Kerendahan Hati (2)

Kerendahan hati tipe pertama mengandaikan suatu cinta akan kebaikan yang muncul karena pengakuan bahwa manusia itu diciptakan Tuhan. Orang ngaku bahwa dirinya adalah makhluk ciptaan, dan juga ngaku bahwa yang menciptakan dirinya, yaitu semesta ini, adalah Tuhan. Tanpa pengakuan dua hal ini, orang tidak masuk dalam kerendahan hati sebagai makhluk Tuhan (yang berasal dari tanah dan kembali ke tanah). Sinkron dengan hal itu, diandaikan juga dalam hidup manusiawi: kalo’ orang percaya Tuhan itu maha baik, kebaikan itu mesti terwujud dalam kehidupan ini dong. Maka, secara ‘instingtif’ orang juga mengupayakan kebaikan dirinya sendiri dan syukur-syukur orang-orang di sekitarnya.

Kerendahan hati tipe kedua mengangkat tipe pertama ke dalam kesadaran sehingga wujud kerendahan hatinya lebih bisa dipertanggungjawabkan juga secara rasional, tidak terjebak pada ide-ide tradisional mengenai kerendahan hati. Misalnya, meskipun orang bener-bener mau mengupayakan kebaikan orang-orang terdekatnya, ia bisa aja gak sadar bahwa konsepnya tentang kebaikan itu keliru. Ia mungkin pikir bahwa memenuhi apa saja permintaan anak itu baik, atau mungkin kebaikan dalam benaknya ialah menjauhkan keluarganya dari segala kesusahan hidup karena hidup susah itu berarti tidak baik. Ia mungkin berpikir bahwa sakit itu gak ada maknanya dan bertentangan dengan kebaikan. Masyarakat juga bisa memegang teguh bahwa pada umur tertentu otomatis orang harus kawin karena menjadi perawan atau perjaka tua tidaklah baik. Ini adalah paham-paham bawah sadar mengenai kebaikan yang dalam kerendahan hati tipe kedua diangkat dalam kesadaran: ditinjau ulang, dipikir baik-baik, dirasa-rasakan, ditimbang-timbang.

Dalam kerendahan hati tipe kedua, orang mulai melihat bahwa meskipun gak ada orang yang pengen sakit (kecuali orang ‘sakit’), sakit itu sendiri jebulnya punya makna dan bisa jadi berkat. Maklum, Ignasius sendiri justru mendapat insight mengenai pembedaan roh karena pengalaman sakitnya. Tak usah jauh-jauh, mungkin baru ketika seseorang sakit sampai opname di rumah sakit, ia sadar bahwa orang lain ternyata punya perhatian terhadapnya. Orang yang selama ini tak dianggapnya punya perhatian, malah justru yang pertama kali datang menjenguknya.

Dalam kerendahan hati tipe kedua orang sungguh sadar bahwa kekayaan gak isa membeli kebahagiaan; bahwa bahagia itu gak selalu berarti gak ada penderitaan. Bahkan, dalam kemiskinan malah orang bisa menemukan kebebasan untuk menyalurkan energi dengan cara yang lebih inspiratif. Lha iya, kalo’ orang punya harta 5 trilyun dan ia menyumbangkan 5 milyar untuk orang lain, memang sumbangannya besar, tetapi barangkali itu hanya bunga dari seluruh kepemilikannya, tidak mengurangi hartanya sendiri! Ini beda dengan janda miskin dalam perumpamaan yang dikisahkan dalam Injil Matius (12,41-44): ia memberi bukan dari kelimpahan harta, tetapi dari kekurangannya. Dalam kematangan rohani, kerendahan hati tipe kedua ini menyadarkan orang bahwa yang membangun identitas sejati manusia bukanlah prestise duniawi, melainkan relasi cinta; dan relasi cinta dengan Allah menyingkirkan ketakutan orang akan kematian (sehingga berupaya sekuat tenaga untuk memperpanjang usia, memperlambat ketuaan, sebisa mungkin hidup 100 tahun lagi, misalnya).

birds-fly-to-freedom-girl-opening-cage-cool-facebook-timeline-coversKerendahan hati tipe kedua menunjukkan suatu sikap lepas bebas seseorang karena fokusnya adalah tujuan hidup manusia dalam kerangka azas dan dasar. Dengan disposisi ini orang sadar bahwa yang utama dalam hidupnya adalah mengabdi Allah, menghayati lifestyle yang tidak terkungkung oleh sarana-sarana tertentu. Maka dari itu, orang yang rendah hati dalam tipe kedua ini gak akan kesulitan dengan aneka hal yang bisa menjadi sarana: ia tidak anti ini, tidak anti itu; hidupnya gak hancur hanya karena rumahnya ludes terbakar, dikhianati teman, ditipu orang yang tampak baik, sakit, jatuh melarat dan sebagainya.

Akan tetapi, orang ini juga punya sikap positif terhadap usia, kesehatan, kekayaan; ia bisa mengoptimalkan semua talenta yang dimilikinya sebagai mata pencaharian hidupnya; ia tidak menutup-nutupi kompetensi dirinya yang bisa dimanfaatkan untuk tujuan tertentu. Pokoknya, orang dengan kerendahan hati tipe kedua ini menghayati cinta yang lepas bebas. Sikapnya jelas: semua hal bisa menjadi sarana pengabdian kepada Allah, tak perlu terlekat pada sarana tertentu.

to be continued…

4 replies

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s