bagaimana orang hidup secara manusiawi bergantung dari bagaimana menghayati cintanya dalam kesadaran akan keterciptaannya itu. Karena itu, Ignasius meletakkan kerendahan hati dalam hubungannya dengan cinta.

Tipe kerendahan hati yang pertama bisa dipahami dengan mengaitkan cinta dan kebaikan. Orang-orang yang rendah hati dalam tipe pertama ini adalah mereka yang memang memiliki integritas sebagai makhluk ciptaan. Sadar bahwa ia adalah makhluk ciptaan, ia menghargai bahwa Allah adalah segala-galanya, yang berkuasa atas dirinya, tetapi juga atas diri ciptaan lainnya. Oleh karena itu, orang yang punya kerendahan hati tipe pertama ini memang hidupnya baik. Ia menjunjung tinggi moralitas dan memahami etika yang pantas diperjuangkan manusia supaya bisa menciptakan dunia yang lebih nyaman dihuni.

Orang-orang dalam tipe kerendahan hati ini sungguh-sungguh punya komitmen terhadap standar moral yang tinggi, tetapi hanya dalam satu dua wilayah kehidupan tertentu; justru karena mengakui bahwa manusia punya kerapuhan dan keterbatasan. Misalnya, saking begitu menghargainya modernitas, orang bisa mengeksploitasi sumber daya alam, bukan dengan tujuan buruk untuk merusak alam, melainkan dengan maksud baik supaya anak cucu bisa menjalani hidup tanpa kesusahan seperti yang dialaminya. Bukankah ini niat mulia?

Tentu saja, karena cintanya, orang ingin membahagiakan orang-orang dekatnya. Ini sungguh-sungguh bukan kejahatan. Sebaliknya, itu adalah kebaikan yang menjadi kecenderungan setiap umat manusia: ia ingin orang-orang yang dicintainya mengalami kebahagiaan hidup. Orang tua yang begitu penuh kasih terhadap anak-anaknya bisa membanting tulang dengan tekun bekerja, dan mungkin mengatur waktu sedemikian rupa, sehingga mereka mampu memenuhi tidak hanya kebutuhan material, tetapi juga kebutuhan mental anak-anak mereka. Orang tua ini bisa bekerja sebagai buruh kasar, sebagai guru, sebagai pegawai negeri, sebagai pebisnis, sebagai pejabat, sebagai wakil rakyat, dan sebagainya.

Poinnya, orang-orang yang rendah hati dalam tipe ini benar-benar orang yang baik, yang berusaha bukan hanya mempertahankan standar hidup, melainkan juga menaikkan standar hidup dengan segala upaya dan kerja keras mereka. Cinta akan kebaikan ini mencirikan orang yang punya kerendahan hati tipe pertama dalam tipologi Santo Ignasius. Jadi, kalau orang menjawab pertanyaan secara sadar bahwa ia menginginkan kehidupan yang baik, yang tertata secara etis, ia menunjukkan dirinya sebagai orang yang rendah hati…dalam golongan pertama.

To be continued…

4 replies

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s