Good Friday: The Turning Point

Orang yang sangat jengkel pada lalat yang selalu terbang mengganggu wajahnya mungkin tak puas sekadar menggebuk lalat itu sampai tak bisa terbang lagi. Ia bisa menginjak-injak lalat tak berdaya itu sampai rata dengan lantai. Puas!!! Begitulah Yesus disalibkan: sehina-hinanya orang, tak ada yang lebih hina daripada Yesus yang sudah tak berdaya dengan aneka penyiksaan dan dihabisi di kayu salib! Bagi sebagian orang, mungkin sebagian besar, salib tampak sebagai titik nadir penghinaan, perendahan, kekalahan, penyingkiran, pemusnahan, pengecilan, peniadaan.

Akan tetapi, seperti dinubuatkan Yesaya, salib itu justru adalah pemuliaan maksimal: semulia-mulianya orang, tak ada yang lebih mulia daripada Yesus yang menyerahkan nyawanya bagi sahabat-sahabatnya. Meskipun diserang oleh aneka wujud kejahatan dalam diri manusia yang mengelilinginya, Hamba Yahwe ini justru memikirkan keselamatan mereka. Para ahli taurat, kaum farisi, imam kepala kiranya begitu yakin telah membuktikan bahwa Yesus bukanlah Putera Allah: kalo iya, pasti dia mampu turun dari salib dong!

Akan tetapi, Yesus menunjukkan diri sebagai Putera Allah justru karena dia bukan seperti yang mereka pikirkan! Yesus mengambil tindakan bukan sebagaimana mereka kiranya bertindak. Orang kerap kali mengukur kebaikan dan kuasa Allah dengan parameter seberapa jauh Dia mengatasi penderitaan dan tragedi manusia, baik tragedi individual maupun kolektif: bagaimana Ia mampu menyembuhkan penyakit seseorang, bagaimana Ia bisa mencegah genocide, bagaimana Ia dapat memenangkan kasus manusia lumpur, manusia perahu, korban pelecehan seksual, dan sebagainya. Singkatnya, orang mau mengambinghitamkan Allah atas tragedi kemanusiaan, melemparkan tanggung jawab kepada-Nya.

Jumat Agung mengundang orang untuk melihat salib sebagai titik balik perubahan radikal mentalitas manusia yang mau menolak tanggung jawab atas apa saja yang berbau penderitaan, kejahatan, dan kematian. Jumat Agung juga menunjukkan teladan kerendahan hati tipe ketiga: merendahkan diri sendiri, menaikkan mutu bonum commune. Inilah style yang ditawarkan Yesus, imam Perjanjian Baru yang disebutkan dalam Surat kepada Orang Ibrani.

Kristus yang tersalib merangkum Cinta yang hendak dikomunikasikan Allah kepada manusia. Itulah cinta sejati, yang tak membiarkan dirinya dikungkung oleh aneka roman-romanan sehingga pantaslah orang menanyakan kepada dirinya di hadapan Kristus yang tersalib itu: apa yang sudah kuperbuat bagi-Nya, apa yang sedang kuperbuat bagi-Nya, dan apa yang akan kuperbuat bagi-Nya…

JUMAT AGUNG

Yes 52,13-53,12
Ibr 4,14-16;5,7-9
Yoh 18,1-9,42

1 reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s