Kerendahan Hati (3)

Gak ada orang yang tau-tau menghayati kerendahan hati tipe ketiga tanpa dasar tipe pertama dan tipe kedua kerendahan hati. Ya ada sih, tapi itu cuma imitasi, keliatan dari luarnya doang, isinya bukan kerendahan hati!

Tipe pertama adalah pondasi: pengakuan akan kontingensi diri. Halah…kontingensi itu apa seh? Mbok pakai kata itu yang sederhana aja kenapa? Ya itu dah sederhana, artinya sifat kontingen: sifat tidak mutlak dalam keberadaannya. Ia bisa ada, bisa juga tidak ada. Semua ciptaan ini kontingen: bisa ada, bisa gak ada. Orang yang kemarin sore asyik ngobrol dengan kita, tahu-tahu pagi tadi sudah gak ada alias meninggal. Dinosaurus yang hidup sebelum zaman Majapahit itu pernah ada, katanya, lalu gak ada lagi.

Kalau orang gak mengakui kontingensi dirinya, entah sadar atau tidak, ia mau menyatakan dirinya kekal: gak bisa diciptakan, gak bisa dimusnahkan; pokoknya ia ada terus. Orang seperti ini hidup dalam ilusi (seolah-olah pribadinya adalah energi yang tak bertulang-berdarah-berdaging-berkulit), rasionalisasi, dan aneka macam argumentasi yang intinya mau menolak adanya Tuhan Sang Pencipta. Jelaslah ia gak punya disposisi kerendahan hati. Humility is nothing but the disappearance of self in the vision that God is all ― Andrew Murray, Humility: The Journey Towards Holiness.

Kalau orang konsisten dengan pengakuan itu, ia juga akan menghidupi moralitas dan memegang etika sosial yang tinggi demi kebaikan seluruh ciptaan. Setidaknya ia punya niat baik untuk mengusahakan kebaikan di dunia ini, dan kebaikan itu asalnya dari Tuhan yang bekerja juga melalui niat baiknya (orang tak ber-Tuhan menganggap kebaikan itu munculnya dari usaha dan kuasa manusia sendiri).

Akan tetapi, semua orang tahu, niat baik aja gak cukup. Orang bisa berpikir bahwa modernitas diusahakan demi kemudahan dan kenyamanan hidup manusia, karena manusia adalah makhluk ciptaan tertinggi. Boleh saja begitu, tapi lihat apakah eksploitasi terhadap alam ini ujung-ujungnya membuat nyaman hidup manusia atau malah merepotkan di kelak kemudian hari? Manusia nemu pesawat, bahan bakar, mobil, kereta dan lain-lain. Itu baik, tapi sumber alam kan ada batasnya. Lha kalau akhirnya keseimbangan alam terancam (apalagi kalau usaha modernitas itu secara langsung mengakibatkan tragedi kemanusiaan: manusia lumpur misalnya!), apa ya orang mau ngotot bahwa dia sedang melakukan kebaikan? Ini nanti ujung2nya soal jumlah: kebaikan untuk siapa dan keburukan untuk siapa.

Di situlah letak relevansi kerendahan hati tipe kedua: orang mesti secara lapang dada menerima bahwa apa yang dianggapnya baik belum tentu secara objektif sungguh-sungguh baik. Jadi, orang perlu punya sikap lepas bebas, detachment, terhadap aneka hal yang dianggapnya sebagai sarana yang baik untuk pengabdiannya kepada Allah.
Kerendahan hati tipe ketiga adalah kelanjutan dari dua disposisi tadi: tak cukuplah kebaikan dan detachment; orang mesti memilih sakit, kemiskinan, penderitaan, penghinaan, bukan demi kemiskinan (sakit dll)-nya itu sendiri, melainkan demi tujuan akhir kebaikan.
Loh, mosok trus semua orang diminta jadi miskin, siapa yang kaya dong? Ya bukan gitu, kan ada catatan: demi tujuan akhir. Lha, kalau orang memilih miskin tapi malah tujuan akhir tak tercapai, ya jangan pilih kemiskinan dong! Itulah yang dimaksudkan kalimat pertama tadi: gak ada orang rendah hati bertipe ketiga tanpa dasar dua tipe sebelumnya! Ia bisa aja berlagak miskin dan sakit, tapi hatinya menggerutu atau tujuannya mengelabui orang lain. Itu jelas bukan kerendahan hati!
Jadi tolok ukurnya jelas: memilih penderitaan, kesusahan, kemiskinan hanya jika hal itu lebih membantu orang mencapai tujuan yang termaktub dalam azas dan dasar!

Contoh kerendahan hati tipe ketiga juga jelas: Yesus Kristus! Ia memilih penderitaan bukan demi menderitanya sendiri (karena penderitaan pun hanyalah sarana).

the-passion-1471Wah…lha siapa yang sanggup mengikuti Kristus seperti itu? Lha tentu siapa aja yang maulah! Problemnya, lebih banyak orang yang gak mau mengikuti Kristus. Dibaptis sih dibaptis, tapi boro-boro kerendahan tipe kedua, kerendahan tipe pertama pun tak digubrisnya.

Panggilan kerendahan hati tipe ketiga ini berlaku bagi semua orang. Tiga kerendahan hati ini juga bersifat dinamis. Bukan berarti orang yang sudah memeluk kerendahan hati tipe ketiga lantas dia punya kerendahan hati tipe ketiga untuk segala-galanya. Panggilan kerendahan hati ini berlaku pada setiap momen kehidupan. Setiap disodori pilihan, orang bisa bertanya: apakah aku sedang mengejar kebaikan bagi semua, apakah aku lepas bebas, dan apakah aku mau mengambil jalan yang sulit demi cinta universal? Kalau semuanya dijawab positif, tiga kerendahan hati terlampaui.

Jawaban pertanyaan ketiga memang menjadi tolok ukur kerendahan hati ketiga, apakah seseorang mau mengambil jalan penderitaan untuk pengabdiannya kepada Allah. Penderitaan adalah unsur penting dalam passion yang dimiliki seseorang untuk menghidupi sesuatu. Orang yang punya kerendahan hati ketiga memiliki passion, greget, hasrat bernyala atas pilihannya untuk sungguh hidup sesuai dengan azas dan dasar. Dalam diri orang seperti ini, kerohaniannya begitu membara dan bisa menjadi inspirasi bagi sesama untuk memuliakan Tuhan lewat pekerjaan-pekerjaannya.

7 replies

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s